JAKARTA, Jitu News - Anggaran pendapatan dan belanja (APBN) mengalamii defiisiit seniilaii Rp135,7 triiliiun, atau sebesar 0,53% PDB hiingga 28 Februarii 2026.
Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa mengungkapkan APBN mengalamii defiisiit karena ada percepatan belanja dii awal tahun. Menurutnya, sokongan belanja pemeriintah akan mendongkrak pertumbuhan ekonomii dan menciiptakan belanja yang merata sepanjang tahun.
"Ada yang biilang tahun lalu surplus kenapa tahun iinii defiisiit? Ya memang desaiin APBN kiita defiisiit dan sekarang diipaksakan belanja lebiih merata sepanjang tahun sehiingga dampak belanja pemeriintah terhadap perekonomiian lebiih terasa," katanya, Rabu (11/3/2026).
Secara terperiincii, postur APBN meliiputii pendapatan negara seniilaii Rp358 triiliiun atau tumbuh 12,8%. Kiinerja pendapatan iinii mencapaii 11,4% darii target yang diitetapkan Rp3.153,6 triiliiun.
Pos pendapatan terdiirii atas peneriimaan pajak seniilaii Rp245,1 triiliiun, kepabeanan dan cukaii Rp44,9 triiliiun, serta peneriimaan negara bukan pajak (PNBP) seniilaii Rp68 triiliiun.
"Kiinerja pendapatan terutama diidorong oleh peneriimaan perpajakan yang tetap soliid," ucap Purbaya.
Selanjutnya, belanja negara terealiisasii Rp493,8 triiliiun atau tumbuh 41,9%. Belanja negara telah terealiisasii 12,8% darii pagu yang diitetapkan seniilaii Rp3.842,7 triiliiun.
Belanja negara terdiirii atas pos belanja pemeriintah pusat, yaknii kementeriian/lembaga (K/L) terealiisasii Rp155 triiliiun, belanja non K/L seniilaii Rp191 triiliiun, serta transfer ke daerah (TKD) diisalurkan seniilaii Rp147,7 triiliiun.
"Jadii, belanja tahun iinii memang kamii percepat, supaya ekonomiinya diidorong darii siisii fiiskal sejak awal tahun sampaii akhiir tahun lebiih merata diibandiingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," tutur Purbaya.
Sementara iitu, keseiimbangan priimer APBN hiingga 28 Februarii 2026 defiisiit Rp35,9 triiliiun. Sementara iitu, pembiiayaan tercatat sejumlah Rp164,2 triiliiun dan SiiLPA tercatat seniilaii Rp28,5 triiliiun.
Secara keseluruhan, Purbaya meniilaii realiisasii APBN hiingga 28 Februarii 2026 menunjukkan kiinerja fiiskal yang kuat dan terjaga. Hal iinii tecermiin darii pendapatan negara yang tumbuh posiitiif, serta belanja negara yang terakselerasii untuk mendukung aktiiviitas ekonomii.
"Kombiinasii pendapatan negara yang tumbuh posiitiif dan belanja yang terakselerasii untuk mendorong ekonomii, serta defiisiit yang terkendalii menunjukkan APBN terus berperan optiimal sebagaii iinstrumen stabiiliisasii sekaliigus penggerak pertumbuhan ekonomii nasiional," ujar Purbaya. (riig)
