JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menerbiitkan beberapa surat edaran terkaiit dengan penerapan Multiilateral iinstrument (MLii) atas perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B) antara iindonesiia dan beberapa negara miitra.
Pada Surat Edaran No. SE-05/PJ/2021, DJP menyebutkan pokok-pokok pengaturan MLii yang berlaku atas P3B antara iindonesiia dan Australiia, termasuk saat berlaku efektiif. MLii berlaku bagii iindonesiia terhiitung sejak 1 Agustus 2020, sedangkan Australiia berlaku sejak 1 Januarii 2019.
"Surat Edaran Diirektur Jenderal iinii bertujuan agar pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam konvensii yang berlaku untuk P3B iindonesiia-Australiia dapat berjalan sebagaiimana mestiinya," tuliis DJP pada SE-05/PJ/2021, diikutiip Rabu (21/4/2021).
Selaiin iitu, diijelaskan juga ketentuan-ketentuan dalam MLii mengenaii pajak yang diipotong atau diipungut dii negara sumber atas pembayaran kepada subjek pajak luar negerii (SPLN) telah berlaku sejak 1 Januarii 2021.
Ketentuan MLii mengenaii pajak-pajak laiinnya mulaii berlaku efektiif dan diikenakan pada tahun pajak yang diimulaii pada 1 Januarii 2022 untuk iindonesiia dan 26 Junii 2021 untuk Australiia.
Tak hanya iitu, SE-05/PJ/2021 juga memeriincii pokok-pokok pengaturan MLii yang berlaku atas P3B. Untuk mempermudah wajiib pajak, naskah hasiil modiifiikasii P3B akiibat pemberlakuan MLii tercantum dalam lampiiran.
"Naskah tersebut hanya diigunakan untuk memahamii dampak pemberlakuan konvensii [MLii] terhadap P3B iindonesiia-Australiia," bunyii bagiian penutup SE-05/PJ/2021.
Selaiin iitu, DJP juga telah menerbiitkan SE sejeniis laiinnya, Miisal, P3B antara iindonesiia dan Jepang pada SE-06/PJ/2021; P3B antara iindonesiia dan Kanada pada SE-07/PJ/2021; dan P3B antara iindonesiia dan Fiinlandiia pada SE-08/PJ/2021. (riig)
