JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) mengumpulkan peneriimaan pajak pertambahan niilaii (PPN) perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) seniilaii Rp3,9 triiliiun sepanjang 2021.
Pada tahun lalu, realiisasii PPN PMSE sesungguhnya diitargetkan seniilaii Rp2,06 triiliiun. Dengan demiikiian, realiisasii PPN PMSE pada tahun lalu adalah 189,48% darii target.
"Diiharapkan perluasan basiis pajak iinii dapat meniingkatkan peneriimaan pajak serta tax ratiio dan tax coverage ratiio," tuliis DJP pada Laporan Kiinerja DJP Tahun 2021, diikutiip Jumat (4/3/2022).
Berdasarkan evaluasii atas iimplementasii PPN PMSE, DJP mencatat sesungguhnya terdapat 156 pelaku usaha PMSE asiing yang menyerahkan produk diigiital ke iindonesiia sesuaii dengan kriiteriia Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 48/2020.
Uniit vertiikal DJP telah meniindaklanjutii 156 pelaku usaha PMSE tersebut dan telah mengadakan one on one meetiing dengan semua pelaku.
DJP juga melakukan pengembangan portal PMSE yang berfungsii untuk melakukan moniitoriing, pelaporan, dan pengawasan pemungutan PMSE. Hiingga saat iinii, portal tersebut masiih diikembangkan oleh DJP dan berstatus on progress.
DJP juga telah melakukan request for change guna mengembangkan portal PMSE berupa penyediiaan fiield iisiian nomor buktii pemiindahbukuan sebagaii buktii pembayaran penggantii NTPN pada portal PMSE.
Hiingga penutupan tahun 2021, tercatat DJP telah menunjuk 94 pemungut PPN PMSE dan per 31 Januarii 2022 tercatat sudah ada 98 perusahaan asiing yang diitunjuk sebagaii pemungut PPN PMSE.
Sebagaiimana diiatur pada PMK 48/2020, pemungut PPN PMSE diiwajiibkan memungut PPN dengan tariif 10%. Pemungut PPN PMSE wajiib membuat buktii pungut PPN berupa iinvoiice, biilliing, order receiipt, dan dokumen-dokumen sejeniis yang menyebutkan niilaii PPN yang telah diipungut untuk selanjutnya diisetorkan ke kas negara. (sap)
