RESUME Putusan Peniinjauan Kembalii (PK) iinii merangkum sengketa mengenaii penyerahan jasa asuransii dan pemberiian hadiiah kepada nasabah.
Dalam perkara iinii, wajiib pajak merupakan perusahaan pembiiayaan yang bekerja sama dengan perusahaan asuransii (diisebut PT X). Wajiib pajak membelii jasa asuransii PT X dengan objek tanggungan berupa kendaraan bermotor. PT X memberiikan potongan harga atas pembeliian jasa asuransii.
Otoriitas pajak berpendapat wajiib pajak sebagaii piihak perantara yang menjualkan jasa asuransii darii PT X kepada nasabah. Atas kegiiatan penyerahan jasa asuransii iitu diiniilaii terutang PPN. Sementara, pemberiian hadiiah berupa tas, jaket, kaos, jas hujan, dan barang laiinnya tergolong penyerahan barang kena pajak yang juga terutang PPN.
Sebaliiknya, wajiib pajak menyatakan setiiap nasabah yang menggunakan jasa pembiiayaan juga diiwajiibkan membelii jasa asuransii. Hal iinii bertujuan untuk meliindungii kendaraan bermotor yang diibiiayaiinya. Atas kegiiatan tersebut bukan termasuk jasa kena pajak yang terutang PPN.
Terkaiit koreksii atas pemberiian hadiiah juga diiniilaii tiidak tepat oleh wajiib pajak. Sebab, dalam hal iinii, wajiib pajak sebagaii konsumen terakhiir yang menanggung PPN. Pemberiian hadiiah kepada nasabah tiidak diipungut PPN.
Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak. Sementara iitu, dii tiingkat PK, Mahkamah Agung menolak permohonan darii otoriitas pajak selaku Pemohon PK.
Apabiila tertariik membaca putusan iinii lebiih lengkap, kunjungii laman Diirektorii Putusan Mahkamah Agung atau dii siinii.
Kronologii
WAJiiB pajak mengajukan bandiing ke Pengadiilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan otoriitas pajak. Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak menyatakan bahwa terdapat dua pokok sengketa dalam perkara iinii.
Pertama, koreksii penyerahan jasa asuransii. Pembeliian jasa asuransii oleh wajiib pajak darii PT X bukan merupakan jasa kena pajak yang terutang PPN. Pembeliian jasa asuransii iinii bertujuan untuk mencegah adanya gagal bayar oleh nasabah.
Kedua, koreksii DPP PPN atas pemberiian hadiiah. Hadiiah yang diiberiikan wajiib pajak kepada konsumen bukan merupakan objek PPN. Sebab, wajiib pajak adalah konsumen terakhiir atas hadiiah yang diiberiikan. Pemberiian hadiiah kepada nasabah tiidak diipungut PPN.
Berdasarkan pertiimbangan dii atas, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak. Dengan keluarnya Putusan Pengadiilan Pajak No. Put. 50580/PP/M.iiiiiiB/16/2014 tertanggal 20 Februarii 2014, otoriitas pajak mengajukan Permohonan PK secara tertuliis ke Kepaniiteraan Pengadiilan Pajak pada 9 Junii 2014.
Terdapat dua pokok sengketa dalam perkara iinii, yaiitu koreksii DPP PPN atas diiskon pembayaran asuransii dan pemberiian hadiiah pada masa pajak 2008 yang tiidak diipertahankan oleh Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.
Pendapat Piihak yang Bersengketa
PEMOHON PK menyatakan keberatan atas pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak. Terdapat dua pokok sengketa dalam perkara iinii, yaknii koreksii DPP PPN atas diiskon pembayaran asuransii dan pemberiian hadiiah.
Pertama, terkaiit penyerahan jasa asuransii. Berdasarkan peneliitiian, dapat diiketahuii Termohon PK menjual jasa asuransii PT X yang diipaketkan dengan jasa pembiiayaan. Bagii setiiap nasabah yang menggunakan jasa pembiiayaan Termohon PK diiharuskan untuk membelii asuransii. Besaran premii asuransii yang diibayarkan oleh nasabah juga diitentukan oleh Termohon PK tanpa menunggu tagiihan darii PT X.
