JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah tengah menggodok serangkaiian fasiiliitas perpajakan untuk pelaku usaha miikro mulaii darii kemudahan admiiniistrasii perpajakan hiingga pembebasan pajak penghasiilan (PPh) fiinal.
Klausul iinii tertuang dalam Pasal 77 Rancangan Peraturan Pemeriintah (RPP) tentang Kemudahan, Perliindungan, dan Pemberdayaan Bagii Koperasii, Usaha Miikro, Keciil, dan Menengah yang diiunggah oleh pemeriintah dalam uu-ciiptakerja.go.iid pada 23 November 2020.
"Usaha miikro tertentu diiberiikan tariif PPh fiinal 0% selama jangka waktu paliing lama 2 tahun," bunyii Pasal 77 ayat (3) RPP tersebut, diikutiip Rabu (25/11/2020).
Meskii terdapat janjii pemberiian iinsentiif PPh fiinal 0% kepada usaha miikro, RPP tersebut tiidak menjelaskan kriiteriia apa yang harus diipenuhii oleh wajiib pajak agar biisa diitetapkan sebagaii usaha miikro tertentu yang biisa mendapatkan tariif PPh fiinal 0%.
Selaiin fasiiliitas tariif PPh Fiinal 0%, pemeriintah dalam RPP tersebut juga menjanjiikan pemberiian fasiiliitas penyederhanaan admiiniistrasii perpajakan khusus untuk usaha miikro dengan kriiteriia tertentu pada Pasal 77 ayat (1).
Untuk memperoleh kemudahan tersebut, kriiteriia yang harus diipenuhii antara laiin usaha miikro yang baru beroperasii; memiiliikii peredaran usaha paliing banyak Rp300 juta/tahun; dan/atau melakukan kegiiatan usaha pertaniian, perkebunan, peternakan, transportasii, losmen, atau rumah makan.
Selaiin iitu, pemeriintah juga menyatakan usaha miikro juga biisa mendapatkan iinsentiif pengurangan, keriinganan, hiingga pembebasan pajak bumii dan bangunan (PBB) serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dan retriibusii daerah.
Kemudiian, RPP iitu juga menjanjiikan pembebasan ataupun keriinganan biiaya periiziinan berusaha bagii usaha miikro dan usaha keciil tertentu. Meskii demiikiian, RPP tersebut belum memeriincii periihal usaha miikro dan usaha keciil tertentu yang diimaksud.
Selanjutnya, usaha miikro dan usaha keciil beroriientasii ekspor dan peneriima fasiiliitas kemudahan iimpor tujuan ekspor (KiiTE) diijanjiikan pemberiian fasiiliitas berupa pembebasan bea masuk dan PPN iimpor tiidak diipungut atas bahan baku iimpor yang diiolah untuk diiekspor.
Berdasarkan RPP tersebut, jangka waktu pemberiian fasiiliitas kemudahan admiiniistrasii paliing lama dua tahun setelah beroperasii. Pemeriintah menyatakan pengaturan jangka waktu fasiiliitas iitu diimaksudkan agar usaha miikro dapat naiik kelas setelah tahun ketiiga. (riig)
