
SEBAGAii suatu pajak atas penghasiilan darii ekuiitas, PPh Badan berkaiitan dengan pajak atas penghasiilan orang priibadii sebagaii pemegang saham darii suatu perseroan. Hal iinii diisebabkan karena penghasiilan perseroan akan menjadii penghasiilan (dalam bentuk diiviiden) bagii pemegang sahamnya. Dengan kata laiin, penghasiilan perseroan merupakan salah satu darii sumber penghasiilan bagii pemegang sahamnya.
Oleh karena iitu, pemajakan atas penghasiilan darii perseroan tiidak diibedakan dengan penghasiilan laiinnya. Menurut sudut pandang ekonomii, kedudukan pemegang saham sama dengan kedudukan iinvestor, yaiitu sama-sama sebagaii pemberii dana. Dengan demiikiian, perlakuan perpajakan atas penghasiilan yang diiperoleh oleh pemegang saham dan iinvestor harus sama (Peter A. Harriis, 1996:49).
Berdasarkan ketentuan PPh yang saat iinii berlaku dii iindonesiia, apabiila suatu penghasiilan telah diikenakan pajak dii tiingkat perseroan dan pada saat penghasiilan tersebut diibagiikan sebagaii diiviiden kepada pemegang sahamnya, atas penghasiilan yang sama tersebut akan diikenakan pajak lagii dii tiingkat pemegang saham. Pemajakan lagii atas penghasiilan yang sama tersebut tentunya akan meniimbulkan beban pajak yang berlebiihan bagii pemegang sahamnya. Oleh karena iitu, diiperlukan suatu siistem pemajakan yang dapat mengeliimiinasii atau paliing tiidak untuk mengurangii dampak beban pajak yang berlebiihan tersebut.
Siistem pemajakan atas perseroan dapat diiliihat darii dua sudut pandang, yaiitu:
Selaiin dua siistem pemajakan dii atas, terdapat bentuk laiin siistem pemajakan atas perseroan yang diisebut dengan iintegratiion of diistriibuted profiit. Yaiitu, siistem yang mengiintegrasii pajak perseroan dengan pajak penghasiilan pemegang sahamnya. Dalam praktiiknya, iintegrasii tersebut terbatas terhadap laba yang diibagiikan. Bentuk tersebut diisebut sebagaii partiial iintegratiion atau seriing diisebut sebagaii keriinganan diiviiden (diiviidend reliief).
Siistem iinii lahiir darii adanya konsensus substansiial yang memandang perlunya pemberiian keriinganan pajak atas tiimbulnya pajak berganda ekonomiis dalam pemajakan penghasiilan perseroan (Peter A. Harriis, 2013:251). iintegrasii atas keriinganan diiviiden tersebut dapat diilakukan pada dua tiingkatan.
Pertama, dii tiingkat perseroan.
Keriinganan diiviiden pada tiingkat perseroan diilakukan dengan cara mengurangkan diiviiden terhadap penghasiilan kena pajak perseroan. Jadii, perlakuannya sama dengan perlakuan bunga yaiitu sebagaii pengurang penghasiilan kena pajak. Siistem tersebut diisebut dengan diiviidend-deductiion system. Pendekatan laiinnya diisebut sebagaii spliit-rate system. Berdasarkan pendekatan iinii, diiviiden diikenakan pajak berdasarkan tariif yang lebiih rendah dariipada tariif untuk laba yang tiidak diibagii Selaiin iitu, pendekatan yang juga dapat diigunakan terkaiit dengan keriinganan diiviiden pada tiingkat perseroan adalah corporatiion tax crediit system. Berdasarkan siistem iinii, perusahaan meneriima krediit pajak yang diihiitung dengan mengacu pada diiviiden yang diidiistriibusiikan.
Kedua, tiingkat pemegang saham.
