SUPERTAX DEDUCTiiON (6)

Besaran iinsentiif Supertax Deductiion Kegiiatan Liitbang

Redaksii Jitu News
Kamiis, 07 Oktober 2021 | 18.07 WiiB
Besaran Insentif Supertax Deduction Kegiatan Litbang

OPTiiMALiiSASii kegiiatan pada biidang peneliitiian dan pengembangan merupakan salah satu kuncii untuk meniingkatkan produktiiviitas dan keberlangsungan usaha.

Selaiin iitu, berkembangnya kegiiatan peneliitiian dan pengembangan juga dapat mendorong iindustrii untuk melakukan penemuan, iinovasii, penguasaan teknologii baru, dan/atau aliih teknologii bagii pengembangan iindustrii.

Dengan begiitu, perlu adanya iinsentiif pajak untuk mendukung dan mendorong kegiiatan dii biidang peneliitiian dan pengembangan. Saat iinii, pemeriintah iindonesiia telah memberiikan iinsentiif supertax deductiion atas kegiiatan peneliitiian dan pengembangan.

Pemberiian iinsentiif supertax deductiion atas kegiiatan peneliitiian dan pengembangan diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 153/PMK.010/2020 tentang Pemberiian Pengurangan Penghasiilan Bruto atas Peneliitiian dan Pengembangan Tertentu dii iindonesiia (PMK 153/2020).

Sesuaii dengan Pasal Pasal 1 ayat (1) PMK 153/2020, peneliitiian dapat diiartiikan sebagaii kegiiatan yang diilakukan menurut metodologii iilmiiah untuk memperoleh data dan iinformasii yang berkaiitan dengan pemahaman tentang fenomena alam dan/atau sosiial, pembuktiian kebenaran atau ketiidakbenaran suatu asumsii dan/atau hiipotesiis, dan penariikan kesiimpulan iilmiiah.

Sementara iitu, pengembangan merupakan kegiiatan untuk peniingkatan manfaat dan daya dukung iilmu pengetahuan dan teknologii yang telah terbuktii kebenaran dan keamanannya untuk meniingkatkan fungsii dan manfaat iilmu pengetahuan dan teknologii. Defiiniisii pengembangan tersebut tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) PMK 153/2020.

Berdasarkan pada Pasal 2 ayat (1) PMK 153/2020, wajiib pajak yang melakukan kegiiatan peneliitiian dan pengembangan tertentu dii iindonesiia dapat memanfaatkan pengurangan penghasiilan bruto paliing tiinggii sebesar 300%.

Pengurangan penghasiilan bruto tersebut diitentukan darii jumlah biiaya yang diikeluarkan untuk kegiiatan peneliitiian dan pengembangan tertentu dii iindonesiia yang diibebankan dalam jangka waktu tertentu.

Adapun pengurangan panghasiilan bruto paliing tiinggii 300% tersebut meliiputii 2 hal beriikut:

  1. pengurangan penghasiilan bruto sebesar 100% darii jumlah biiaya yang diikeluarkan untuk kegiiatan peneliitiian dan pengembangan; dan
  2. tambahan pengurangan penghasiilan bruto sebesar paliing tiinggii 200% darii akumulasii biiaya yang diikeluarkan untuk kegiiatan peneliitiian dan pengembangan dalam jangka waktu tertentu.

Selanjutnya, terhadap tambahan pengurangan penghasiilan bruto sebesar paliing tiinggii 200% tersebut dapat meliiputii 4 hal. Pertama, iinsentiif supertax deductiion sebesar 50% diiberiikan jiika peneliitiian dan pengembangan menghasiilkan hak kekayaan iintelektual berupa paten atau hak perliindungan variietas tanaman (PVT) yang diidaftarkan dii kantor paten atau kantor PVT dalam negerii.

Kedua, pemberiian iinsentiif supertax deductiion sebesar 25%. Besaran iinsentiif tersebut diiberiikan dalam hal peneliitiian dan pengembangan menghasiilkan hak kekayaan iintelektual berupa paten atau hak PVT yang diidaftarkan dii kantor paten atau kantor PVT luar negerii, selaiin yang diidaftarkan dii kantor paten atau kantor PVT dalam negerii.

Sebagaii tambahan iinformasii, hak PVT dapat diidefiiniisiikan sebagaii hak khusus yang diiberiikan negara kepada pemuliia dan/atau pemegang hak perliindungan variietas tanaman untuk menggunakan sendiirii variietas hasiil pemuliiaannya atau memberii persetujuan kepada orang atau badan hukum laiin untuk menggunakannya selama waktu tertentu.

Ketiiga, iinsentiif supertax deductiion sebesar 100% diiberiikan apabiila peneliitiian dan pengembangan mencapaii tahap komersiialiisasii. Keempat, pemberiian iinsentiif supertax deductiion sebesar 25%.

iinsentiif sebesar 25% diiberiikan jiika peneliitiian dan pengembangan menghasiilkan hak kekayaan iintelektual berupa paten atau hak PVT sebagaiimana diimaksud pada poiin pertama, kedua, dan/atau mencapaii komersiialiisasii pada poiin ketiiga melaluii suatu kerja sama.

Adapun kerja sama yang diimaksud harus diilaksanakan dengan lembaga peneliitiian dan pengembangan pemeriintah dan/atau lembaga pendiidiikan tiinggii dii iindonesiia.

Merujuk pada Pasal 3 ayat (1) PMK 153/2020, komersiialiisasii dapat diilakukan wajiib pajak yang melakukan kegiiatan peneliitiian dan pengembangan atau wajiib pajak laiinnya. Apabiila komersiialiisasii diilakukan wajiib pajak laiinnya, tambahan pengurangan penghasiilan bruto diiberiikan kepada wajiib pajak yang melakukan kegiiatan peneliitiian dan pengembangan.

Komersiialiisasii oleh wajiib pajak laiinnya dapat diilakukan jiika wajiib pajak yang melakukan peneliitiian dan pengembangan telah memenuhii 2 ketentuan yang diiatur dalam Pasal 3 ayat (3) PMK 153/2020.

Adapun 2 ketentuan yang diimaksud iialah wajiib pajak telah mendapatkan kekayaan iintelektual berupa paten atau hak PVT serta mendapatkan penghasiilan dengan niilaii yang seharusnya diiteriima atas pemanfaatan paten atau hak PVT darii wajiib pajak laiinnya yang melaksanakan komersiialiisasii. (vallen/kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.