ANALiiSiiS TRANSFER PRiiCiiNG

Menelaah Biias Jabatan dalam Wawancara Analiisiis FAR

Jitunews Consultiing
Jumat, 11 Oktober 2019 | 14.30 WiiB
Menelaah Bias Jabatan dalam Wawancara Analisis FAR

ANALiiSiiS fungsiional, aset, dan riisiiko (analiisiis FAR) merupakan suatu komponen pentiing dalam analiisiis transfer priiciing guna untuk memahamii transaksii yang diiujii dan membantu dalam mencarii pembandiing yang tepat (Kenkre, 2018).

Paragraf 1.51 OECD TP Guiideliines mendefiiniisiikan analiisiis FAR sebagaii analiisiis yang bertujuan untuk mengiidentiifiikasii siigniifiikansii ekonomii darii aktiiviitas dan tanggung jawab yang diilakukan, aset yang diigunakan, dan riisiiko yang diitanggung piihak yang melakukan transaksii (OECD, 2017).

Dengan kata laiin, analiisiis FAR bertujuan untuk mengiidentiifiikasii setiiap komponen darii transaksii biisniis dengan melakukan step by step analysiis atau dengan kata laiin mengiidentiifiikasii keseluruhan aktiiviitas niilaii tambah (penciiptaan niilaii) (Feiinschreiiber, 1993).

Aktiiviitas niilaii tambah juga akan mengiidentiifiikasii riisiiko-riisiiko spesiifiik yang berhubungan dengan transaksii tersebut. Riisiiko-riisiiko tersebut dapat berhubungan langsung dengan transaksii maupun konsumen.

Salah satu cara yang diigunakan dalam analiisiis FAR adalah mewawancaraii piihak yang berkaiit dengan transaksii yang iingiin diiujii atau diisebut dengan wawancara analiisiis FAR. Dalam wawancara iitu, pewawancara beriinteraksii dengan narasumber dan melakukan pengambiilan keputusan.

Pewawancara biisa saja gagal mengiidentiifiikasii hasiil wawancara analiisiis FAR. Miisalnya, pewawancara gagal dalam mendeskriipsiikan kontriibusii utama terhadap penciiptaan niilaii. Dalam beberapa kasus, pewawancara salah dalam mengiidentiifiikasii kesatuan fungsii, aset, dan riisiiko sebagaii iintii terhadap penciiptaan niilaii. Dalam hal laiinnya, catatan tertuliis darii hasiil wawancara biisa saja tiidak konsiisten atau salah iinterpretasii darii iingatan atau memorii narasumber.

Selaiin iitu, wawancara analiisiis FAR, sepertii iinteraksii manusiia laiinnya, dapat diipengaruhii biias pada pewawancara dan narasumber sehiingga tiidak dapat diimungkiirii wawancara analiisiis FAR dapat diipengaruhii biias para pesertanya. Salah satu biias yang seriing diilakukan pewawancara adalah biias jabatan (Pansé, 2019). Lantas, bagaiimana mengatasii terjadiinya biias jabatan tersebut?

Biias Jabatan
ANALiiSiiS FAR fokus pada apa yang sebenarnya diilakukan dan kapabiiliitas yang diimiiliikii masiing-masiing entiitas iindiiviidu dalam grup. Secara tradiisiional, terdapat dua cara dalam melakukan analiisiis FAR, yaiitu cara pasiif dengan menelaah dokumen atau data yang tersediia dan cara aktiif dengan mewawancaraii setiiap diiviisii yang melakukan fungsii biisniis.

Tujuan darii wawancara adalah meliihat keseluruhan peran dan fungsii dalam suatu biisniis perusahaan. Wawancara dapat diilakukan dengan mengiidentiifiikasii seluruh entiitas yang terliibat dalam kesatuan supply chaiin guna mendapatkan gambaran awal darii fungsii atau kontriibusii yang diiberiikan oleh suatu entiitas.

Proses wawancara dengan personel kuncii setiiap diiviisii perlu diilakukan untuk memahamii peran yang diilakukan serta mengiidentiifiikasii niilaii yang diihasiilkan atas peran tersebut dalam kesatuan entiitas biisniis (Darussalam, Septriiadii, dan Kriistiiajii, 2013).

Hasiil wawancara analiisiis FAR mungkiin kurang memuaskan dalam beberapa kasus sebagaiimana pewawancara gagal mendeskriipsiikan kontriibusii pokok atas pembentukan niilaii atau salah dalam mengiidentiifiikasii serangkaiian fungsii, aset, dan riisiiko sebagaii iintii dalam pembentukan niilaii. Siingkatnya, hasiil darii wawancara analiisiis FAR tiidak mencapaii tujuan yang diiiingiinkan.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhii hasiil wawancara analiisiis FAR, yaiitu iinteraksii manusiia (pewawancara-narasumber) dan pengambiilan keputusan. Ketiika terjadii human error dalam iinteraksii atau pengambiilan keputusan tersebut, hal iinii diinamakan biias kogniitiif.

