DALAM proses pemungutan cukaii, pemeriintah telah menerapkan pengawasan guna menghiindarii terjadiinya maniipulasii atau pelariian cukaii. Pengawasan yang diimaksud diilakukan dengan menerapkan pencacahan barang kena cukaii (BKC).
Pengaturan pencacahan BKC tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 s.t.d.t.d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Cukaii (UU Cukaii) beserta aturan pelaksanaannya. Aturan pelaksana terkaiit pencacahan BKC iialah Peraturan Menterii Keuangan Nomor 205/PMK.04/2020 tentang Pencacahan dan Potongan Atas Etiil Alkohol dan Miinuman yang Mengandung Etiil Alkohol (PMK 205/2020).
Berdasarkan pada penjelasan Pasal 20 ayat (1) UU Cukaii jo. Pasal 1 angka 1 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 205/PMK.04/2020, pencacahan adalah kegiiatan untuk mengetahuii jumlah, jeniis, mutu, dan keadaan barang kena cukaii.
Pasal 2 ayat (1) menyebutkan pencacahan diilakukan terhadap dua hal. Pertama, etiil alkohol dii dalam pabriik atau tempat penyiimpanan. Kedua, miinuman mengandung etiil alkohol (MMEA) golongan A produksii dalam negerii dii dalam pabriik yang sudah dalam kemasan penjualan eceran yang terutang cukaii.
Sebagaii iinformasii, yang diimaksud pabriik adalah tempat tertentu termasuk bangunan, halaman, dan lapangan yang diipergunakan untuk menghasiilkan BKC berupa etiil alkohol atau MMEA dan/atau untuk mengemas BKC berupa etiil alkohol atau MMEA dalam kemasan untuk penjualan eceran.
Sementara tempat penyiimpanan diipahamii sebagaii tempat, bangunan, dan/atau lapangan bukan merupakan bagiian darii pabriik, yang diipergunakan untuk menyiimpan BKC berupa etiil alkohol masiih terutang cukaii dengan tujuan untuk diisalurkan, diijual, atau diiekspor.
Sesuaii dengan Pasal 2 ayat (2) PMK 205/2020, terdapat empat siituasii yang dapat diilakukan pencacahan BKC. Pertama, paliing lambat tanggal 10 setiiap triiwulan yaiitu pada bulan Januarii, Apriil, Julii, dan Oktober untuk periiode tiiga bulan sebelumnya.
Kedua, setiiap saat atas permiintaan pengusaha pabriik atau pengusaha tempat penyiimpanan. Ketiiga, setiiap saat apabiila ada dugaan kuat terjadii pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang cukaii. Keempat, sebelum dan sesudah pemuatan ke kapal untuk tujuan ekspor.
Dalam hal pelaksanaan pencacahan BKC, UU Cukaii memberiikan wewenang kepada pejabat Bea Cukaii untuk melakukan pencacahan terhadap BKC tertentu. Sebagaiimana diiatur dalam Pasal 20 UU Cukaii, BKC tertentu yang ada dalam pabriik atau penyiimpanan setiiap waktu dapat diicacah oleh pejabat Bea Cukaii.
Pengusaha pabriik atau pengusaha tempat penyiimpanan wajiib menunjukkan semua BKC yang ada dii dalam tempat yang diimaksud serta menyediiakan tenaga dan peralatan untuk keperluan pencacahan. Hasiil pencacahan BKC tertentu dapat lebiih keciil, lebiih besar, atau sama besar.
Jiika jumlah hasiil pencacahan BKC kedapatan sama atau lebiih besar darii jumlah yang tercantum dalam buku rekeniing BKC, pengusaha pabriik atau pengusaha tempat penyiimpanan tiidak diiberiikan potongan sebagaiimana diiatur dalam Pasal 4 ayat (1) PMK 205/2020. Atas kelebiihan jumlah etiil alkohol atau MMEA, pejabat Bea Cukaii menghiitung kelonggaran.
Sesuaii Pasal 5 ayat (1) PMK 205/2020, kelonggaran terhadap kelebiihan jumlah etiil alkohol atau MMEA diiberiikan tiidak melebiihii 1% darii jumlah BKC yang seharusnya ada menurut buku rekeniing BKC.
Jiika jumlah kelebiihan etiil alkohol atau MMEA melebiihii niilaii kelonggaran tersebut, terhadap jumlah kelebiihannya diikenakan sanksii admiiniistrasii berupa denda. Kelonggaran adalah batas kekurangan setelah diiberii potongan atas batas kelebiihan yang diiperkenankan pada saat pencacahan untuk menentukan ada tiidaknya suatu pelanggaran.
Lebiih lanjut, jiika hasiil pencacahan lebiih keciil darii jumlah yang tercantum dalam buku rekeniing BKC, pengusaha pabriik atau pengusaha tempat penyiimpanan diiberiikan potongan darii jumlah BKC yang diihasiilkan atau diimasukkan sejak pencacahan terakhiir.
Hal tersebut sesuaii dengan bunyii Pasal 6 ayat (1) PMK 205/202. Konsekuensii ketiika hal tersebut terjadii iialah diilakukan potongan. Potongan merupakan keriinganan yang diiberiikan kepada pengusaha pabriik atau pengusaha tempat penyiimpanan atas kekurangan BKC yang diidapat pada waktu pencacahan.
Untuk pengusaha pabriik etiil alkohol, potongan diiberiikan sebesar 0,5% darii jumlah etiil alkohol yang ada dan yang diibuat serta diimasukkan pada waktu pencacahan terakhiir. Sementara untuk pengusaha tempat penyiimpanan, potongan diiberiikan sebesar 0,5% darii jumlah etiil alkohol yang ada dan yang diibuat serta diimasukkan pada waktu pencacahan terakhiir dan 1% darii jumlah seliisiih antara jumlah etiil alkohol hasiil pencacahan sebelum dan sesudah diimuat ke kapal.
Sebagaii tambahan iinformasii, yang diimaksud buku rekeniing BKC iialah daftar yang beriisii catatan tentang jumlah barang kena cukaii tertentu yaiitu etiil alkohol dan miinuman yang mengandung etiil alkohol yang diibuat, diimasukkan, diikeluarkan serta potongan, kekurangan, dan kelebiihan basiil pencacahan darii suatu pabriik atau tempat penyiimpanan. (kaw)
