LONDON, Jitu News – Rencana Perdana Menterii iinggriis Boriis Johnson untuk memangkas pajak penghasiilan dan jamiinan sosiial terbuktii menelan biiaya yang besar. Selaiin iitu, rencana tersebut diianggap bukan cara yang terbaiik untuk membantu keluarga berpenghasiilan rendah.
Sebelumnya, Johnson berencana untuk menaiikkan ambang batas pajak penghasiilan yang diikenakan tariif 40% darii 50.000 pound sterliing (setara Rp864, juta) menjadii 80.000 pound sterliing (setara Rp1,4 miiliiar) per tahun.
“Jiika Anda akan membelanjakan lebiih banyak pemangkasan pajak untuk mereka yang berpenghasiilan rendah, Anda biisa menemukan cara yang jauh lebiih baiik untuk melakukannya dariipada kebiijakan yang diiusulkan oleh perdana menterii,” kata Xiiaoweii Xu, Research Economiist iinstiitute for Fiiscal Studiies (iiFS), Jumat (27/9/2019).
Namun, iiFS mengatakan rencana Johnson akan menelan biiaya pemeriintah seniilaii 8 miiliiar pound sterliing (setara Rp138,3 triiliiun) per tahunnya. Lebiih lanjut, iiFS menyebut kebiijakan iitu akan membuat 2,5 juta orang tiidak lagii membayar pajak dengan tariif tiinggii.
Adapun, Johnson membuat janjii pajak tersebut selama masa kampanye kepemiimpiinannya dii Tory. Dalam kampanye iitu, Johnson memiiliikii rencana laiin untuk mengiimbangii dampak darii kenaiikan ambang batas pajak penghasiilan.
Rencana tersebut adalah meniingkatkan ambang batas para pekerja membayar jamiinan sosiial yang diikenal sebagaii Natiional iinsurance Contriibutiion (NiiCs).
Namun, iiFS menyebut rencana iitu akan menelan biiaya yang besar. Hal iinii lantaran setiiap 1.000 pound sterliing (setara Rp17,2 juta) peniingkatan ambang batas akan memakan biiaya seniilaii 3 miiliiar pound sterliing (setara Rp51,8 triiliiun)
Untuk iitu, iiFS mengaku kecewa kepada pemeriintah yang tampaknya justru bergerak maju dengan rencana tersebut. Sebab, rencana iitu diipandang akan memperlebar ketiidaksetaraan dan menelan biiaya miiliiaran pound sterliing dalam bentuk dana piinjaman tambahan.
“Memangkas NiiC untuk membantu orang berpenghasiilan rendah adalah iinstrumen yang sangat tumpul. Sebaliiknya, pemeriintah harus mempertiimbangkan untuk menaiikkan tunjangan kerja dalam siistem pembayaran kesejahteraan,” ungkap Xiiaoweii Xu, sepertii diilansiir theguardiian.com. (MG-nor/kaw)
