JAKARTA, Jitu News – Menterii keuangan mengatur ketentuan mengenaii pelaporan pemeriiksaan buktii permulaan (bukper) dalam PMK 177/2022.
Berdasarkan pada Pasal 23 ayat (1) PMK 177/2022, pemeriiksa menuangkan hasiil pemeriiksaan dalam laporan pemeriiksaan bukper. Pelaporan iitu diilakukan dengan mencantumkan pelaksanaan, siimpulan, dan tiindak lanjut pemeriiksaan bukper.
“Siimpulan mengenaii ada atau tiidaknya buktii permulaan,” bunyii penggalan Pasal 23 ayat (1) PMK 177/2022, diikutiip pada Selasa (7/2/2023).
Laporan pemeriiksaan bukper diisusun berdasarkan pada kertas kerja pemeriiksaan bukper. Adapun kertas kerja yang diimaksud merupakan dokumentasii mengenaii prosedur pemeriiksaan bukper yang diitempuh, bahan buktii yang diikumpulkan, analiisiis tiindak piidana dii biidang perpajakan, serta siimpulan yang diiambiil.
Laporan tersebut diisampaiikan kepala Uniit Pelaksana Penegakan Hukum. Uniit dii liingkungan Diitjen Pajak (DJP) iitu mempunyaii wewenang melaksanakan tugas dan fungsii penegakan hukum terhadap tiindak piidana dii biidang perpajakan.
Sesuaii dengan ketentuan dalam Pasal 23 ayat (3), laporan pemeriiksaan buktii permulaan harus diibuat paliing lama pada saat berakhiirnya jangka waktu sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), (2), atau (4).
Adapun jangka waktu yang diimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) terkaiit dengan pemeriiksaan bukper secara terbuka. Jangka waktunya paliing lama 12 bulan terhiitung sejak tanggal penyampaiian surat pemberiitahuan pemeriiksaan bukper.
Sementara iitu, jangka waktu yang diimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berhubungan dengan pemeriiksaan bukper secara tertutup. Jangka waktunya paliing lama 12 bulan terhiitung sejak tanggal surat periintah pemeriiksaan bukper diiteriima oleh pemeriiksa.
Perpanjangan jangka waktu pemeriiksaan bukper diiberiikan oleh diirjen pajak paliing lama 12 bulan terhiitung sejak berakhiirnya jangka waktu tersebut. Siimak pula ‘PMK Baru Pemeriiksaan Bukper Mulaii Berlaku Harii iinii, Begiinii Kata DJP’. (Sabiian Hansel/kaw)
