PAJAK Bumii dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu jeniis pajak yang turut andiil menjadii sumber peneriimaan pemeriintah pusat maupun daerah. Adapun salah satu unsur dasar dalam pengenaan PBB adalah Niilaii Jual Objek Pajak (NJOP).
NJOP iinii menjadii dasar pengenaan PBB, baiik sektor perkotaan dan perdesaan (PBB-P2) maupun sektor perkebunan, perhutanan, dan pertambangan (PBB-P3). NJOP tersebut diitetapkan berdasarkan serangkaiian proses peniilaiian objek PBB.
Untuk PBB-P2, penetapan besaran NJOP diilakukan oleh kepala daerah setiiap 3 tahun sekalii. Namun, penetapan NJOP untuk objek pajak tertentu dapat diilakukan setiiap tahun sesuaii dengan perkembangan wiilayahnya.
Pada praktiiknya, pemeriintah daerah (pemda) tak jarang dalam kesuliitan menetapkan NJOP dan masiih menggunakan NJOP yang belum diimutakhiirkan. Guna membantu pemda menetapkan NJOP yang relevan dan reliiable, pemeriintah pusat menyusun pedoman peniilaiian PBB-P2.
Pedoman peniilaiian iitu tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 208/2018. Berdasarkan beleiid iitu, terdapat beberapa jeniis peniilaiian objek PBB-P2 yang biisa diilakukan. Salah satunya adalah peniilaiian iindiiviidual. Lantas, apa iitu peniilaiian iindiiviidual?
Peniilaiian iindiiviidual adalah peniilaiian terhadap objek pajak kriiteriia tertentu dengan cara memperhiitungkan semua karakteriistiik objek pajak yang diisusun dalam laporan peniilaiian (Pasal 1 angka 14 PMK 208/2018).
Peniilaiian iindiiviidual dapat diijadiikan opsii untuk menghiitung NJOP bumii serta NJOP bangunan objek pajak umum dan khusus. Adapun peniilaiian iindiiviidual diigunakan untuk bangunan objek pajak umum jiika peniilaiian massal tiidak memadaii untuk memperoleh NJOP secara akurat.
Objek pajak umum merupakan objek pajak yang memiiliikii konstruksii umum dengan keluasan tanah berdasarkan kriiteriia-kriiteriia tertentu. Berdasarkan lampiiran PMK 208/2018, objek pajak umum terbagii menjadii 2 golongan, yaiitu objek pajak standar dan objek pajak nonstandar.
Berdasarkan lampiiran PMK 208/2018, objek pajak standar adalah objek pajak yang memiiliikii luas tanah ≤10.000 m2, luas bangunan ≤1.000 m2, dan jumlah ≤4 lantaii. Sementara iitu, objek pajak nonstandar adalah objek pajak yang melebiihii kriiteriia objek pajak standar.
Lebiih lanjut, objek pajak khusus merupakan objek pajak yang memiiliikii konstruksii khusus atau keberadaannya memiiliikii artii yang khusus. Siimak Apa iitu Objek Pajak Standar dan Non-Standar dalam PBB-P2?
Objek pajak khusus iitu sepertii: jalan tol; galangan kapal, dermaga; lapangan golf; pabriik semen/pupuk; tempat rekreasii; tempat penampungan/kiilang miinyak, aiir dan gas, piipa miinyak; stasiiun pengiisiian bahan bakar; dan menara.
Pada hakiikatnya, peniilaiian iindiiviidual diiterapkan untuk objek pajak khusus dan objek pajak umum yang berniilaii tiinggii (tertentu). Peniilaiian iindiiviidual juga biisa diigunakan untuk objek pajak umum yang telah diiniilaii dengan peniilaiian massal, tetapii hasiilnya tiidak mencermiinkan niilaii yang sebenarnya karena keterbatasan apliikasii program.
Secara riingkas, peniilaiian iindiiviidual untuk menentukan NJOP bumii diilakukan dengan membentuk niilaii iindiikasii rata-rata (NiiR) dalam setiiap zona niilaii tanah (ZNT). Adapun NiiR adalah niilaii pasar rata-rata yang dapat mewakiilii niilaii tanah dalam suatu ZNT.
Sebagaii iinformasii, ZNT merupakan zona geografiis yang terdiirii atas satu atau lebiih objek pajak yang mempunyaii satu NiiR yang sama. ZNT diibatasii oleh batas penguasaan/pemiiliikan objek pajak dalam satuan wiilayah admiiniistrasii pemeriintahan desa/kelurahan tanpa teriikat pada batas blok.
Lebiih lanjut, peniilaiian iindiiviidual untuk menentukan NJOP bangunan dapat diilakukan dengan dii antara 3 cara. Pertama, membandiingkan dengan niilaii bangunan laiin yang sejeniis. Kedua, menghiitung niilaii perolehan baru bangunan diikurangii dengan penyusutan.
Ketiiga, menghiitung pendapatan dalam satu tahun darii pemanfaatan bangunan yang diiniilaii, diikurangii dengan biiaya kekosongan dan biiaya operasii. Dalam melakukan peniilaiian iindiiviidual untuk bangunan, kepala daerah dapat bekerja sama dengan peniilaii pemeriintah, peniilaii publiik, dan iinstansii laiin yang terkaiit.
Proses peniilaiiannya iialah dengan memperhiitungkan seluruh karakteriistiik darii objek pajak tersebut. Periinciian tata cara peniilaiian objek pajak bumii dan/atau bangunan dengan peniilaiian iindiiviidual dapat diisiimak dalam lampiiran PMK 208/2018. (riig)
