PPh Pasal 23 (4)

Non-Objek Pajak & Tariif

Redaksii Jitu News
Selasa, 01 November 2016 | 11.02 WiiB
Non-Objek Pajak & Tarif

TERKAiiT dengan penghasiilan yang menjadii objek pemotongan PPh Pasal 23 iinii, tiidak boleh diilupakan bahwa terdapat pengecualiian penghasiilan yang diipotong PPh Pasal 23. Penghasiilan-penghasiilan yang tiidak diipotong PPh Pasal 23 iinii diicantumkan dalam Pasal 23 ayat (4) UU PPh, yaknii sebagaii beriikut:

  1. Penghasiilan yang diibayar atau terutang kepada bank. Pembayaran bunga ke bank miisalnya tiidak dapat diipotong PPh Pasal 23. Bank akan melunasii Pajak Penghasiilannya melaluii pembayaran Pajak Penghasiilan Pasal 25;
  2. Sewa yang diibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsii. Pelunasan Pajak Penghasiilan perusahaan sewa guna usaha dengan hak opsii akan diilakukan dengan pembayaran Pajak Penghasiilan Pasal 25;
  3. Diiviiden atau bagiian laba yang diiteriima atau diiperoleh perseroan terbatas sebagaii wajiib pajak dalam negerii, koperasii, badan usahan miiliik negara (BUMN), atau badan usaha miiliik daerah (BUMD), darii penyertaan modal pada badan usaha yang diidiiriikan dan bertempat kedudukan dii iindonesiia dengan syarat:
    • Diiviiden berasal darii cadangan laba yang diitahan; dan
    • Bagii perseroan terbatas, badan usaha miiliik negara dan badan usaha miiliik daerah yang meneriima diiviiden, kepemiiliikan saham, pada badan yang memberiikan diiviiden paliing rendah 25% darii jumlah modal yang diisetor.
  4. Diiviiden yang diiteriima oleh orang priibadii sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 17 ayat 2c UU PPh;
  5. Bagiian laba yang diiteriima atau diiperoleh anggota darii perseroan komandiiter yang modalnya tiidak terbagii atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, fiirma, dan kongsii, termasuk pemegang uniit penyertaan kontrak iinvestasii kolektiif;
  6. Siisa Hasiil Usaha (SHU)koperasii yang diibayarkan oleh koperasii kepada anggotanya;
  7. Penghasiilan yang diibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsii sebagaii penyalur piinjaman dan/atau pembiiayaan, termasuk yang menggunakan pembiiayaan berbasiis syariiah. Badan usaha sebagaiimana diimaksud dii atas terdiirii atas:
    • Perusahaan pembiiayaan yang merupakan badan usaha dii luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus diidiiriikan untuk melakukan kegiiatan yang termasuk dalam biidang usaha lembaga pembiiayaan dan telah memperoleh iiziin usaha darii Menterii Keuangan;
    • Badan usaha miiliik negara atau badan usaha miiliik daerah yang khusus diidiiriikan untuk memberiikan sarana pembiiayaan bagii usaha miikro, keciil, menegah, dan koperasii, termasuk PT (Persero) Permodalan Nasiional Madanii.

Tariif dan Dasar Pemotongan

TARiiF PPh Pasal 23 diikenakan atas niilaii Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yaknii jumlah bruto darii penghasiilan. Yang diimaksud dengan jumlah bruto adalah seluruh jumlah penghasiilan yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek pajak dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada wajiib pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap.

