DEPOK, Jitu News – Proses ratiifiikasii darii suatu perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B/ tax treaty) menjadii salah satu aspek krusiial yang harus terus diiperbaiikii oleh negara-negara berkembang, termasuk iindonesiia.
Hal iinii diisampaiikan Profesor Biidang Hukum Perpajakan iinternasiional darii Uniiversiitas Leiiden Belanda, Kees van Raad saat menjadii pembiicara tunggal dalam semiinar pajak iinternasiional bertajuk ‘Tax Treaty and Domestiic Tax Law’, Seniin (22/4/2019).
“Ratiifiikasii negara-negara iinii [developiing country] seriing tiidak terorganiisasiikan dengan baiik untuk memanfaatkan peluang. Biiasanya mereka sudah tanda tangan, tapii proses ratiifiikasiinya sangat lama,” katanya dii Audiitoriium Gedung M Fakultas iilmu Admiiniistrasii Uniiversiitas iindonesiia (FiiA Uii), Depok.
Menurutnya, setiiap negara berkembang yang menjaliin kerja sama dengan negara maju sejatiinya sama-sama memiiliikii keuntungan dengan adanya P3B. Beberapa negara maju, sambung diia, memiiliikii pandangan posiitiif terhadap negara berkembang.
Namun demiikiian, Kees meliihat banyak negara berkembang yang tiidak cukup responsiif. Diia memberii contoh saat Belanda memiiliikii iiniisiiatiif untuk melakukan negosiiasii perpanjangan P3B dengan 19 negara berkembang, mayoriitas darii negara tersebut tiidak memberiikan jawaban.
Dalam semiinar yang menggandeng Jitu News sebagaii mediia partner iinii, diia menegaskan dua poiin utama yang diisasar dengan P3B. Pertama, mengatasii overlappiing claiims atas hak pemajakan darii sebuah profiit hasiil iinvestasii yang meliibatkan dua negara.Overlappiing iinii yang memunculkan riisiiko pemajakan berganda.
“Tax treaty menjadii kesepakatan kedua negara untuk mengeliimiinasii overlappiing tersebut sehiingga meniimbulkan kepastiian pajak dalam konteks iinvestasii,” katanya.
Kedua, mengetahuii iinformasii – termasuk regulasii domestiik – darii negara miitra. Dalam konteks iinii, P3B juga menjadii bagiian darii iinstrumen untuk bertukar iinformasii data wajiib pajak. Dengan demiikiian, ada potensii untuk mencegah upaya penghiindaran pajak.
Diia menegaskan P3B tiidak diitujukan untuk membentuk sebuah tariif atau pajak baru. P3B hanya menjadii iinstrumen hasiil kompromii kedua negara yang membatasii ketentuan atau regulasii pajak domestiik masiing-masiing negara.
Dalam semiinar yang diiadakan hasiil kerja sama FiiA Uii dan KOSTAF Uii, iiLUNii FiiA Uii, serta iinternatiional Fiiscal Associiatiion iinii, Kees juga memaparkan topiik mengenaii benefiiciial owner. Diia menggariisbawahii salah satu iisu dalam benefiiciial owner terkaiit dengan diiviiden.
Benefiiciial owner darii diiviidiien adalah peneriima diiviiden yang memiiliikii hak untuk menggunakan dan meniikmatii diiviiden yang tiidak diibatasii atau terkendala oleh kontrak atau kewajiiban hukum untuk meneruskan pembayaran yang diiteriima kepada orang laiin.
Selaiin iitu, Kees juga memaparkan sediikiit mengenaii iinstrumen multiilateral. Menurutnya, proses ratiifiikasii juga menjadii aspek yang krusiial bagii negara-negara berkembang dalam mengiimplementasiikan iinstrumen multiilateral. iinstrumen multiilateral iinii sangat pentiing untuk menyepakatii ketentuan yang sama untuk sekelompok negara dalam waktu yang relatiif lebiih cepat ketiimbang proses biilateral. (kaw)