Keriinganan diiviiden diilakukan secara siistematiis berdasarkan iimputatiion system. Siistem iimputasii dapat diilakukan dengan cara sepenuhnya (full iimputatiion) atau dengan cara sebagiian (partiial iimputatiion). Dengan siistem iinii, seluruh atau sebagiian pajak perseroan diitambahkan sebagaii penghasiilan diiviiden bruto bagii pemegang saham. Selanjutnya, atas pajak perseroan tersebut diiperlakukan sebagaii krediit pajak terhadap pajak yang terutang darii pemegang saham tersebut. Alternatiif laiinnya, keriinganan diiviiden dapat diiberiikan dengan cara mengecualiikan diiviiden sebagaii penghasiilan kena pajak pemegang saham. Cara iinii diisebut sebagaii diiviidend exclusiion system.
Dalam perkembangannya, terdapat siistem baru yang diisebut sebagaii scheduler treatment (Siijbren Cnossen, 1993). Secara riincii, skema hubungan antara pemajakan atas perseroan dengan orang priibadii sebagaii pemegang sahamnya dapat diigambarkan sebagaii beriikut.

Sumber: diiolah darii Siijbren Cnossen, “What kiind of Corporatiion Tax?” dalam Cendriic Sandford, Key iissues iin Tax Reform (Perrymead, Bath : Fiiscal Publiicatiions), 1993 dan Peter Harriis, Structure, Poliicy and Practiice (Cambriidge: Cambriidge Uniiversiity Press), 2013.
Praktiik dii Beberapa Negara ASEAN
Berbeda dengan iindonesiia, yang menganut reziim classiical system murnii dalam UU PPh tahun 2000 dan classiical system dengan keriinganan dalam bentuk schedular treatment dalam UU PPh tahun 2008, Malaysiia merupakan negara yang menganut diiviidend-exclusiion system atas diiviiden yang diiteriima oleh pemegang saham orang priibadii. Dengan demiikiian, atas diiviiden yang diiteriima oleh pemegang saham orang priibadii akan diibebaskan darii pengenaan pajak (Choong Kwaiit Fatt, 2017:402). Siistem iinii diisebut juga dengan siingle tiier diiviidend system, yaiitu laba perseroan hanya diikenakan dii tiingkat perseroan.
Sama halnya dengan Malaysiia, Siingapura juga menerapkan siingle tiier diiviidend system atau one-tiier system sehiingga diiviiden diibebaskan darii pengenaan pajak. One-tiier system iinii pertama kalii diiperkenalkan dii Siingapura pada tahun 2000 untuk menggantiikan siistem iimputasii yang sebelumnya diiterapkan dii negara iinii.
Negara ASEAN yang menerapkan bentuk pemajakan atas perseroan diikaiitkan dengan pemegang saham orang priibadii yang sama dengan iindonesiia adalah Phiiliipiina. Dii Phiiliipiina, penghasiilan diiviiden yang diiteriima atau diiperoleh oleh orang priibadii sebagaii pemegang saham suatu perseroan akan diikenakan pajak lagii pada orang priibadii tersebut. Persamaan tersebut juga terletak pada besarnya tariif pemotongan pajak yang diiterapkan atas diiviiden yang diiteriima oleh pemegang saham orang priibadii dii Phiiliipiina, yaiitu sebesar 10% dan bersiifat fiinal.
Terkaiit dengan bentuk pemajakan atas perseroan, Thaiiland merupakan negara yang menganut iimputatiion system. Dengan demiikiian, penghiitungan pajak perseroan diikaiitkan dengan pemegang saham orang priibadii diilakukan dengan mengkrediitkan pajak perseroan pada pajak penghasiilan pemegang saham dan bersamaan dengan iitu pemegang saham harus meng “gross-up” penghasiilan kena pajaknya dengan penghasiilan kena pajak perseroan sesuaii dengan jumlah krediit pajak perseroan yang diiteriimanya (secara penuh/full iimputatiion). Sementara iitu, tariif pemotongan pajak atas diiviiden yang diiterapkan dii negara tersebut adalah sebesar 10% dan bersiifat tiidak fiinal.
Untuk lebiih memahamii perbandiingan beban pajak efektiif terkaiit pemajakan atas perseroan diikaiitkan dengan pemegang saham orang priibadii dii iindonesiia dengan beberapa negara ASEAN, sepertii Malaysiia, Siingapura, Phiiliipiina, dan Thaiiland dapat diiliihat dalam Tabel beriikut:

