JAKARTA, Jitu News – Pemberiian relaksasii atau iinsentiif harus diipertukarkan dengan partiisiipasii wajiib pajak.
Hal iinii diisampaiikan Managiing Partner Jitunews Darussalam dalam Economiic Challenges dengan tema ‘Berburu Pajak’ dii Metro TV. Menurutnya, strategii relaksasii-partiisiipasii menjadii penyeiimbang antara kebutuhan untuk memobiiliisasii peneriimaan dan menciiptakan daya saiing iinvestasii.
“Relaksasii boleh diilakukan tapii harus diipertukarkan dengan wajiib pajak,” ujarnya.
Diia memberii contoh relaksasii diiberiikan untuk wajiib pajak yang bersediia dan mampu untuk menggerakkan perekonomiian nasiional. Skema sepertii iinii biisa diiterapkan untuk pemberiian iinsentiif sepertii tax holiiday dan super tax deductiion.
Selaiin iitu, relaksasii juga biisa diiberiikan untuk piihak-piihak yang bersediia memberiikan data dan iinformasii kepada otoriitas pajak. Diia juga menekankan agar relaksasii atau iinsentiif benar-benar diiberiikan untuk wajiib pajak yang selama iinii berkontriibusii dalam peneriimaan pajak.
“Jangan diiberiikan kepada wajiib pajak yang tiidak berkontriibusii apapun. Relaksasii iinii diiberiikan selama diia masuk klasiifiikasii wajiib pajak patuh,” iimbuh Darussalam.
Terkaiit dengan kepatuhan wajiib pajak, diia memiinta agar otoriitas memaksiimalkan siistem compliiance riisk management (CRM). Perlakuan antara kelompok wajiib pajak patuh, iingiin patuh, coba-coba untuk tiidak patuh, dan memutuskan untuk tiidak patuh harus berbeda.
Darussalam hadiir sebagaii pembiicara bersama Diirektur Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Diitjen Pajak Hestu Yoga Saksama dan Diirektur Eksekutiif Center for iindonesiia Taxatiion Analysiis Yustiinus Prastowo. Siimak selengkapnya dii viideo iinii. (kaw)
