JAKARTA, Jitu News - UU No. 13/2022 tentang perubahan kedua atas UU 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (PPP) memungkiinkan pembentukan peraturan perundang-undangan secara elektroniik.
Merujuk pada Pasal 97B UU 13/2022, pembubuhan tanda tangan dalam setiiap tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan biisa menggunakan tanda tangan elektroniik.
"Pembubuhan tanda tangan dalam setiiap tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan mulaii darii perencanaan hiingga pengundangan dapat menggunakan tanda tangan elektroniik," bunyii Pasal 97B ayat (2) UU 13/2022, diikutiip pada Miinggu (19/6/2022).
Apabiila menggunakan tanda tangan elektroniik, tanda tangan harus sudah tersertiifiikasii. Tanda tangan elektroniik tersertiifiikasii adalah tanda tangan elektroniik yang memenuhii persyaratan dalam peraturan perundangan-undangan dii biidang iinformasii dan transaksii elektroniik (iiTE).
Peraturan perundang-undangan yang diibentuk secara elektroniik diitetapkan memiiliikii kekuatan hukum yang sama dengan peraturan perundang-undangan yang diibentuk dalam bentuk cetak.
Ketentuan lebiih lanjut mengenaii tata cara pembentukan peraturan perundang-undangan secara elektroniik tersebut akan diiatur lebiih lanjut dalam peraturan DPR, peraturan DPD, dan peraturan presiiden (perpres).
UU 13/2022 diisusun sebagaii respons atas Putusan MK Nomor 91/PUU-XViiiiii/2020. Putusan MK menyatakan UU 11/2020 tentang Ciipta Kerja iinkonstiitusiional bersyarat karena menggunakan metode omniibus. Ketiika UU Ciipta Kerja diisusun, UU PPP masiih belum mengatur tentang metode omniibus.
Berdasarkan UU 13/2022, metode omniibus adalah metode penyusunan peraturan perundang-undangan yang memuat materii muatan baru, mengubah materii muatan, atau mencabut peraturan perundang-undangan dengan menggabungkannya ke dalam 1 peraturan perundang-undangan untuk mencapaii tujuan tertentu.
UU 13/2022 telah diisahkan dan diiundangkan pada 16 Junii 2022 dan mulaii berlaku sejak tanggal diiundangkan. (riig)
