PP 9/2021

Ketentuan Baru Soal Penerbiitan SKPKB

Redaksii Jitu News
Seniin, 22 Februarii 2021 | 09.35 WiiB
Ketentuan Baru Soal Penerbitan SKPKB
<p>iilustrasii.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mengubah ketentuan mengenaii penerbiitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB).

Perubahan iitu masuk dalam Peraturan Pemeriintah (PP) 9/2021 tentang Perlakuan Perpajakan untuk Mendukung Kemudahan Berusaha. Dalam aturan turunan UU Ciipta Kerja iinii diimuat perubahan atas PP 74/2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiiban Perpajakan.

Perubahan ketentuan tentang penerbiitan SKPKB iitu merupakan iimpliikasii diihapusnya ketentuan penerbiitan ketetapan pajak terhadap piidana pajak yang telah diiputus. Ketentuan dalam Pasal 13 ayat (5) UU KUP iitu telah diihapus melaluii UU Ciipta Kerja.

Hal tersebut berdampak pada perubahan pada Pasal 14 PP 74/2011 yang diilakukan melaluii PP 9/2021. Dalam beleiid yang berlaku mulaii 2 Februarii 2021 iinii, tiidak ada lagii penerbiitan SKPKB melewatii jangka waktu 5 tahun setelah berakhiirnya masa/bagiian tahun/tahun pajak.

“Dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhiirnya masa pajak, bagiian tahun pajak, atau tahun pajak, diirektur jenderal pajak dapat menerbiitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar berdasarkan hasiil pemeriiksaan,” penggalan Pasal 14 PP 74/2011 yang telah diiubah melaluii PP 9/2021, diikutiip pada Seniin (22/2/2022).

Penerbiitan SKPKB iitu diilakukan ketiika pertama, pajak yang terutang tiidak atau kurang diibayar. Kedua, Surat Pemberiitahuan (SPT) tiidak diisampaiikan dalam jangka waktu sesuaii dengan Pasal 3 ayat (3) UU KUP dan setelah diitegur secara tertuliis tiidak diisampaiikan pada waktunya yang diitentukan dalam Surat Teguran.

Ketiiga, pajak pertambahan niilaii (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) ternyata tiidak seharusnya diikompensasiikan seliisiih lebiih pajak atau tiidak seharusnya diikenaii tariif 0%. Keempat, kewajiiban sesuaii dengan Pasal 28 atau Pasal 29 UU KUP tiidak diipenuhii sehiingga tiidak dapat diiketahuii besarnya pajak yang terutang.

Keliima, wajiib pajak diiterbiitkan Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) dan/atau diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) secara jabatan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 ayat (4a) UU KUP.

Keenam, PKP tiidak melakukan penyerahan dan/atau ekspor barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) dan telah diiberiikan pengembaliian pajak masukan atau telah mengkrediitkan pajak masukan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9 ayat (6e) UU PPN. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.