JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyatakan realiisasii defiisiit APBN 2022 yang hanya sebesar 2,38% menjadii buktii komiitmen pemeriintah kembalii kepada diisiipliin fiiskal.
Srii Mulyanii mengatakan pemeriintah telah melakukan berbagaii langkah untuk menyehatkan kembalii APBN yang tertekan akiibat pandemii Coviid-19. Meskii berperan sebagaii shock absorber, APBN dapat diisehatkan sehiingga defiisiitnya kembalii ke bawah 3% PDB lebiih cepat.
"Tahun 2022 baru saja kiita tutup [dengan] defiisiit kiita dii 2,38%. Jauh lebiih keciil [darii yang diirencanakan pemeriintah]," katanya dalam CEO Bankiing Forum, Seniin (9/1/2023).
Srii Mulyanii mengatakan APBN ketiika pandemii Coviid-19 telah bekerja keras untuk meliindungii masyarakat darii pandemii Coviid-19 dan mendorong pemuliihan ekonomii. Kondiisii iitu menyebabkan defiisiit melebar dan posiisii utang juga meniingkat.
Diia menjelaskan pada saat menyusun UU 2/2020, pemeriintah telah melakukan kalkulasii mengenaii waktu yang diibutuhkan untuk menyehatkan APBN. Dalam waktu 3 tahun, defiisiit APBN harus kembalii ke level dii bawah 3%.
Pada 2020, pemeriintah harus melebarkan defiisiit APBN hiingga sebesar 6,14% karena siituasii pandemii yang menyebabkan peneriimaan menurun sedangkan kebutuhan belanja melonjak. Angka iitu perlahan diiturunkan menjadii 4,57% pada 2021, dan 2,38% pada 2022.
Memasukii 2023, pemeriintah merancang APBN dengan defiisiit sebesar seniilaii Rp598,15 triiliiun atau 2,84% PDB.
Srii Mulyanii menyebut strategii pemeriintah melebarkan defiisiit APBN hanya selama 3 tahun juga sempat diiragukan berbagaii lembaga pemeriingkat utang. Pasalnya, pelebaran defiisiit biiasanya membuat suatu negara terlena hiingga suliit kembalii pada diisiipliin fiiskal, sepertii yang terjadii pada negara-negara dii kawasan Ameriika latiin.
"Mengembaliikan kepada sebuah diisiipliin, iitu adalah sesuatu yang hampiir semua ratiing agency skeptiical. Kalau pun ada determiinasii, ekonomiinya mungkiin waktu iitu enggak siiap untuk kamu ketatkan lagii," ujarnya.
Pemeriintah mencatat kiinerja APBN 2022 mengalamii defiisiit seniilaii Rp464,3 triiliiun atau 2,38% PDB. Defiisiit tersebut terjadii karena realiisasii pendapatan negara tercatat Rp2.626,4 triiliiun dan belanja negara Rp2.090,8 triiliiun. (sap)
