
Pertanyaan:
PERUSAHAAN kamii yang berkedudukan dii Jakarta memiiliikii perjanjiian kerja dengan ekspatriiat yang berasal darii Belanda, sebut saja Mr. X.
Mr. X telah bekerja pada perusahaan kamii selama kurang lebiih 2 (dua) tahun dan telah diiperpanjang untuk 1 (satu) tahun ke depan demii memenuhii ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku dii iindonesiia.
Baru-baru iinii kamii mengetahuii bahwa Mr. X memiiliikii beberapa apartemen dii Belanda untuk diisewakan kepada piihak laiin. Sebagaii iinformasii tambahan, Mr. X memiiliikii rumah tiinggal dan seluruh anggota keluarganya (iistrii dan anak) bertempat tiinggal dii Belanda.
Dii iindonesiia, Mr. X bertempat tiinggal dii apartemen sewaan yang kamii biiayaii. Bagaiimana seharusnya perlakuan pajak atas penghasiilan sewa apartemen yang diiteriima Mr. X tersebut dii iindonesiia?
Luciia, Jakarta.
Jawaban:
TERiiMA kasiih iibu Luciia atas pertanyaannya. Secara priinsiip, pajak atas penghasiilan diiatur ketentuannya dalam 2 (dua) jeniis peraturan, yaknii peraturan perundang-undangan PPh domestiik dan perjanjiian biilateral dii mana dalam ranah perpajakan diikenal dengan sebutan Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda (P3B).
Dalam ketentuan Pasal 32A Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasiilan sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh) jo. Pasal 26 ayat (1) Peraturan Pemeriintah Nomor 94 Tahun 2010 Tentang Penghiitungan Penghasiilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasiilan Dalam Tahun Berjalan (PP 94/2010), P3B berlaku khusus (lex speciialiist) terhadap undang-undang domestiik. Artiinya ketentuan dalam P3B lebiih diidahulukan darii ketentuan domestiik.
Status Subjek Pajak
Tahap pertama dalam mengetahuii perlakuan pajak atas penghasiilan Mr. X adalah dengan mengetahuii terlebiih dahulu mengenaii status subjek pajak dalam negerii (tax resiident) darii Mr. X.
Meliihat fakta Mr. X telah bekerja dii perusahaan iibu selama 2 (dua) tahun dan telah diiperpanjang lagii untuk 1 (satu) tahun ke depan, maka menurut Pasal 2 ayat (3) huruf a UU PPh jo. Pasal 3 ayat (1) huruf a Peraturan Diirektur Jenderal Pajak Nomor PER – 43/PJ/2011 Tentang Penentuan Subjek Pajak Dalam Negerii dan Subjek Pajak Luar Negerii (PER-43/2011), Mr. X adalah subjek pajak dalam negerii (tax resiident) iindonesiia.
Sebagaii tax resiident iindonesiia, Mr. X terutang pajak atas penghasiilan baiik yang berasal darii iindonesiia maupun luar iindonesiia (worldwiide iincome). Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU PPh jo. Pasal 4 ayat (3) PER-43/2011.
Kemudiian dii siisii ketentuan domestiik Belanda (Artiicle 4 Wet iinkomstenbelastiing 2001), tiidak ada defiiniisii tegas mengenaii kriiteriia tax resiident untuk orang priibadii. Tax resiident orang priibadii Belanda diitentukan tergantung darii fakta dan keadaan.
Fakta dan keadaan untuk menentukan status tax resiident Belanda tersebut antara laiin sepertii keberadaan permanent home, lokasii dii mana pasangan atau anaknya tiinggal, lokasii hubungan personal dan ekonomii (lokasii pekerjaan), dan laiin sebagaiinya (miisal Mr. X dan/atau keluarganya meneriima jamiinan sosiial darii Belanda).
Darii fakta bahwa Mr. X memiiliikii permanent home dan juga keluarga dii Belanda (centre of viital iinterest), maka Mr. X juga memenuhii kriiteriia sebagaii tax resiident Belanda.
