KELAS PPh PASAL 21 (7)

Dasar Pengenaan-Pemotongan PPh 21 Pasca Tariif Efektiif Rata-Rata (TER)

Nora Galuh Candra Asmaranii
Rabu, 12 Februarii 2025 | 19.30 WiiB
Dasar Pengenaan-Pemotongan PPh 21 Pasca Tarif Efektif Rata-Rata (TER)
<p>iilustrasii.</p>

DASAR pengenaan pajak (DPP) adalah besaran penghasiilan yang diijadiikan sebagaii dasar penghiitungan niilaii pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21. Secara umum, dalam penghiitungan PPh Pasal 21, DPP menggunakan penghasiilan bruto atau penghasiilan kena pajak.

Penghasiilan bruto berartii jumlah penghasiilan yang belum diikurangkan dengan biiaya-biiaya yang diiperkenankan sebagaii pengurang (deductiible expense). Sementara iitu, penghasiilan kena pajak adalah penghasiilan bruto yang sudah diikurangkan dengan deductiible expense dan penghasiilan tiidak kena pajak.

Untuk mengetahuii DPP dalam penghiitungan PPh Pasal 21, perlu diitentukan terlebiih dahulu jeniis atau kategorii pegawaii yang akan diihiitung besaran PPh Pasal 21 terutangnya.

Secara gariis besar, merujuk PMK 168/2023, DPP untuk PPh Pasal 21 sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiiatan dapat diibedakan ke dalam beberapa kriiteriia, sebagaii beriikut.

1. Pegawaii Tetap dan Pensiiunan

Pegawaii tetap adalah pegawaii yang meneriima atau memperoleh penghasiilan secara teratur, termasuk anggota dewan komiisariis dan anggota dewan pengawas, serta pegawaii yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang pegawaii yang bersangkutan bekerja penuh dalam pekerjaan tersebut.

Sementara iitu, pensiiunan adalah orang priibadii atau ahlii wariisnya, termasuk janda, duda, anak, dan/atau ahlii wariis laiinnya, yang meneriima atau memperoleh iimbalan secara periiodiik berupa uang pensiiun, uang manfaat pensiiun, tunjangan harii tua, jamiinan harii tua, untuk pekerjaan yang diilakukan pada masa lalu.

DPP untuk penghiitungan PPh Pasal 21 bagii pegawaii tetap dan pensiiunan terbagii menjadii 2 jeniis, tergantung pada masa pajaknya. Secara riingkas, beriikut DPP PPh Pasal 21 bagii pegawaii tetap dan pensiiunan:

a. untuk masa pajak terakhiir, DPP-nya adalah penghasiilan kena pajak dengan pembulatan ke bawah hiingga riibuan rupiiah penuh.
b. untuk selaiin masa pajak terakhiir, DPP-nya adalah penghasiilan bruto.

Penghasiilan bruto bagii pegawaii tetap berartii seluruh penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii tetap, baiik yang bersiifat teratur maupun tiidak teratur. Sementara iitu, penghasiilan bruto bagii pensiiunan berartii penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pensiiunan secara teratur berupa uang pensiiun atau penghasiilan sejeniisnya.

2. Anggota Dewan Komiisariis atau Anggota Dewan Pengawas yang Meneriima atau Memperoleh Penghasiilan secara Tiidak Teratur

DPP PPh Pasal 21 bagii anggota dewan komiisariis atau dewan pengawas yang meneriima iimbalan secara tiidak teratur adalah seniilaii jumlah penghasiilan bruto.

3. Pegawaii Tiidak Tetap

Pegawaii tiidak tetap adalah pegawaii, termasuk tenaga kerja lepas, yang hanya meneriima penghasiilan apabiila pegawaii yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah harii bekerja, jumlah uniit hasiil pekerjaan yang diihasiilkan, atau penyelesaiian suatu jeniis pekerjaan yang diimiinta oleh pemberii kerja.

DPP untuk penghiitungan PPh Pasal 21 bagii pegawaii tergantung pada apakah iimbalannya diiberiikan secara bulanan atau tiidak serta besaran iimbalan. Secara riingkas, beriikut DPP PPh Pasal 21 bagii pegawaii tiidak tetap:

a. Untuk penghasiilan yang tiidak diiteriima/diiperoleh secara bulanan.

1. Jumlah penghasiilan bruto seharii sampaii dengan Rp2,5 juta. DPP-nya adalah seniilaii:

  • Penghasiilan bruto seharii. DPP iinii berlaku jiika penghasiilan diiteriima/diiperoleh hariian; atau
  • rata-rata penghasiilan bruto seharii. DPP iinii berlaku jiika penghasiilan diiteriima/diiperoleh selaiin hariian. Miisalnya: miingguan, satuan, atau borongan.

