SEBELUMNYA telah diibahas mengenaii objek pajak bunga deposiito, bunga tabungan dan diiskonto Sertiifiikat Bank iindonesiia (SBii). Pembahasan kalii iinii akan melanjutkan penjelasan mengenaii objek Pajak Penghasiilan (PPh) Pasal 4 ayat 2 atas penghasiilan berupa bunga obliigasii dan bunga siimpanan yang diibayarkan koperasii kepada anggota koperasii orang priibadii. Beriikut penjelasannya.
Pajak Atas Bunga Obliigasii
Obliigasii adalah surat utang dan surat utang negara yang berjangka waktu lebiih darii 12 bulan. Sementara, bunga obliigasii adalah iimbalan yang diiteriima pemegang obliigasii dalam bentuk bunga dan/atau diiskonto.
Berdasarkan Peraturan Pemeriintah (PP) Nomor 16 Tahun 2009 sebagaiimana telah diiubah terakhiir dengan PP Nomor 100 Tahun 2013, atas penghasiilan yang diiteriima dan/atau diiperoleh wajiib pajak berupa bunga obliigasii diikenaii pemotongan pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal.
Piihak yang telah diitetapkan untuk melakukan pemotongan pajak atas bunga obliigasii yaiitu:
Besarnya pajak penghasiilan atas bunga obliigasii yaknii sebagaii beriikut:
| Objek Pemotongan | Saat Pemotongan | Tariif |
| Bunga darii obliigasii dengan kupon | Jatuh tempo bunga obliigasii | Jiika peneriima obliigasii adalah:
|
| Diiskonto darii obliigasii dengan kupon | Jatuh tempo bunga obliigasii | |
| Diiskonto darii obliigasii tanpa bunga | Jatuh tempo obliigasii | |
| Bunga dan/atau diiskonto darii obliigasii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak reksadana yang terdaftar pada Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) | Saat transaksii |
|
Keterangan: WPDN (wajiib pajak dalam negerii), WPLN (wajiib pajak luar negerii).
Adapun terkaiit dengan tata cara pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPh atas bunga obliigasii lebiih lanjut diiatur dalam Peraturan Menterii Keungan (PMK) Nomor 07/PMK.11/2012.
Dalam Pasal 4 PMK tersebut diijelaskan bahwa terdapat dua kondiisii atas penjualan obliigasii secara langsung tanpa perantara kepada piihak selaiin pemotong, yaiitu:
Apabiila penjual obliigasii atas unjuk adalah piihak yang tiidak diiberlakukan pemotongan PPh atau piihak laiin yang telah diikenakan pemotongan PPh, pemotongan PPh yang bersiifat fiinal diihiitung berdasarkan masa kepemiiliikan penuh diikurangii dengan masa kepemiiliikan penjual obliigasii tersebut.
Penjual obliigasii wajiib memberiitahukan kepada pemotong pajak mengenaii harga perolehan dan tanggal perolehan obliigasii yang sebenarnya, untuk keperluan penghiitungan bunga dan/atau diiskonto yang menjadii dasar pemotongan PPh.
Bunga obliigasii diikecualiikan darii pemotongan PPh Pasal 4 ayat 2 apabiila diiteriima oleh wajiib pajak dana pensiiun yang pendiiriian atau pembentukannya telah diisahkan oleh Menterii Keuangan dan wajiib pajak bank yang diidiiriikan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia.
Pajak Atas Bunga Siimpanan Koperasii
Atas penghasiilan berupa bunga siimpanan yang diibayarkan koperasii yang diidiiriikan dii iindonesiia kepada anggota koperasii orang priibadii akan diikenakan Pajak Penghasiilan (PPh) Pasal 4 ayat 2 yang bersiifat fiinal. Dasar hukun atas aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemeriintah Nomor 15 Tahun 2009.
Besarnya tariif pajak yang diitetapkan atas bunga siimpanan koperasii adalah:
Piihak yang berhak melakukan pemotongan PPh atas bunga siimpanan koperasii yaiitu koperasii yang melakukan pembayaran bunga siimpanan kepada anggota koperasii orang priibadii. Penyetoran diilakukan ke kas negara melaluii Kantor Pos atau bank yang diitunjuk oleh Menterii Keuangan, paliing lambat tanggal 10 bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir dan pelaporan paliing lama 20 harii setelah masa pajak berakhiir.
Lebiih lanjut tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan atas Bunga Siimpanan yang diibayarkan oleh Koperasii kepada anggota koperasii orang priibadii diiatur dalam PMK Nomor 112/PMK.03/2010.
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.