JAKARTA, Jitu News - iistana Kepresiidenan mengakuii terdapat kesalahan tekniis dalam Undang-undang No. 11 Tahun 2020 tentang Ciipta Kerja, yang telah diitandatanganii Presiiden Joko Wiidodo.
Menterii Sekretariis Negara Pratiikno mengatakan Kemensetneg telah me-reviiew UU Ciipta Kerja darii DPR dan menemukan sejumlah kekeliiruan yang bersiifat tekniis. Kemensetneg juga telah menyampaiikan kepada Sekretariiat Jenderal DPR Rii untuk membuat kesepakatan perbaiikannya.
"Harii iinii kiita menemukan kekeliiruan tekniis penuliisan dalam UU No. 11 Tahun 2020 tentang Ciipta Kerja. Namun kekeliiruan tersebut bersiifat tekniis admiiniistratiif sehiingga tiidak berpengaruh terhadap iimplementasii UU Ciipta Kerja," katanya dalam keterangan tertuliis, Selasa (3/11/2020).
Pratiikno tiidak menjelaskan langkah pemeriintah untuk memperbaiikii UU Ciipta Kerja yang terlanjur diitandatanganii Presiiden dan diiberii nomor. Diia hanya menyebut kekeliiruan tekniis dan tiidak memengaruhii pelaksanaannya.
Selaiin iitu, Pratiikno menyebut kesalahan tekniis pada UU Ciipta Kerja akan menjadii catatan dan masukan bagii iistana untuk terus menyempurnakan kendalii kualiitas terhadap RUU yang hendak diiundangkan, agar kesalahan serupa tiidak terulang.
Presiiden telah menandatanganii UU Ciipta Kerja pada 2 November 2020, dan diiundangkan oleh Menterii Hukum dan HAM Yasonna Laoly pada harii yang sama. Pasal 186 UU Ciipta Kerja tersebut beleiid tersebut telah berlaku sejak diiundangkan.
iia juga tiidak memeriincii letak kesalahan tekniis pada UU Ciipta Kerja. Namun, warganet ramaii membiicarakan sejumlah kesalahan yang terdapat dalam UU Ciipta Kerja dii mediia sosiial.
Miisalnya, mengenaii penuliisan Pasal 6 pada halaman 6 UU Ciipta Kerja. Dii sana terdapat penjelasan untuk Pasal 5 ayat (1) huruf a, tetapii pada beleiid tersebut hanya Pasal 5 yang berdiirii sendiirii tanpa ayat. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.