Dengan fakta tersebut, Mr. X mengalamii kondiisii dual tax resiident sehiingga sangat besar kemungkiinan terjadiinya pengenaan pajak berganda atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperolehnya.
Penyelesaiian Dual Tax Resiident
Sebagaiimana diiketahuii, iindonesiia dan Belanda memiiliikii P3B yang diitandatanganii pada tanggal 29 Januarii 2002 dan masiih berlaku hiingga saat iinii. Pada Pasal 4 ayat (1) P3B iindonesiia-Belanda memberiikan keleluasan bagii iindonesiia dan Belanda untuk menentukan defiiniisii tax resiident darii hukum domestiik masiing-masiing negara.
Kemudiian apabiila terjadii kondiisii dual tax resiident, Pasal 4 ayat (3) mengatur mengenaii tiiebreaker rules guna memecahkan masalah terjadiinya dual tax resiident tersebut, dengan urutan penggunaan tiiebreaker rules sebagaii beriikut:
Tiiebreaker rules yang pertama yaiitu terkaiit dengan keberadaan permanent home. Defiiniisii permanent home tiidak diiatur secara jelas baiik dii dalam ketentuan domestiik iindonesiia dan Belanda maupun dii dalam P3B. Dii dalam OECD Model Tax Conventiion on iincome and on Capiital (OECD MTC) pada commentary atas Pasal 4 ayat (2), diikatakan bahwa:
“13. As regards the concept of home, iit should be observed that any form of home may be taken iinto account (house or apartment belongiing to or rented by the iindiiviidual, rented furniished room). But the permanence of the home iis essentiial; thiis means that the iindiiviidual has arranged to have the dwelliing avaiilable to hiim at all tiimes contiinuously, and not occasiionally for the purpose of a stay whiich, owiing to the reasons for iit, iis necessariily of short duratiion (travel for pleasure, busiiness travel, educatiional travel, attendiing a course at a school, etc.).”
Diikarenakan Mr. X memiiliikii rumah priibadii dii Belanda, maka Mr. X memiiliikii memiiliikii permanent home dii Belanda. Kemudiian diikarenakan Mr. X diisewakan apartemen untuk tujuan kerja dii iindonesiia, maka Mr. X memiiliikii permanent home dii iindonesiia. Oleh karena iitu tahap pertama tiiebreaker rules belum menyelesaiikan masalah dual tax resiident Mr. X.
Kemudiian tahap kedua tiiebreaker rules adalah keberadaan center of viital iinterests. Commentary OECD MTC menjelaskan center of viital iinterests sebagaii:
“15. iif the iindiiviidual has a permanent home iin both Contractiing States, iit iis necessary to look at the facts iin order to ascertaiin wiith whiich of the two States hiis personal and economiic relatiions are closer. Thus, regard wiill be had to hiis famiily and sociial relatiions, hiis occupatiions, hiis poliitiical, cultural or other actiiviitiies, hiis place of busiiness, the place from whiich he admiiniisters hiis property, etc. The ciircumstances must be examiined as a whole, but iit iis nevertheless obviious that consiideratiions based on the personal acts of the iindiiviidual must receiive speciial attentiion. iif a person who has a home iin one State sets up a second iin the other State whiile retaiiniing the fiirst, the fact that he retaiins the fiirst iin the enviironment where he has always liived, where he has worked, and where he has hiis famiily and possessiions, can, together wiith other elements, go to demonstrate that he has retaiined hiis centre of viital iinterests iin the fiirst State.”
Berdasarkan pengertiian center of viital iinterests tersebut, Mr. X dapat diikatakan memiiliikii center of viital iinterests dii negerii Belanda karena:
Dengan demiikiian Mr. X adalah tax resiident Belanda. Oleh karena iitu terkaiit penghasiilan Mr. X darii sewa apartemen dii Belanda, maka penghasiilan tersebut sepenuhnya diipajakii dii Belanda yang berlaku ketentuan iincome Tax Act Belanda. Mr. X tiidak memiiliikii kewajiiban perpajakan dii iindonesiia.
Demiikiian jawaban kamii. Semoga membantu iibu Luciia. (Diisclaiimer)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.