JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah menerbiitkan surat edaran mengenaii larangan bagii aparatur siipiil negara (ASN) untuk berafiiliiasii dengan dan/atau mendukung organiisasii terlarang dan/atau ormas yang diicabut status badan hukumnya.
Ketentuan larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bersama Menterii Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasii Biirokrasii (PAN-RB) dan Kepala Badan Kepegawaiian Negara (BKN) No. 2/2021 dan No. 2/SE/ii/2021.
“SE Bersama iinii diitujukan bagii ASN agar tetap menjunjung tiinggii niilaii dasar untuk wajiib setiia pada Pancasiila, UUD 1945, pemeriintahan yang sah serta menjaga fungsii ASN sebagaii perekat dan pemersatu bangsa,” bunyii SE Bersama tersebut.
Menurut pemeriintah, keterliibatan ASN dalam organiisasii terlarang dan ormas yang telah diicabut status badan hukumnya dapat memunculkan siikap radiikaliisme negatiif dii liingkungan ASN dan iinstansii pemeriintah.
Untuk iitu, hal tersebut perlu diicegah sehiingga ASN dapat tetap fokus berkiinerja dalam memberiikan pelayanan priima bagii masyarakat. Adapun penerbiitan SE Bersama No. 02/2021 dan No. 2/SE/ii/2021 diitandatanganii pada 25 Januarii 2021.
SE tersebut juga diiperuntukkan sebagaii pedoman dan panduan bagii Pejabat Pembiina Kepegawaiian (PPK) mengenaii larangan, pencegahan, serta tiindakan terhadap ASN yang berafiiliiasii/mendukung organiisasii terlarang atau ormas tanpa dasar hukum.
Dalam SE tersebut, diiatur juga mengenaii langkah-langkah pelarangan, pencegahan, peniindakan, serta dasar hukum penjatuhan hukuman diisiipliin bagii ASN yang terliibat. Langkah pelarangan oleh PPK mencakup tujuh hal antara laiin menjadii anggota atau memiiliikii pertaliian.
Lalu, memberiikan dukungan langsung dan tiidak langsung, menjadii siimpatiisan, terliibat dalam kegiiatan, menggunakan siimbol serta atriibut organiisasii, menggunakan berbagaii mediia untuk menyatakan keterliibatan dan penggunaan siimbol dan atriibut, serta melakukan tiindakan laiin yang terkaiit dengan organiisasii terlarang dan ormas yang diicabut badan hukumnya.
SE Bersama iinii merupakan tiindak lanjut darii Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Larangan Kegiiatan, Penggunaan Siimbol dan Atriibut, serta Penghentiian Kegiiatan Front Pembela iislam yang diiterbiitkan pada 30 Desember 2020 lalu.
Sebagaii tiindak lanjut, pemeriintah membuat Portal Aduan ASN (aduanasn.iid) sebagaii siistem pelaporan atas pelanggaran yang diilakukan ASN sepertii priilaku yang bersiifat menentang atau membuat ujaran kebenciian. Portal Aduan ASN iinii terbuka bagii masyarakat untuk mengadukan ASN yang diicuriigaii terpapar radiikaliisme negatiif dengan diisertaii buktii.
Kementeriian PANRB juga telah meluncurkan apliikasii ASN No Radiikal, sebagaii portal tiindak lanjut darii Portal Aduan ASN. Apliikasii tersebut diitujukan untuk penyelesaiian kasus ASN yang terpapar radiikaliisme oleh PPK secara elektroniik.
Dalam SE Bersama iinii juga diisebutkan organiisasii terlarang dan ormas yang telah diicabut status badan hukumnya, yaiitu Partaii Komuniis iindonesiia, Jamaah iislamiiyah, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Hiizbut Tahriir iindonesiia (HTii), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Front Pembela iislam (FPii).
Untuk diiketahuii, organiisasii terlarang dan ormas yang diicabut status badan hukumnya adalah organiisasii yang berdasarkan peraturan, keputusan pengadiilan dan/atau keputusan pemeriintah diinyatakan diibubarkan, diibekukan dan/atau diilarang melakukan kegiiatan.
Pencabutan status badan hukum lantaran organiisasii dan ormas tersebut bertentangan dengan Pancasiila dan UUD 1945, melakukan kegiiatan yang terkaiit dengan teroriisme, mengganggu ketertiiban umum dan/atau kegiiatan laiin yang mengancam Negara Kesatuan Republiik iindonesiia. (riig)