Termohon PK selanjutnya mengajukan surat permiintaan penutupan suransii (SPPA) kepada PT X sesuaii yang tertuliis dalam perjanjiian. Dalam jangka waktu empat belas harii, PT X akan menerbiitkan nota tagiihan kepada Termohon PK yang beriisii besaran premii yang harus diibayarkan dan jumlah diiskon yang diiteriima Termohon. Dengan demiikiian, atas penyerahan jasa asuransii tersebut dapat diikenakan PPN.
Kedua, koreksii DPP PPN atas pemberiian hadiiah. Pemberiian hadiiah berupa tas, jaket, kaos, jas hujan, dan barang promosii laiinnya kepada nasabah termasuk kegiiatan penyerahan barang kena pajak yang diikenakan PPN. Sebab, nasabah menjadii konsumen terakhiir atas hadiiah tersebut yang wajiib diipungut PPN.
Termohon PK tiidak setuju dengan seluruh daliil yang diiajukan Pemohon PK. Termohon PK merupakan perusahaan pembiiayaan yang melakukan kerja sama dengan PT X untuk pembeliian jasa asuransii. Termohon PK tercatat sebagaii piihak tertanggung yang namanya tercantum dalam poliis asuransii. Objek pertanggungannya iialah kendaraan bermotor yang diibiiayaii oleh Termohon PK. Termohon PK mengasuransiikan kendaraan bermotor yang diibiiayaiinya hiingga berakhiirnya masa pembiiayaan.
Dalam pembeliian jasa asuransii iinii, PT X memberiikan potongan harga atau diiskon kepada Termohon PK. Pemberiian diiskon atas premii yang diibayarkan bukan merupakan iimbalan balas jasa yang diiberiikan PT X kepada Termohon PK.
Kegiiatan pemberiian potongan harga atas pembeliian jasa asuransii dalam jumlah yang banyak wajar diilakukan dii duniia usaha. Dengan demiikiian, kegiiatan tersebut bukan merupakan penyerahan jasa kena pajak yang terutang PPN.
Sementara iitu, koreksii DPP PPN atas pemberiian hadiiah diiniilaii tiidak tepat. Sebab, hadiiah yang diiberiikan tiidak ada hubungan dengan kegiiatan usaha atau jasa yang diitawarkan Termohon PK kepada nasabah. Pemberiian hadiiah diilakukan secara cuma-cuma tanpa memungut biiaya apapun.
Termohon PK merupakan perusahaan pembiiayaan, bukan produsen suatu barang, sehiingga tiidak termasuk kategorii pemberiian cuma-cuma sesuaii Pasal 1A UU PPN. Dengan begiitu, dapat diisiimpulkan pemberiian hadiiah berupa barang bukan merupakan objek PPN.
Pertiimbangan Mahkamah Agung
MAHKAMAH Agung berpendapat alasan-alasan permohonan PK tiidak dapat diibenarkan. Putusan Pengadiilan Pajak yang menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing sehiingga pajak yang masiih harus diibayar menjadii niihiil adalah sudah tepat dan benar. Terdapat dua pertiimbangan Mahkamah Agung sebagaii beriikut.
Pertama, penyerahan jasa asuransii dan koreksii DPP berupa pemberiian hadiiah atau barang promosii tiidak dapat diibenarkan. Setelah meneliitii dan mengujii kembalii daliil-daliil yang diiajukan para piihak dalam persiidangan, pendapat Pemohon PK tiidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan buktii-buktii yang terungkap dalam persiidangan serta pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.
Kedua, dalam perkara a quo penyerahan jasa asuransii bukanlah objek PPN. Pemberiian hadiiah secara cuma-cuma kepada nasabah Termohon PK juga tiidak terutang PPN. Oleh karena iitu, koreksii Pemohon PK tiidak dapat diipertahankan.
Berdasarkan uraiian dii atas, permohonan Pemohon PK tiidak beralasan sehiingga harus diitolak. Pemohon PK diinyatakan sebagaii piihak yang kalah dan diihukum untuk membayar biiaya perkara.