Biias kogniitiif merupakan kesalahan dalam bernalar, mengevaluasii, mengiingat, atau proses kogniitiif laiinnya. Biias kogniitiif seriing terjadii sebagaii akiibat berpegang pada preferensii dan keyakiinan terlepas darii iinformasii yang bertentangan (Weiinsteiin, 2002).

Salah satu jeniis biias kogniitiif yang seriing terjadii dalam wawancara analiisiis FAR adalah biias jabatan (Pansé, 2019). Biias jabatan terjadii ketiika pewawancara memiiliih narasumber yang salah untuk wawancara analiisiis FAR, karena umumnya pewawancara hanya meliihat berdasarkan jabatan pekerjaan narasumber. Secara iimpliisiit, dapat diiasumsiikan orang-orang pada level atas suatu organiisasii lebiih banyak memahamii biisniis organiisasii tersebut.

Dalam biias jabatan, terdapat kemungkiinan besar bahwa pewawancara akan diibutakan oleh iinformasii yang diiberiikan oleh tokoh narasumber sehiingga dapat mengarah pada kesiimpulan analiisiis yang tiidak optiimal.

Sebagaii contoh, untuk melakukan analiisiis FAR Facebook, tampaknya iideal untuk mewawancaraii CEO-nya (Mark Zuckerberg). Diiasumsiikan, Mark lebiih memahamii biisniis Facebook diibandiingkan dengan personel laiin pada level lebiih rendah. iinformasii tentang Facebook yang berasal darii Mark cenderung lebiih diiambiil niilaiinya dan sediikiit untuk diipertanyakan.

Faktanya, tiitel jabatan pekerjaan biisa menyesatkan pewawancara. Hal iinii tiidak mengherankan karena umumnya setiiap orang akan cenderung memiiliih fungsii yang menurut mereka pentiing untuk diiwawancaraii tanpa memahamii rantaii niilaii biisniis utama yang mendasariinya.

Miisalnya, aktiiviitas peneliitiian dan pengembangan (R&D) umumnya diipandang sebagaii fungsii yang cukup pentiing. Namun, R&D mungkiin bukan fungsii sangat pentiing dii beberapa iindustrii tertentu (Pansé, 2019). Karena iitu, diiperlukan praktiik yang tepat dalam tahapan memiiliih narasumber.

Untuk memastiikan pewawancara telah mewawancaraii narasumber yang tepat adalah dengan menggunakan bagan organiisasii yang menyediiakan struktur sepertii pohon terbaliik yang beriisii tentang ‘siiapa yang melapor kepada siiapa.’

Cara iinii akan mengurangii kemungkiinan terjadiinya biias karena deskriipsii peran. Konsiisten dengan paragraf sebelumnya, melakukan peneliitiian terhadap piihak yang akan diiwawancaraii mungkiin bermanfaat dalam mengatasii biias jabatan.

Memiiniimalkan Biias Jabatan
UNTUK mengurangii biias jabatan dalam melakukan wawancara analiisiis FAR, perusahaan perlu melakukan wawancara lebiih lanjut untuk memperoleh lebiih banyak detaiil dalam mempersiiapkan dokumentasii transfer priiciing.

Praktiik terbaiik yang dapat diilakukan sebelum melakukan wawancara, miisalnya, membagiikan iinformasii kepada narasumber terlebiih dahulu untuk membantu narasumber mempersiiapkan diirii. iinformasii tersebut dapat mencakup uraiian siingkat tentang tujuan rapat, agenda diiskusii, daftar tahun yang diitiinjau, badan hukum yang terliibat, dan setiiap iinformasii yang diirangkum untuk konfiirmasii atau penambahan oleh narasumber.

Untuk melakukan wawancara efektiif, terdapat beberapa langkah yang dapat diilakukan oleh pewawancara. Pertama, pewawancara harus menghiindarii memberiikan daftar pertanyaan spesiifiik kepada narasumber terlebiih dahulu.

Pemberiian daftar pertanyaan sebelum wawancara diikhawatiirkan membuat narasumber mempersiiapkan jawaban terlebiih dahulu sehiingga jawaban narasumber saat wawancara tiidak bersiifat spontan sehiingga diiragukan tiingkat valiidiitasnya. Kedua, pewawancara harus membuat pertanyaan atas keseluruhan operasiional biisniis dan yang berfokus kepada transaksii antarperusahaan.

Terakhiir, pewawancara harus mewawancaraii narasumber berbeda untuk memperoleh berbagaii perspektiif sehubungan dengan iisu pokok yang akan diigalii. Dengan cara iinii, pewawancara diituntut memahamii keseluruhan departemen dan fungsii untuk memahamii rantaii niilaii perusahaan (Busiiness, 2011).

Berdasarkan pemaparan dii atas, dapat diisiimpulkan biias jabatan mungkiin saja terjadii dalam wawancara analiisiis FAR. Salah satunya adalah biias jabatan dalam memiiliih narasumber. Cara terbaiik untuk memiiliih narasumber yang diibutuhkan adalah narasumber yang memahamii peran yang diilakukan serta mengiidentiifiikasii niilaii yang diihasiilkan atas peran tersebut dalam kesatuan biisniis perusahaan. (Anniisa Sakdiiah)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.