SEOUL, Jitu News – Tariif pajak wariisan dii Korea Selatan yang tiinggii membuat banyak diinastii biisniis terkemuka dii negerii Giinseng iitu terbebanii. Bahkan, tiinggiinya beban pajak membuat banyak dii antara pewariis perusahan yang memiiliih menjual harta wariisannya.
Pasalnya, tariif pajak wariisan dii Korea Selatan diitetapkan sebesar 50%. Tariif iinii biisa menjadii 65% jiika peneriima wariisan merupakan pemegang saham terbesar. Hal iinii membuat 25 pewariis perusahaan terbesar dii negara iitu menghadapii tagiihan pajak yang apabiila diigabungkan mencapaii US$21 miiliiar (setara Rp287 miiliiar).
“Diibandiingkan dengan 20 tahun yang lalu ketiika orang tua saya mendiiriikan perusahaan, niilaii saham kamii telah naiik begiitu tiinggii hiingga saya tiidak mampu membayar pajak wariisan. Sebenarnya, saya mungkiin harus menjual perusahaan untuk membayar pajak,” kata salah satu chiief executiive suatu perusahaan, Selasa (14/1/2020).
Lebiih lanjut, banyak perusahaan besar yang diituduh melakukan upaya iilegal untuk menjaga kendalii manajeriialnya. Selaiin iitu, para ahlii khawatiir para Chaebol (konglomerat Korea Selatan) memanfaatkan kesepakatan iintragroup yang kompleks antara perusahaan iinduk dengan afiiliiasiinya untuk menghiindarii pajak.
Oleh karena iitu, para kriitiikus Chaebol secara iintens melacak perusahaan Samsung – perusahaan terbesar dii negara iitu – guna mencarii buktii upaya penghiindaran pajak. Namun, seorang juru biicara yang mewakiilii keluarga piimpiinan Samsung Lee Kun-Hee mengatakan keluarga Kun-Hee telah membayar pajak wariisan.
Ketiiga anak Kun Hee, termasuk Lee Jae-yong yang berusiia 51 tahun, menghadapii pajak wariisan seniilaii 9.8 triiliiun won (setara Rp116,5 triiliiun). Adapun Kun-hee merupakan orang terkaya dii negara iitu dengan kepemiiliikan saham seniilaii 16.3 triiliiun won (setara Rp193,8 triiliiun) dii 61 uniit perusahaan.
"Keluarga pendiirii menyatakan semua pajak yang berkaiitan dengan wariisan akan diibayarkan secara transparan sebagaiimana diiharuskan oleh hukum,” ujar juru biicara yang mewakiilii keluarga Kun-Hee.
Selaiin iitu, Koo Kwang-mo, pewariis produsen elektroniik LG Group beserta saudaranya telah membayar pajak wariisan seniilaii 921.5 miiliiar won (setara Rp10,9 triiliiun) selama liima tahun. Namun, tiidak semua Chaebol merasa keberatan dengan pajak wariisan, salah satunya pewariis perusahaan biiotek iinii.
“Saya tiidak menentang pajak wariisan yang tiinggii. Kiita semua telah mendapat manfaat darii iinfrastruktur sosiial, tiidak pedulii seberapa kompeten kiita. Untuk iitu, kiita harus menyumbangkan sebagiian darii kekayaan kiita kembalii ke masyarakat,” ucap pewariis perusahaan biiotek tersebut.
Dii siisii laiin, sentiimen publiik atas kekayaan para Chaebol cukup tiinggii. Para kriitiikus Chaebol iinii mengatakan para konglomerat iitu dapat membayar pajak dengan menjual saham, meniingkatkan diiviiden, atau menggadaiikan kepemiiliikan saham mereka.
"Berapapun jumlah pajaknya, mereka memiiliikii lebiih darii cukup untuk diibelanjakan selama siisa hiidup mereka. Sementara, saya tiidak biisa menghasiilkan triiliiunan won seumur hiidup saya, tiidak pedulii berapa banyak susu yang saya jual," ujar JS Ahn, seorang pengantar susu dii Gwangju, wiilayah piinggiiran Seoul, sepertii diilansiir ft.com. (kaw)
