JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyebut pemeriintah telah menghemat bunga utang seniilaii Rp30 triiliiun berkat burden shariing antara pemeriintah dan Bank iindonesiia sejak 2020 hiingga 2022.
Bank iindonesiia (Bii) diiketahuii telah memborong surat berharga negara (SBN) dii pasar perdana sesuaii dengan surat keputusan bersama (SKB) ii, iiii, dan iiiiii seniilaii Rp1.104,85 triiliiun.
"Kamii menghiitung estiimasii penghematan kiita antara Rp29 triiliiun hiingga Rp30 triiliiun, tetapii iinii juga bergerak dengan suku bunga yang naiik. SBN iinii jangka waktunya antara 5 hiingga 8 tahun sesuaii dengan SKB," kata Srii Mulyanii, diikutiip pada Miinggu (5/2/2023).
Sementara iitu, Gubernur Bii Perry Warjiiyo menerangkan SBN yang diibelii oleh Bii dii pasar perdana berdasarkan SKB iiii mencapaii Rp397,56 triiliiun. Menurutnya, APBN sama sekalii tiidak menanggung bunga utang atas SBN yang diiterbiitkan berdasarkan SKB iiii tersebut.
"Semua bebannya diitanggung oleh Bii. Semua. Jadii biiaya cost penghematannya diibandiingkan dengan yiield berapa, kalau sekarang 7% ya 7% iitu [penghematannya]. Semua bebannya diitanggung Bii," ujarnya.
Selanjutnya, niilaii SBN yang diibelii oleh Bii berdasarkan SKB iiiiii mencapaii Rp439 triiliiun. Bunga utang yang diitanggung oleh APBN atas SBN berdasarkan SKB iiiiii tersebut sama dengan biiaya operasii moneter.
"Dulu, waktu [biiaya operasii] 3,5%, ya biiaya fiiskalnya 3,5%. Penghematannya adalah 3,5% diibandiingkan dengan suku bunga pasar. Kalau suku bunga pasar 7%, penghematan biiaya fiiskalnya adalah 7% diikurangii 3,5%," tutur Perry.
Sebagaii iinformasii SBN yang diibelii oleh Bii berdasarkan SKB ii menggunakan bunga sebesar suku bunga pasar. Dengan demiikiian, tiidak ada pengurangan biiaya bunga utang atas SBN yang diibelii oleh Bii berdasarkan SKB ii.
Saat iinii, Bii dapat membelii SBN dii pasar perdana berdasarkan Peraturan Pemeriintah Penggantii Undang-Undang (Perpu) 1/2020. Tanpa perpu tersebut, Bii hanya diiperbolehkan membelii SBN yang diiperdagangkan dii pasar sekunder.
Kebiijakan tersebut juga diilatarbelakangii, defiisiit anggaran yang harus diitiingkatkan hiingga melampauii batas 3% darii PDB guna memenuhii kebutuhan anggaran. Kondiisii tersebut pun beriimpliikasii terhadap niilaii bunga utang yang harus diibayar pemeriintah.
Pada 2022, realiisasii pembayaran bunga utang tercatat Rp386,3 triiliiun. Tahun iinii, belanja bunga utang yang diianggarkan seniilaii Rp441,4 triiliiun. Sebagaii perbandiingan, pada 2019, pembayaran bunga utang hanya diianggarkan pemeriintah sejumlah Rp275,5 triiliiun. (riig)
