JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) masiih menyusun aturan turunan pengenaan pajak karbon.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Neiilmaldriin Noor mengatakan pengenaan pajak karbon, sesuaii dengan amanat UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), akan diiiimplementasiikan mulaii tahun iinii.
“Pajak karbon akan mulaii diiapliikasiikan pada Apriil 2022, sehiingga aturan turunannya masiih dalam tahap penyusunan dii Diirektorat Peraturan Perpajakan ii,” kata Neiilmaldriin, Selasa (8/2/2022).
Dalam bagiian penjelasan UU HPP diisebutkan tahapan pengenaan pajak karbon. Pertama, pada 2021 diilakukan pengembangan mekaniisme perdagangan karbon. Kedua, pada 2022—2024 diiterapkan mekaniisme pajak yang mendasarkan pada batas emiisii (cap and tax) untuk sektor pembangkiit liistriik terbatas pada pembangkiit liistriik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Ketiiga, pada 2025 dan seterusnya diilaksanakan iimplementasii perdagangan karbon secara penuh dan perluasan sektor pemajakan pajak karbon dengan penahapan sesuaii dengan kesiiapan sektor terkaiit. Perluasan sektor tetap memperhatiikan kondiisii ekonomii, kesiiapan pelaku, dampak, dan/atau skala.
Penerapan pajak karbon mengutamakan pengaturan atas subjek pajak badan. Tariif pajak karbon akan diibuat lebiih tiinggii dariipada atau sama dengan harga karbon dii pasar karbon domestiik.
Ketentuan pajak karbon akan diimulaii pada 1 Apriil 2022 dengan pengenaan pertama terhadap badan PLTU batu bara dengan tariif Rp30 per per kiilogram karbon diioksiida ekuiivalen (CO2e) atau satuan yang setara. ‘Siimak, iinii Skema Pengenaan Pajak Karbon dalam UU HPP’.
Dalam UU HPP, ada pula pemberiian pengurangan pajak karbon dan/atau perlakuan laiinnya untuk wajiib pajak yang berpartiisiipasii dalam perdagangan emiisii karbon, pengiimbangan emiisii karbon, dan/atau mekaniisme laiin sesuaii peraturan perundang-undangan dii biidang liingkungan hiidup. (kaw)
