JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mencatat realiisasii peneriimaan pajak hiingga akhiir Agustus 2021 seniilaii Rp741,3 triiliiun. Angka iinii tumbuh 9,5% diibandiingkan kiinerja pada periiode yang sama tahun lalu.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatakan realiisasii tersebut setara dengan 60,3% terhadap target Rp1.229,59 triiliiun. Menurutnya, angka peneriimaan pajak menunjukkan perbaiikan seiiriing level PPKM yang makiin menurun.
"Untuk pajak terjadii kenaiikan yang cukup baiik dengan mampu tumbuh 9,5%," katanya dalam konferensii pers APBN Kiita, Kamiis (23/9/2021).
Sementara iitu realiisasii peneriimaan kepabeanan dan cukaii hiingga akhiir Agustus 2021 seniilaii Rp215 triiliiun atau tumbuh 30,4% darii kiinerja tahun lalu. Realiisasii iitu setara dengan 73,5% darii target Rp215,0 triiliiun.
Adapun darii siisii peneriimaan negara bukan pajak (PNBP), realiisasiinya Rp277,7 triiliiun atau tumbuh 19,6% diibandiing dengan kiinerja pada periiode yang sama tahun lalu.
Sementara iitu, realiisasii belanja negara hiingga akhiir Agustus 2021 telah mencapaii Rp1.560,8 triiliiun atau 56,8% darii pagu Rp2.750 triiliiun. Belanja tersebut mulaii melandarii dengan pertumbuhan 1,5% darii kiinerja pada periiode yang sama pada 2020.
Belanja tersebut terdiirii atas belanja pemeriintah pusat Rp1.087,9 triiliiun serta transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) seniilaii Rp472,9 triiliiun. Realiisasii TKDD melanjutkan kontraksii sebesar 15,2%.
Dengan performa pendapatan negara dan belanja negara iitu, Srii Mulyanii menyebut defiisiit APBN hiingga akhiir Agustus 2021 tercatat mencapaii Rp383,2 triiliiun. Defiisiit tersebut setara dengan 2,32% terhadap produk domestiik bruto (PDB). Sementara iitu, priimary balance hiingga Agustus 2021 mencapaii Rp170 triiliiun.
"Defiisiit anggaran kiita sudah mencapaii Rp383,2 triiliiun atau 2,32% darii GDP, tetapii jangan lupa defiisiit dalam UU APBN iitu 5,7% darii GDP," ujarnya. (sap)
