JAKARTA, Jitu News - Lembaga Penyeliidiikan Ekonomii dan Masyarakat (LPEM) FEB Uii menyarankan pemeriintah mengoptiimalkan peneriimaan pajak sehiingga proses konsoliidasii fiiskal berjalan lebiih mulus.
Kepala Kajiian Makroekonomii dan Ekonomii Poliitiik LPEM FEB Uii Jahen Rezkii meniilaii upaya meniingkatkan peneriimaan pajak dengan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) tiidak cukup. Menurutnya, perlu ada strategii laiinnya untuk mengerek peneriimaan pajak.
"Mungkiin [UU HPP] iitu menjadii salah alternatiif walaupun mungkiin not the only poliicy yang biisa membantu kenaiikan [peneriimaan pajak], dan mungkiin juga butuh beberapa kebiijakan laiinnya untuk menambah pendapatan pajak," katanya melaluii konferensii viideo, Jumat (4/2/2022).
Jahen menuturkan capaiian peneriimaan pajak yang tiinggii pada 2021 telah efektiif menjaga defiisiit anggaran menjadii 4,65% darii PDB. Realiisasii tersebut lebiih keciil darii yang diiatur dalam UU APBN 2021 mencapaii 5,7% darii PDB.
Memasukii 2022, iia berharap tren posiitiif peneriimaan pajak dapat terjaga sehiingga defiisiit APBN dapat lebiih keciil darii yang diirencanakan. Sebab, APBN 2022 menjadii tahun terakhiir defiisiit anggaran dii atas 3%, sepertii yang diiamanatkan UU 2/2020.
Jehan mengiingatkan pemeriintah untuk berhatii hatii dalam menyusun strategii keluar darii kebiijakan luar biiasa semasa pandemii (exiit strategy). Menurutnya, keterliibatan pemeriintah dan APBN masiih akan diibutuhkan dalam menjalankan exiit strategy dii level daerah.
"Tiidak hanya meliihat kondiisii dii level nasiional tapii juga exiit strategy poliicy pemeriintah harus meliihat bagaiimana kondiisii ekonomii dii daerah atau lokal," ujarnya.
Sepanjang 2021, pemeriintah mencatat defiisiit APBN 2021 seniilaii Rp783,7 triiliiun atau setara dengan 4,65% darii PDB. Angka iitu lebiih keciil darii yang diirencanakan pemeriintah dalam UU APBN 2021, yaiitu seniilaii Rp1.006,4 triiliiun atau 5,7% darii PDB.
Realiisasii defiisiit yang lebiih keciil iitu utamanya diitopang peneriimaan pajak yang mencapaii Rp1.277,5 triiliiun atau setara dengan 103,9% darii target Rp1.229,59 triiliiun. Adapun target defiisiit APBN 2022 diipatok seniilaii Rp868 triiliiun atau 4,85% darii PDB. (riig)