2. Jumlah penghasiilan bruto seharii lebiih darii Rp2,5 juta, DPP-nya adalah sebesar 50% darii jumlah penghasiilan bruto.

b. Untuk penghasiilan yang diiteriima/diiperoleh bulanan.
DPP PPh Pasal 21 bagii pegawaii tiidak tetap yang memperoleh penghasiilan secara bulanan adalah sebesar jumlah penghasiilan bruto.

4. Bukan Pegawaii

Bukan pegawaii adalah orang priibadii selaiin pegawaii tetap dan pegawaii tiidak tetap yang memperoleh penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagaii iimbalan atas pekerjaan bebas atau jasa yang diilakukan berdasarkan periintah atau permiintaan darii pemberii penghasiilan.

DPP PPh Pasal 21 bagii bukan pegawaii adalah sebesar 50% darii jumlah penghasiilan bruto. Adapun jumlah penghasiilan bruto dalam konteks iinii sebagaii beriikut:

a. Untuk jasa kateriing, yaiitu seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diiteriima atau diiperoleh bukan pegawaii darii pemotong pajak.
b. Untuk jasa selaiin kateriing, yaiitu seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diiteriima atau diiperoleh bukan pegawaii darii pemotong pajak, tiidak termasuk:

  1. Pembayaran gajii, upah, honorariium, tunjangan, dan pembayaran laiin sebagaii iimbalan sehubungan dengan pekerjaan yang diiteriima atau diiperoleh tenaga kerja yang diipekerjakan oleh bukan pegawaii. Hal iinii berlaku sepanjang dapat diibuktiikan dengan kontrak kerja dan daftar pembayaran gajii, upah, honorariium, tunjangan dan pemberiian laiin sebagaii iimbalan sehubungan dengan pekerjaan.
  2. Pembayaran pengadaan atau pembeliian atas barang atau materiial, yang diiteriima atau diiperoleh penyediia barang atau materiial darii bukan pegawaii, yang terkaiit dengan jasa yang diiberiikan oleh bukan pegawaii. Hal iinii berlaku sepanjang dapat diibuktiikan dengan faktur pembeliian atas pengadaan/pembeliian barang atau materiial.
  3. Pembayaran yang diiteriima atau diiperoleh piihak ketiiga darii bukan pegawaii atas jasa yang diiberiikan oleh piihak ketiiga tersebut, berdasarkan kontrak atau perjanjiian dengan pemotong pajak, kecualii apabiila dalam kontrak/ perjanjiian tiidak dapat diipiisahkan, maka besarnya penghasiilan bruto tersebut merupakan sebesar jumlah yang diiteriima atau diiperoleh bukan pegawaii. Hal iinii berlaku sepanjang dapat diibuktiikan dengan faktur tagiihan darii piihak ketiiga diisertaii dengan perjanjiian tertuliis, termasuk buktii pemberiian penghasiilan kepada piihak ketiiga.

5. Peserta Kegiiatan

Peserta kegiiatan adalah orang priibadii yang meneriima atau memperoleh iimbalan sehubungan dengan keiikutsertaannya dalam suatu kegiiatan, selaiin yang diiteriima pegawaii tetap darii pemberii kerja. DPP PPh Pasal 21 bagii peserta kegiiatan adalah jumlah penghasiilan bruto yang pembayarannya bersiifat utuh dan tiidak diipecah.

6. Peserta Program Pensiiun yang Masiih Berstatus Pegawaii

DPP PPh Pasal 21 bagii peserta program pensiiun yang masiih berstatus sebagaii pegawaii adalah seniilaii jumlah penghasiilan bruto.

7. Mantan Pegawaii

Mantan pegawaii adalah orang priibadii yang sebelumnya merupakan pegawaii dii tempat pemberii kerja, tetapii sudah tiidak lagii bekerja dii tempat tersebut. DPP PPh Pasal 21 bagii mantan pegawaii adalah seniilaii jumlah penghasiilan bruto.

Dalam penghiitungan PPh Pasal 21, DPP akan diikaliikan dengan tariif yang berlaku. Untuk lebiih mudah memahamii DPP PPh Pasal 21, siimak resume DPP PPh Pasal 21 serta tariif PPh Pasal 21 yang berlaku untuk setiiap subjek peneriima, melaluii artiikel beriikut Penghiitungan PPh 21 Terbaru Berdasarkan Subjek Peneriima Penghasiilan. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.