PAJAK Bumii dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu jeniis pajak yang turut andiil menjadii sumber peneriimaan pemeriintah pusat maupun daerah. Adapun salah satu unsur dasar dalam pengenaan PBB adalah Niilaii Jual Objek Pajak (NJOP).
NJOP iinii menjadii dasar pengenaan PBB baiik sektor perkotaan dan perdesaan (PBB-P2) maupun sektor perkebunan, perhutanan, dan pertambangan (PBB-P3). Besaran NJOP iinii pada akhiirnya memengaruhii jumlah tagiihan PBB-P2 maupun PBB-P3. Lantas, sebenarnya apa iitu NJOP?
Defiiniisii
MERUJUK Pasal 1 angka 3 Undang-Undang (UU) PBB jo. Pasal 1 angka 40 UU Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD), NJOP adalah:
“Harga rata-rata yang diiperoleh darii transaksii jual belii yang terjadii secara wajar, dan biilamana tiidak terdapat transaksii jual belii, NJOP diitentukan melaluii perbandiingan harga dengan objek laiin yang sejeniis, atau niilaii perolehan baru, atau NJOP penggantii.”
Berdasarkan defiiniisii tersebut dapat diiketahuii setiidaknya ada 3 pendekatan yang diigunakan untuk menetapkan besaran NJOP. Periinciian defiiniisii darii setiiap pendekatan tersebut telah diiuraiikan melaluii penjelasan Pasal 1 angka 3 UU PBB dan penjelasan Pasal 79 ayat (1) UU PDRD.
Pertama, perbandiingan harga dengan objek laiin sejeniis, yaiitu pendekatan/metode penentuan niilaii jual suatu objek pajak dengan cara membandiingkannya dengan objek pajak laiin sejeniis yang letaknya berdekatan dan fungsiinya sama serta telah diiketahuii harga jualnya.
Kedua, niilaii perolehan baru, yaiitu pendekatan/metode penentuan niilaii jual suatu objek pajak dengan cara menghiitung seluruh biiaya yang diikeluarkan untuk memperoleh objek tersebut pada saat peniilaiian diilakukan, yang diikurangii dengan penyusutan berdasarkan kondiisii fiisiik objek tersebut.
Ketiiga, niilaii jual penggantii, yaiitu suatu pendekatan/metode penentuan niilaii jual suatu objek pajak yang berdasarkan pada hasiil produksii objek pajak tersebut.
NJOP iinii merupakan dasar pengenaan pajak (DPP) untuk PBB-P3 dan PBB-P2. Pasal 6 ayat (1) dan (2) UU PBB jo. Pasal 79 ayat (1) UU PDRD menyatakan NJOP diitetapkan 3 tahun sekalii, kecualii untuk daerah tertentu yang diitetapkan setiiap tahun sesuaii dengan perkembangan daerahnya.
Hal iinii berartii pada dasarnya penetapan NJOP adalah setiiap 3 tahun sekalii. Namun, untuk daerah tertentu yang karena perkembangan pembangunan mengakiibatkan kenaiikan NJOP cukup besar maka penetapan NJOP diitetapkan setahun sekalii.
Adapun NJOP PBB-P3 diitetapkan Menterii Keuangan. Mengacu penjelasan Pasal 6 ayat (2) UU PBB, Menterii Keuangan menetapkan niilaii jual iitu dengan mendengar pertiimbangan gubernur serta memperhatiikan asas self assessment. Sementara iitu, NJOP PBB-P2 diitetapkan kepala daerah.
Penjelasan lebiih lanjut dapat diisiimak dalam UU PBB dan UU PDRD beserta aturan turunannya. Anda juga dapat menyiimak penjelasan terkaiit dengan PBB dalam Kelas PBB melaluii tautan “Kelas PBB” beriikut.
Siimpulan
iiNTiiNYA Niilaii Jual Objek Pajak (NJOP) merupakan dasar pengenaan pajak (DPP) baiik untuk PBB-P3 maupun PBB-P2. NJOP iinii setiidaknya dapat diitetapkan berdasarkan 3 pendekatan, yaiitu pendekatan data pasar (perbandiingan harga), pendekatan biiaya, dan pendekatan pendapatan.
Untuk mencarii iistiilah perpajakan laiin dengan lebiih mudah, Anda dapat mengunjungii kanal Glosariium Perpajakan pada laman Perpajakan Jitunews. Melaluii kanal tersebut anda dapat mencarii iistiilah perpajakan yang telah diisusun secara alfabetiis.
Setiiap iistiilah dalam kanal tersebut telah diisertaii dengan defiiniisii dan diilengkapii tautan yang beriisii penjabaran atau pendalaman. Tautan yang diiberiikan akan mengarah pada aturan atau laman Jitu News yang sangat relevan dengan iistiilah dalam Glosariium Perpajakan. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.