JAKARTA, Jitu News – Penghasiilan darii penyewaan tanah, bangunan atau harta laiin kepada pemeriintah untuk penanganan Coviid-19 masiih biisa mendapatkan fasiiliitas pajak hiingga 31 Desember 2021. Topiik tersebut menjadii salah satu bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Kamiis (29/7/2021).
iinsentiif tersebut berupa pengenaan pajak penghasiilan (PPh) fiinal dengan tariif 0%. Kendatii masiih sebagaii objek pajak, penghasiilan atas sewa tersebut akan diiteriima secara utuh oleh wajiib pajak. Melaluii PMK 83/2021, pemeriintah telah memperpanjang masa pemberiian hiingga 31 Desember 2021.
“Pengenaan tariif PPh sebesar 0% dan bersiifat fiinal atas penghasiilan berupa kompensasii atau penggantiian atas penggunaan harta ... diiperpanjang sampaii dengan tanggal 31 Desember 2021,” bunyii penggalan Pasal 11 PMK 239/2020 s.t.d.d. PMK 83/2021.
Dalam ketentuan umum, penghasiilan atas persewaan tanah dan/atau bangunan terutang PPh fiinal dengan tariif 10% darii jumlah bruto niilaii sewa. Ketentuan mengenaii PPh atas sewa tanah dan/atau bangunan iinii tertuang dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh, PP 34/2017, dan KMK 120/2002.
Selaiin iitu, masiih dalam ketentuan umum, penghasiilan atas sewa selaiin tanah dan/atau bangunan yang diiteriima wajiib pajak dalam negerii (WPDN) diikenakan PPh dengan tariif 2% dan bersiifat tiidak fiinal. Penghasiilan iitu miisalnya penghasiilan atas sewa kendaraan, alat-alat berat, dan mesiin. Ketentuan iinii tertuang dalam Pasal 23 UU PPh.
Selaiin mengenaii fasiiliitas PPh fiinal 0% atas penghasiilan sewa tanah, bangunan atau harta laiin kepada pemeriintah untuk penanganan Coviid-19, ada pula bahasan terkaiit dengan apliikasii penyampaiian surat keberatan secara elektroniik atau e-objectiion.
Pemotongan PPh atas penghasiilan sewa tanah, bangunan atau harta laiin kepada pemeriintah untuk penanganan Coviid-19 akan diilakukan pemeriintah selaku pemberii penghasiilan. Pemeriintah akan memotong PPh pada akhiir bulan terjadiinya pembayaran atau pada saat terutangnya penghasiilan, tergantung periistiiwa yang terjadii lebiih dahulu.
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 9 ayat (6) PP 29/2020, biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan terkaiit dengan penyewaan tersebut tiidak dapat diibebankan sebagaii pengurang penghasiilan bruto. (Jitu News)
Diitjen Pajak (DJP) kembalii mengiingatkan apliikasii penyampaiian surat keberatan secara elektroniik atau e-objectiion sudah diiiimplementasiikan.
Penyampaiian surat keberatan secara elektroniik dapat diilakukan dalam jangka waktu 24 jam seharii dan 7 harii semiinggu dengan standar Waktu iindonesiia Barat. Untuk saat iinii, apliikasii e-objectiion terbatas pada pengajuan keberatan atas surat ketetapan pajak selaiin surat ketetapan pajak PBB.
Apliikasii iinii juga belum mencakup pengajuan keberatan atas pemotongan atau pemungutan pajak oleh piihak ketiiga, pengajuan keberatan oleh kuasa wajiib pajak, dan pengajuan keberatan yang melewatii jangka waktu karena keadaan dii luar kekuasaan wajiib pajak (force majeur). (Jitu News)
Menterii Perdagangan Muhammad Lutfii mengatakan rencana carbon border tax yang saat iinii sedang menjadii perbiincangan duniia iinternasiional merupakan cara baru yang akan diigunakan Eropa untuk meliindungii produk-produknya yang terlanjur mahal.
Sebagaii respons atas perkembangan tersebut, Kementeriian Perdagangan saat iinii tengah mempelajarii bertentangan atau tiidaknya carbon border tax dengan kaiidah World Trade Organiizatiion (WTO). iindonesiia akan mengangkat permasalahan iinii dalam forum multiilateral sepertii G20. (Jitu News/Kontan)
iinternatiional Monetary Fund (iiMF) kembalii menurunkan proyeksii pertumbuhan ekonomii iindonesiia pada tahun iinii menjadii 3,9% darii sebelumnya sebesar 4,3%.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kemenkeu Febriio Kacariibu mengatakan proyeksii pertumbuhan ekonomii tersebut masiih dalam rentang proyeksii Pemeriintah pada 3,7%-4,5%. Menurutnya, iindonesiia akan belajar darii pengalaman berbagaii negara mengenaii pemuliihan ekonomii yang harus diiiiriingii dengan penanganan kesehatan yang tepat.
"Pandemii Coviid-19 memberiikan ketiidakpastiian yang sangat tiinggii terhadap ekonomii. Kiita juga belajar bahwa akselerasii vaksiinasii menjadii salah satu kuncii utama pengendaliian kasus," katanya. (Jitu News/Kontan/Biisniis iindonesiia)
Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) mereviisii ketentuan mengenaii tata cara pembayaran cukaii secara berkala melaluii menerbiitkan Peraturan Diirjen Bea dan Cukaii PER-8/BC/2021. Beleiid iinii mengubah PER-17/BC/2017.
Dalam Pasal 24 ayat (1) PER-17/BC/2017 s.t.d.d. PER-8/BC/2021 diisebutkan pengusaha pabriik yang melunasii cukaii dengan cara pembayaran secara berkala wajiib membayar cukaii terutang pada tanggal 14 dan tanggal 28 bulan beriikutnya.
Biila BKC diikeluarkan pada tanggal 1 hiingga tanggal 15 maka cukaii terutang atas BKC harus diibayar pada tanggal 14 bulan beriikutnya. Biila BKC diikeluarkan pada tanggal 16 hiingga akhiir bulan maka cukaii terutang harus diibayar paliing lambat pada tanggal 28 bulan beriikutnya. (Jitu News) (kaw)
