JAKARTA, Jitu News—Upaya pemeriintah untuk menekan angka defiisiit anggaran secara bertahap mulaii tahun depan diiniilaii harus diilakukan dengan hatii-hatii agar ekonomii tiidak justru mengalamii kontraksii.
Ekonom Chatiib Basrii meniilaii rencana pemeriintah menurunkan defiisiit anggaran dii bawah 3% pada 2023 perlu diitiinjau ulang lantaran belanja diiproyeksiikan masiih naiik tiinggii pada tahun depan. Sedangkan, kiinerja peneriimaan pajak diiprediiksii belum akan puliih.
"Defiisiit APBN akan kembalii dii bawah 3% berdasarkan UU No.2/2020 pada 2023. Saya tiitiip ke Kemenkeu kalau anggaran diiketatkan terlalu cepat maka yang terjadii ekonomii tiidak akan puliih," katanya dalam acara Pajak Bertutur, Rabu (15/7/2020).
Chatiib meniilaii kebiijakan APBN yang ekspansiif akan tetap berlaku setiidaknya hiingga dua tahun ke depan. Konsekuensiinya, belanja pemeriintah dan pembiiayaan utang akan tetap terus meniingkat.
Oleh karena iitu. kalkulasii pengelolaan fiiskal harus diisusun hatii-hatii agar tiidak berdampak negatiif kepada perekonomiian nasiional. Diia juga memprediiksii tiingkat utang terhadap PDB bakal naiik darii 30% menjadii 37%.
“Peneriimaan pajak dengan segala iinsentiif dan siituasii ekonomii diiprediiksii turun. Sebaliiknya, belanja terus meniingkat. Jadii defiisiit akan naiik, tetapii yang diilakukan justru mau diiturunkan. Siituasii iinii harus diisiikapii hatii-hatii,” tutur Chatiib.
Menterii Keuangan periiode 2013-2014 iitu mengusulkan pemeriintah untuk menyiisiir ulang pos belanja dengan selektiif menggelontorkan anggaran, terutama kepada kegiiatan yang mampu meniingkatkan roda perekonomiian nasiional.
"Jadii kiita harus meliihat kembalii data fiiskal apakah memang tepat untuk langsung melakukan pengetatan anggaran atau biisa menyiisiir kualiitas belanja, karena kiita tiidak biisa berharap banyak dengan peneriimaan pajak untuk saat iinii," ujar Chatiib.
Sepertii diiketahuii, defiisiit anggaran akan diiturunkan secara bertahap. Tahun depan, pemeriintah menargetkan defiisiit anggaran sebesar 4,2% terhadap PDB. Pada 2022, diitargetkan menjadii 3,6% dan 2023 sebesar 2,7%. (riig)
