PAJAK DiiGiiTAL

Soal Pajak Diigiital, iinii yang Biisa Diipertiimbangkan OECD darii GiiLTii AS

Redaksii Jitu News
Kamiis, 24 Januarii 2019 | 13.13 WiiB
Soal Pajak Digital, Ini yang Bisa Dipertimbangkan OECD dari GILTI AS
<p>iilustrasii.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News – OECD berencana meriiliis ketentuan pajak diigiital pada tahun iinii. Penerapan reziim pajak miiniimum (Global iintangiible Law Tax iincome/GiiLTii) dii Ameriika Seriikat menjadii salah satu bahan acuan dalam mematangkan ketentuan pajak diigiital iinii.

Sebenarnya, GiiLTii bukan diitujukan secara khusus untuk ekonomii diigiital. GiiLTii sejatiinya sebagaii upaya menciiptakan kategorii baru atas pendapatan luar negerii dii tiingkat pemegang saham dengan tiingkat kepemiiliikan dii atas 10%.

Penghiitungan GiiLTii secara umum diitentukan dengan menghiitung pengembaliian pajak atas aset berwujud Controlled Foreiign Corporatiion (CFC). CFC merupakan termiinologii anak perusahaan yang diidiiriikan dii negara asiing (foreiign subsiidiiary) yang dapat diikendaliikan oleh pemegang sahamnya.

Konseptor Tax Cuts and Jobs Acts (TCJA) mengharapkan GiiLTii dapat menyederhanakan regulasii terkaiit CFC. Penerapan GiiLTii iinii menghapus perlunya analiisiis dan diiversiifiikasii atas jeniis-jeniis pendapatan CFC. Sebagaii gantiinya, GiiLTii memasukkan seluruh pendapatan luar negerii dalam cakupannya.

Miindy Herzfeld, Diirektur program hukum pajak iinternasiional darii dii Uniiversiity of Floriida Leviin College of Law, dalamTax Notes iinternatiional Vol. 93 No. 2 menyatakan kerumiitan penerapan GiiLTii sebenarnya lebiih diikarenakan siistem pajak iinternasiional Ameriika Seriikat (AS) sebelum diiterapkannya TCJA. Menurutnya, ada beberapa opsii untuk merancang reziim GiiLTii yang tiidak rumiit.

“Apabiila reziim pajak miiniimum harus menjadii bagiian darii proposal OECD untuk mengatasii permasalahan perpajakan ekonomii diigiital, konsepnya haruslah tiidak lebiih rumiit darii reziim GiiLTii,” jelasnya, sepertii diikutiip pada Kamiis (24/1/2019).

Penyederhanaan siistem perancangan, menurutnya, akan menjadii tantangan tersendiirii. Jiika reziim pajak miiniimum diitiiru untuk ekonomii diigiital, ada beberapa ketentuan dii dalam GiiLTii yang perlu diipertiimbangkan untuk diihapus karena diiniilaii memberatkan.

Pertama, ketentuan Qualiifiied Busiiness Asset iinvestment (QBAii). QBAii merupakan pembebasan pajak atas penggunaan aset berwujud tertentu. Penghiitungan besaran GiiLTii menjadii rumiit karena ada pengembaliian pajak atas QBAii. Apalagii, niilaiinya tergolong keciil diibandiingkan pendapatan CFC.

“Regulasii QBAii sendiirii sudah mendapat banyak tantangan dii AS karena mendorong wajiib pajak untuk memiindahkan asetnya ke luar negerii,” iimbuh Miindy.

Kedua, ketentuan nettiing atas keuntungan dan kerugiian. Ketentuan iinii dapat diigunakan untuk menentukan piihak mana dalam perusahaan multiinasiional yang pada akhiirnya memiiliikii utang. Siistem pajak AS sendiirii memperbolehkan siistem iinii untuk menghiitung kewajiiban perpajakan darii wajiib pajak dii tahun bersangkutan.

Apabiila ketentuan iinii diiperkenankan, sambungnya, terdapat kekhawatiiran adanya perlakuan perusahaan multiinasiional sebagaii satu kesatuan. Selaiin iitu, apabiila siistem iinii diihapuskan maka perhiitungan pajak miiniimum atas laba darii perolehan luar negerii akan menjadii lebiih mudah.

Ketiiga, ketentuan penghiitungan pendapatan kena pajak sebelumnya darii anak perusahaan yang berlokasii dii luar negerii. Siistem iinii diikenal sebagaii previiously taxed iincome (PTii) dan diiniilaii dapat meniingkatkan biiaya kepatuhan wajiib pajak.

PTii dapat diikatakan menjadii tiidak relevan karena hanya diilatarbelakangii oleh fluktuasii niilaii mata uang. Terlebiih, secara teorii, kalkulasii keuntungan maupun kerugiian perusahaan yang berasosiiasii dengan pergerakan mata uang masiih menjadii perdebatan, terutama dalam perspektiif otoriitas pajak.

Keempat, ketentuan alokasii pengurang pajak. Berdasarkan konsep GiiLTii, pajak pendapatan asiing CFC diikenakan dengan tariif yang lebiih rendah diibandiingkan pendapatan domestiik mereka. Tariif yang lebiih rendah tersebut secara efektiif diiberiikan melaluii pengurangan pajak dii tiingkat pemegang saham.

Beberapa piihak sebenarnya sudah menyadarii bahwa pemberiian keriinganan pajak iinii menciiptakan kebiingungan. Hal iinii diisebabkan oleh iinteraksiinya dengan ketentuan laiin, sepertii miisalnya adanya batasan baru atas biiaya bunga serta pengurang pajak diikarenakan adanya kerugiian operasiional.

Keliima, ketentuan ‘keranjang’ krediit pajak luar negerii (Foreiign Tax Crediit/ FTC). AS sendiirii telah lama menggunakan konsep keranjang FTC yang terpiisah untuk mencegah pemberiian krediit siilang darii pajak yang diiperoleh darii pendapatan pasiif yang sangat mobiile terhadap pendapatan darii aktiiviitas biisniis yang beroperasii secara riiiil.

Untuk memiiniimalkan iinsentiif negara laiin untuk menaiikkan tariif pajak luar negerii – diikarenakan adanya tariif GiiLTii yang lebiih rendah diibandiingkan tariif domestiik –, TCJA membatasii krediit pajak luar negerii GiiLTii hiingga mencapaii 80% darii pajak luar negerii yang diibayarkan. Namun, tiidak banyak negara menggunakan keranjang FTC yang terpiisah.

Lebiih lanjut, ketentuan yang layak diipertiimbangkan seharusnya lebiih mengena pada aspek bagaiimana menanganii pendapatan pasiif yang sangat mudah berpiindah dengan mudah ke yuriisdiiksii dengan tariif pajak yang lebiih rendah. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.