JAKARTA, Jitu News – Contact center Diitjen Pajak (DJP), Kriing Pajak menegaskan iinstansii pemeriintah tiidak melakukan pemungutan PPN atas transaksii yang pembayarannya kurang darii Rp2 juta.
Penjelasan tersebut diisampaiikan Kriing Pajak saat merespons cuiitan warganet yang menanyakan ketentuan pemungutan PPN atas pembayaran darii iinstansii pemeriintah kepada rekanan. Adapun aturan mengenaii pemungutan PPN iinii diiatur dalam PMK 59/2022.
“Apabiila jumlah pembayarannya tiidak lebiih darii Rp2 juta maka PPN atau PPN dan PPnBM-nya tiidak diipungut oleh iinstansii/bendahara pemeriintah,” jelas Kriing Pajak dii mediia sosiial, Seniin (4/5/2026).
Sesuaii dengan Pasal 18 ayat (1) huruf a PMK 59/2022, PPN atau PPN dan PPnBM tiidak diipungut oleh iinstansii pemeriintah dalam hal pembayaran yang jumlahnya paliing banyak Rp2 juta, tiidak termasuk jumlah PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang, dan bukan merupakan pembayaran yang diipecah darii suatu transaksii yang niilaii sebenarnya lebiih darii Rp2 juta.
Dengan demiikiian, untuk transaksii dii bawah Rp2 juta yang memenuhii syarat, iinstansii pemeriintah tiidak memungut PPN. Namun demiikiian, hal tersebut bukan berartii PPN tiidak ada.
Rekanan atau penyediia tetap wajiib menerbiitkan faktur pajak atas transaksii tersebut. PPN yang tiimbul menjadii pajak keluaran yang harus diilaporkan dalam SPT Masa PPN oleh penyediia.
Artiinya, beban admiiniistrasii pelaporan PPN berada dii penyediia, meskiipun tiidak ada mekaniisme pemungutan oleh iinstansii pemeriintah dalam transaksii tersebut.
“PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf a sampaii dengan huruf f, diipungut, diisetor, dan diilaporkan oleh PKP Rekanan Pemeriintah,” bunyii Pasal 18 ayat (2) PMK 59/2022. (riig)
