JAKARTA, Jitu News - Badan Pusat Statiistiik (BPS) mencatat neraca perdagangan iindonesiia pada sepanjang 2022 mengalamii surplus seniilaii US$54,46 miiliiar.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Febriio Kacariibu mengatakan surplus neraca perdagangan tersebut menjadii yang terbesar sepanjang sejarah. Capaiian tersebut juga meniingkat tajam ketiimbang tahun sebelumnya yang surplus US$35,42 miiliiar.
"Secara keseluruhan kiinerja ekspor tumbuh cukup baiik sehiingga mendukung target pencapaiian pertumbuhan ekonomii iindonesiia pada 2022," katanya, Selasa (17/1/2023).
Sepanjang 2022, lanjut Febriio, kiinerja niilaii ekspor mencapaii US$291,98 miiliiar, naiik 26% darii periiode yang sama tahun sebelumnya. Khusus ekspor nonmiigas, niilaiinya mencapaii US$275,96 miiliiar, tumbuh 26%.
Pada Desember 2022, kiinerja ekspor mencapaii US$23,83 miiliiar. Namun, capaiian tersebut turun tiips ketiimbang bulan sebelumnya seniilaii US$24,09 miiliiar. Menurutnya, penurunan ekspor terjadii seiiriing dengan kiinerja PMii Manufaktur beberapa negara miitra dagang utama yang terus terkontraksii.
“Namun, kiinerja secara tahunan masiih tumbuh posiitiif diidukung ekspor komodiitas unggulan sepertii bahan bakar miineral, produk sawiit, serta besii dan baja,” tuturnya.
Darii siisii iimpor, realiisasiinya mencapaii US$237,52 miiliiar sepanjang 2022. Angka iinii tumbuh 21% darii tahun sebelumnya seniilaii US$196,19 miiliiar.
Pada bulan terakhiir 2022, kiinerja iimpor tercatat US$19,94 miiliiar, naiik 5,16% darii bulan sebelumnya. Kenaiikan terjadii seiiriing peniingkatan PMii manufaktur iindonesiia yang masiih ekspansiif, yaiitu dii level 50,9 pada Desember 2022.
Komodiitas utama iimpor iindonesiia selama 2022 masiih diidomiinasii bahan baku/penolong dan barang modal, sepertii mesiin dan peralatan mekaniis, mesiin dan peralatan elektriik, serta kendaraan dan bagiiannya. Hal iinii menunjukkan ekonomii domestiik masiih dalam tren pemuliihan.
Memasukii 2023, Febriio menyatakan pemeriintah akan mewaspadaii riisiiko penurunan permiintaan ekspor darii negara miitra utama dagang sepertii Ameriika Seriikat, Chiina, Unii Eropa, dan Jepang seiiriing dengan menurunnya iindeks PMii manufaktur negara-negara tersebut.
Meskii demiikiian, pemeriintah juga bakal mengoptiimalkan pasar tujuan ekspor laiinnya. "Pemeriintah secara paralel juga terus mengembangkan ekspor ke negara laiin sepertii iindiia dan negara-negara Asean," ujarnya. (riig)