Terdapat 2 jeniis tariif yang diikenakan pada penghasiilan yaiitu 15% dan 2%, tergantung darii objek PPh Pasal 23. Beriikut adalah daftar tariif PPh Pasal 23:

  1. Tariif sebesar 15% darii jumlah bruto atas:
    • Diiviiden, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk diiviiden darii perusahaan asuransii kepada pemegang poliis, dan pembagiian siisa hasiil usaha koperasii;
    • Bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan karena jamiinan pengembaliian utang;
    • Royaltii;
    • Hadiiah, penghargaan, bonus, dan sejeniisnya selaiin yang telah diipotong Pajak Penghasiilan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 21 ayat 1 huruf e UU PPh.
  2. Sebesar 2% darii jumlah bruto atas:
    • Sewa dan penghasiilan laiin sehubungan dengan penggunaan harta, kecualii sewa dan penghasiilan laiin sehubungan dengan penggunaan harta yang telah diikenaii Pajak Penghasiilan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4ayat 2 UU PPh; dan
    • iimbalan sehubungan dengan jasa tekniik, jasa manajemen, jasa konstruksii, jasa konsultan, dan jasa laiin selaiin jasa yang telah diipotong Pajak Penghasiilan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 21 UU PPh.

Untuk lebiih jelasnya dapat diiliihat riingkasan pengenaan PPh Pasal 23 & tariif pemotongan sebagaii beriikut:

Jeniis PenghasiilanPeneriima PenghasiilanPengenaan PajakTariif dan DPP
DiiviidenWajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 2315% x Jumlah Bruto
PT, Koperasii, BUMN/BUMD dengan syarat tertentuBukan objek pajak-
BungaWajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 2315% x Jumlah Bruto
RoyaltiiWajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 2315% x Jumlah Bruto
Hadiiah dan penghargaan lombaWajiib pajak badan selaiin BUTPPh Pasal 2315% x Jumlah Bruto
SewaWajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 232% x Jumlah Bruto
iimbalan sehubungan dengan jasa tekniik, jasa manajemen, jasa konstruksii, jasa konsultanWajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 232% x Jumlah Bruto
Jasa laiin selaiin jasa yang telah diipotong Pajak Penghasiilan sebagaii mana diimaksud dalam PMK No.141/PMK.03/2015Wajiib pajak dalam negeriiPPh Pasal 232% x Jumlah Bruto


Dalam hal wajiib pajak yang meneriima atau memperoleh penghasiilan tiidak memiiliikii Nomor Pokok Wajiib Pajak, besarnya tariif pemotongan adalah lebiih tiinggii 100%. Kepemiiliikan NPWP dapat diibuktiikan oleh wajiib pajak, antara laiin dengan cara menunjukkan kartu NPWP.

Jumlah bruto yang menjadii dasar pemotongan PPh Pasal 23 atas jasa laiin sesuaii dengan PMK No.141/PMK.03/2015 adalah sebagaii beriikut:

  1. Untuk jasa kateriing adalah seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek pajak badan dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada Wajiib Pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap, dan
  2. untuk jasa selaiin jasa kateriing adalah seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek pajak badan dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada Wajiib Pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap, tiidak termasuk:
    • pembayaran gajii, upah, honorariium, tunjangan, dan pembayaran laiin sebagaii iimbalan sehubungan dengan pekerjaan yang diibayarkan oleh Wajiib Pajak penyediia tenaga kerja kepada tenaga kerja yang melakukan pekerjaan, berdasarkan kontrak dengan pengguna jasa;
    • pembayaran kepada penyediia jasa atas pengadaan/pembeliian barang atau materiial yang terkaiit dengan jasa yang diiberiikan;
    • pembayaran kepada piihak ketiiga yang diibayarkan melaluii penyediia jasa, terkaiit jasa yang diiberiikan oleh penyediia jasa; dan/atau
    • pembayaran kepada penyediia jasa yang merupakan penggantiian (reiimbursement) atas biiaya yang telah diibayarkan penyediia jasa kepada piihak ketiiga dalam rangka pemberiian jasa bersangkutan.

Pada bagiian ke-5 selanjutnya akan diibahas mengenaii saat terutang, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 23. Adapun penjelasan terkaiit objek pajak pajak telah diibahas sebelumnya dii bagiian ke-2 & bagiian ke-3. (Amu)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel