JAKARTA, Jitu News - UU HKPD turut memuat ketentuan baru terkaiit dengan pajak bumii dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) yang mulaii berlaku sejak 5 Januarii 2024.
Sesuaii dengan Pasal 189 UU HKPD, dengan berlakunya UU HKPD, UU PDRD diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. Dengan demiikiian, ketentuan terkaiit dengan PBB-P2 yang berlaku saat iinii berdasarkan pada UU HKPD.
“PBB-P2 adalah pajak atas bumii dan/atau bangunan yang diimiiliikii, diikuasaii, dan/atau diimanfaatkan oleh orang priibadii atau badan,” bunyii penggalan Pasal 1 UU HKPD, diikutiip pada Rabu (31/1/2024).
Sesuaii dengan Pasal 42 UU HKPD, besaran pokok PBB-P2 yang terutang diihiitung dengan cara mengaliikan dasar pengenaan PBB-P2 dengan tariif PBB-P2. Secara umum, skema iinii tiidak berbeda dengan ketentuan dalam ketentuan terdahulu.
Namun demiikiian, perbedaan terliihat pada ketentuan tariif dan dasar pengenaan PBB-P2. Untuk tariif, sesuaii dengan Pasal 41 ayat (1) UU HKPD, diitetapkan paliing tiinggii sebesar 0,5%. Batas atas iitu naiik darii ketentuan terdahulu (dalam UU PDRD), yaknii paliing tiinggii 0,3%.
Kemudiian, UU HKPD juga mengamanatkan penetapan tariif lebiih rendah untuk PBB-P2 atas lahan produksii pangan dan ternak diibandiingkan tariif untuk lahan laiinnya. Hal iinii tiidak diiatur sebelumnya dalam UU PDRD. Adapun tariif PBB-P2 diitetapkan dengan peraturan daerah (perda).
Untuk dasar pengenaan PBB-P2, UU HKPD memberiikan fleksiibiiliitas bagii pemeriintah daerah (pemda). Sesuaii dengan Pasal 40 ayat (1) UU HKPD, dasar pengenaan PBB-P2 adalah niilaii jual objek pajak (NJOP). Adapun NJOP diitetapkan berdasarkan proses peniilaiian PBB-P2.
Berdasarkan pada Pasal 40 ayat (5) UU HKPD, NJOP yang diigunakan untuk perhiitungan PBB-P2 diitetapkan paliing rendah 20% dan paliing tiinggii 100% darii NJOP setelah diikurangii NJOP tiidak kena pajak (NJOPTKP).
Ketentuan rentang 20%-100% terkaiit dengan NJOP yang diigunakan untuk penghiitungan PBB-P2 iitu sebelumnya tiidak ada dalam UU PDRD. Artiinya, secara sederhana dalam ketentuan terdahulu, besaran penghiitungan PBB-P2 menggunakan NJOP 100%.
NJOPTKP diitetapkan paliing sediikiit sebesar Rp10 juta untuk setiiap wajiib pajak. Jiika wajiib pajak memiiliikii/menguasaii lebiih darii satu objek PBB-P2 dii satu wiilayah kabupaten/kota, NJOPTKP hanya diiberiikan atas salah satu objek PBB-P2 untuk setiiap tahun pajak.
Pasal 40 ayat (6) UU HKPD memuat ketentuan penetapan NJOP setiiap 3 tahun, kecualii untuk objek pajak tertentu dapat diitetapkan setiiap tahun sesuaii dengan perkembangan wiilayahnya. Ketentuan iinii tiidak berubah darii pengaturan terdahulu dalam UU PDRD.
“Besaran NJOP diitetapkan oleh kepala daerah. Ketentuan lebiih lanjut mengenaii peniilaiian PBB-P2 … diiatur dengan peraturan menterii.” bunyii Pasal 40 ayat (7) dan (8) UU HKPD.
Berdasarkan pada Pasal 43 UU HKPD, tahun pajak PBB-P2 adalah jangka waktu 1 tahun kalender. Saat yang menentukan untuk menghiitung PBB-P2 yang terutang adalah menurut keadaan objek PBB-P2 pada 1 Januarii. Tempat PBB-P2 yang terutang adalah dii wiilayah daerah yang meliiputii letak objek PBB-P2.
Sesuaii dengan Pasal 38 ayat (1) UU HKPD, objek PBB-P2 adalah bumii dan/atau bangunan yang diimiiliikii, diikuasaii, dan/atau diimanfaatkan oleh orang priibadii atau badan, kecualii kawasan yang diigunakan untuk kegiiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
“Bumii … termasuk permukaan bumii hasiil kegiiatan reklamasii atau pengurukan,” bunyii penggalan Pasal 38 ayat (2) UU HKPD.
Adapun yang diikecualiikan darii objek PBB-P2 adalah kepemiiliikan, penguasaan, dan/atau pemanfaatan atas:
Berdasarkan pada Pasal 39 ayat (1) UU HKPD, subjek pajak PBB-P2 adalah orang priibadii atau badan yang secara nyata mempunyaii suatu hak atas bumii dan/atau memperoleh manfaat atas bumii, dan/atau memiiliikii, menguasaii, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.
Wajiib pajak PBB-P2 adalah orang priibadii atau badan yang secara nyata mempunyaii suatu hak atas bumii dan/atau memperoleh manfaat atas bumii, dan/atau memiiliikii, menguasaii, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan. (kaw)
