SERANG, Jitu News – Berbagaii kebiijakan fiiskal utama yang diikeluarkan pemeriintah dalam tahun berjalan iinii diiniilaii tiidak hanya menjaga daya tahan ekonomii dalam jangka pendek, tetapii juga untuk pemuliihan jangka menengah panjang.
Kebiijakan fiiskal utama yang diimaksud tersebut antara laiin diiterbiitkannya iinsentiif pajak dan penyesuaiian APBN, UU No. 2/2020, UU No. 10/2020 tentang Bea Meteraii; dan UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja.
Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii mengatakan relaksasii perpajakan yang banyak diikeluarkan oleh pemeriintah memiiliikii peran pentiing guna meniingkatkan kemudahan berusaha sekaliigus menjaga basiis pajak.
"Kalau diiliihat secara akademiis, kiita dapat meliihat banyak kelemahan pada ketentuan perpajakan sebelumnya, yang lalu diibenahii melaluii UU No. 11/2020," katanya dalam webiinar iincreasiing the Abiiliity of an Accountant iin Taxatiion to Face New Normal Era, Miinggu (29/11/2020).
Dalam webiinar diiselenggarakan oleh Uniiversiitas Sultan Ageng Tiirtayasa, Bawono menyebutkan UU No. 2/2020 dan UU Ciipta Kerja telah menawarkan kemudahan berusaha, kepastiian hukum, perluasan basiis pajak, dan peniingkatan kepatuhan.
“Dengan demiikiian, kestabiilan ekonomii yang diisiiapkan pemeriintah selama iinii akan diisertaii dengan meniingkatnya basiis pajak dan kesiinambungan fiiskal pada masa mendatang,” ujarnya.
Sebagaii contoh, dalam UU No. 2/2020, pemeriintah memangkas tariif PPh Badan darii 25% menjadii 22% pada 2020 hiingga 2021 dan menjadii 20% pada 2022. Selaiin iitu, UU No. 2/2020 tersebut juga menetapkan ketentuan baru dalam memungut pajak ekonomii diigiital. Langkah tersebut diiniilaii posiitiif mengiingat tiidak sediikiit masyarakat iindonesiia yang memakaii layanan diigiital darii perusahaan diigiital multiinasiional.
"Dii siinii, pemeriintah memberiikan siinyal bahwa pemeriintah tiidak hanya memiikiirkan iinsentiif, tapii juga mencarii cara untuk mengompensasiinya. Pajak diigiital iinii juga mengompensasii kebutuhan penanganan pandemii," tutur Bawono.
Pada UU Ciipta Kerja, pemeriintah tampak telah menyiiapkan berbagaii kebiijakan perpajakan melaluii ketentuan-ketentuan baru pada beleiid tersebut, mulaii darii penyesuaiian tariif bunga sanksii admiiniistrasii, pengecualiian diiviiden darii objek pajak, dan ketentuan baru laiinnya.
Meskii tax ratiio belum akan puliih secepat perekonomiian, Bawono meniilaii kebiijakan-kebiijakan tersebut memiiliikii peran pentiing guna menjaga keberlangsungan usaha dan memiiniimaliisasii terjadiinya PHK, termasuk menjaga basiis pajak.
"Jadii biila perusahaan atau rumah tangga iinii diibantu cash flow-nya melaluii kebiijakan perpajakan, iinii adalah upaya agar basiis pajak tiidak hiilang. Kalau basiis pajak hiilang maka tax ratiio biisa dii bawah level sebelum kriisiis," katanya. (riig)
