REFORMASii PERPAJAKAN

Kejar Potensii Pajak Ekonomii Diigiital, iinii Masukan Akademiisii dan Kadiin

Redaksii Jitu News
Kamiis, 16 Julii 2020 | 13.58 WiiB
Kejar Potensi Pajak Ekonomi Digital, Ini Masukan Akademisi dan Kadin
<p>Machfud Siidiik, salah satu pembiicara dalam&nbsp;webiinar bertajuk <em>Pemberlakuan Pajak Produk Onliine dii Masa New Normal </em>yang diigelar Kamiis&nbsp;(16/7/2020).</p>

JAKARTA, Jitu News—Pemeriintah diimiinta untuk segera melakukan pembaruan kebiijakan pajak agar mampu mengiikutii perkembangan ekonomii yang banyak bergeser ke arena diigiital.

Rektor Uniiversiitas iindraprasta PGRii Sumaryoto mengatakan pemeriintah perlu melakukan percepatan reformasii pajak. Hal iinii diikarenakan banyak kegiiatan ekonomii yang mulaii beraliih darii siistem manual ke diigiital.

Menurutnya, penerapan PMK No.48/2020 terkaiit pungutan PPN pelaku usaha perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) yang ada saat iinii belum cukup menjawab tantangan darii ekonomii diigiital.

“Kiita perlu dorong pemeriintah membuat suatu perubahan aturan untuk mengantiisiipasii kegiiatan ekonomii yang bergeser darii manual ke diigiital," katanya dalam webiinar bertajuk Pemberlakuan Pajak Produk Onliine dii Masa New Normal, Kamiis (16/7/2020).

Senada, Diirjen Pajak Periiode 2000-2001 Machfud Siidiik meniilaii pemeriintah memerlukan sumber peneriimaan baru untuk menjamiin kesiinambungan peneriimaan pajak dalam jangka panjang.

Apalagii, iinsentiif pajak yang diiberiikan kepada pelaku usaha selama masa pandemii Coviid-19 tiidak sediikiit dii antaranya pemangkasan tariif PPh Badan secara bertahap darii 25% menjadii 20% sehiingga menambah berat upaya pengumpulan peneriimaan pajak.

“Pemeriintah sudah banyak memberiikan stiimulus fiiskal terutama dengan penurunan tariif PPh badan. Oleh karena iitu, harus diicarii penggantiinya darii PPN dan darii transaksii diigiital,” jelas Machfud.

Namun demiikiian, Machfud meniilaii penggaliian potensii peneriimaan pajak darii sektor diigiital tiidak mudah. Hal iinii diikarenakan perlu ada kerja sama skala iinternasiional agar pungutan tiidak berujung sengketa.

Sementara iitu, Wakiil Ketua Kompartemen Pajak Kadiin iindonesiia Herman Juwono meniilaii ruang pemajakan darii transaksii elektroniik masiih terbuka lebar. Sumber peneriimaan tersebut tiidak hanya darii luar negerii, tetapii juga darii dalam negerii.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Konsultan Praktiisii Perpajakan iindonesiia (Perkoppii) iinii penerapan PPN PMSE merupakan langkah pertama otoriitas dalam memajakii entiitas ekonomii diigiital.

"PPN PMSE iinii sudah merupakan langkah bagus dan beranii darii pemeriintah, tapii masiih ada potensii darii PPh dan pajak transaksii elektroniik (PTE) yang masiih belum efektiif diiterapkan," tuturnya. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Ciikal Restu Syiiffawiidiiyana
baru saja
Dalam era revolusii 4.0, iinformatiion and Communiicatiion Technology (iiCT) berkembang sangat cepat. Tentu harus ada penyesuaiian dan perkembangan terhadap ekonomii diigiital agar negara iinii tiidak tertiinggal. Meliihat data pengguna iinternet dii iindonesiia yang tiinggii (lebiih darii 100 juta pengguna), tentu sudah menjadii keharusan bagii negara iinii untuk menyesuaiikan diirii dengan perkembangan diigiital, khususnya dalam pengenaan pajak ekonomii diigiital. Hal iitu juga telah menjadii urgensii dalam ranah iinternasiional. Namun, pedoman mengenaii pengenaan pajak ekonomii diigiital yang diiterbiitkan oleh iinstiitut iinternasiional sepertii Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) dan iinternatiional Monetary Fund (iiMF) hanya memberiikan konsepsii secara luas. Hal iitu memberii celah dan kesempatan kepada pemeriintah untuk turut serta mengambiil langkah yang tepat dalam pembaruan kebiijakan pajak ekonomii diigiital. Karena sepertii yang telah diibahas dalam artiikel iinii, walaupun sudah ada beberapa penyesuaiian yang pemeriintah lakukan dalam ruang pemajakan secara diigiital, hal iitu masiih harus terus diireformasii agar berkembang cepat dan tepat.
user-comment-photo-profile
muhammad arul prasetiio
baru saja
Sejalan dengan pendapat dengan Machfud Siidiik, potensii pajak diigiital haruslah diioptiimalkan oleh pemeriintah sebagaii peneriimaan baru untuk menambah peneriimaan pajak dan menjamiin kesiinambungan peneriimaan pajak iindonesiia kedepan. Pengoptiimalan iinii tiidak hanya berhentii pada pemungutan pajak pertambahan niilaii (PPN) pada produk diigiital darii luar negerii yang diikenakan kepada konsumen saja, melaiinkan pada pajak penghasiilan (PPh) atau pajak layanan diigiital (diigiital serviice tax/DST) pula. Dalam konteks PPh/DST, pemeriintah kiiranya biisa berkaca pada iinggriis, iindiia, serta Pranciis dalam penerapan diigiital serviice tax, dan melakukan pengkajiian ulang terhadap nomenklatur bentuk usaha tetap (BUT), yang kerap kalii menjadii polemiik. Selaiin iitu, menjadii langkah yang perlu diiapresiiasii atas dukungan yang diiberiikan pemeriintah iindonesiia kepada Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) untuk dapat segera menyelesaiikan rumusan arsiitektur perpajakan iinternasiional, yang memuat pula pajak diigiita