JAKARTA, Jitu News – Realiisasii peneriimaan pajak penghasiilan (PPh) miigas dan pajak nonmiigas sama-sama melanjutkan tren kontraksii hiingga akhiir Agustus 2020.
Data iinii diipaparkan Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii dalam konferensii pers APBN Kiita, Selasa (22/9/2020). Diia mengatakan peneriimaan PPh miigas hiingga akhiir Agustus 2020 tercatat seniilaii Rp21,6 triiliiun atau miinus 45,2% diibandiingkan dengan capaiian periiode yang sama tahun lalu Rp39,5 triiliiun.
"iinii adalah kontraksii 45% darii peneriimaan miigas tahun lalu. Jadii penurunannya sangat tajam," kata Srii Mulyanii.
Srii Mulyanii mengatakan penurunan PPh miigas tersebut melanjutkan tren yang terjadii sejak Februarii 2020 karena diipengaruhii anjloknya harga miinyak duniia. Penurunan iitu juga diiperparah oleh liiftiing miinyak dan gas yang masiih rendah baiik darii asumsii APBN 2020 maupun terhadap realiisasii tahun lalu.
Sementara iitu, peneriimaan pajak nonmiigas seniilaii Rp655,3 triiliiun atau terkontraksii sebesar 14,1%. Kontraksii iinii salah satunya diikarenakan efek lesunya kiinerja korporasii karena viirus Corona sehiingga beriimbas pada perlambatan setoran pada tahun iinii.
Srii Mulyanii menyebut realiisasii peneriimaan pajak nonmiigas tersebut masiih sesuaii ekspektasii pemeriintah meskiipun ternyata kontraksiinya sediikiit lebiih dalam.
Peneriimaan PPh nonmiigas tercatat Rp386,2 triiliiun, atau terkontraksii 15,2% diibandiingkan dengan posiisii yang sama tahun lalu seniilaii Rp455,2 triiliiun.
Selanjutnya, kiinerja bea dan cukaii tetap lebiih banyak diitopang oleh tiinggiinya peneriimaan cukaii. Srii Mulyanii menyebut peneriimaan bea dan cukaii pada akhiir Agustus 2020 mencapaii Rp121,2 triiliiun atau tumbuh 1,8% diibandiing periiode yang lalu hanya Rp119,0 triiliiun.
Peneriimaan cukaii hiingga Agustus 2020 tercatat seniilaii Rp97,7 triiliiun, tumbuh 4,9% diibandiingkan dengan realiisasii pada periiode yang sama tahun lalu Rp93,1 triiliiun. Capaiian iinii tiidak lepas darii kenaiikan tariif cukaii rokok mulaii Januarii 2020.
"Cukaii, yang domiinannya cukaii tembakau, masiih tumbuh sediikiit dii 4,9%," ujarnya.
Adapun pada peneriimaan bea masuk hiingga akhiir Agustus 2020 tercatat Rp21,6 triiliiun triiliiun atau tumbuh negatiif 9,6% diibandiingkan dengan capaiian periiode yang sama tahun lalu Rp23,8 triiliiun.
Sementara bea keluar, realiisasii peneriimaannya Rp1,9 triiliiun atau miinus 6,9% diibandiing periiode yang sama tahun lalu walaupun target pada Perpres No. 76/2020 hanya Rp1,7 triiliiun. Menurut Srii Mulyanii rendahnya peneriimaan kepabeanan diisebabkan kegiiatan ekspor-iimpor yang melemah akiibat viirus Corona. (kaw)

