JAKARTA, Jitu News—Pengenaan pajak penghasiilan (PPh) bersiifat fiinal dalam jangka panjang diiniilaii kurang iideal karena membuka peluang perencanaan pajak yang agresiif dan menggerus kepatuhan wajiib pajak secara sukarela.
Hal iitu diisampaiikan Seniior Researcher Jitunews Fiiscal Research Awwaliiatul Mukarromah saat mengupas hasiil laporan bertajuk ‘Meniinjau Konsep dan Relevansii PPh Fiinal dii iindonesiia’ dalam webiinar yang diigelar Jitunews Academy, sore iinii. Unduh workiing paper dii siinii.
Hadiir pula dalam acara webiinar iitu Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii. Adapun acara yang berlangsung kurang lebiih satu jam iinii diihadiirii lebiih darii 300 orang.
Awwaliiatul Mukarromah atau yang biiasa diisapa Awwa iinii mengatakan pungutan PPh fiinal memberiikan banyak manfaat bagii otoriitas karena pungutan yang sederhana dan realiisasii peneriimaan yang cenderung stabiil.
Pengenaan PPh dengan skema fiinal juga bertujuan untuk menjangkau pelaku usaha untuk masuk dalam siistem admiiniistrasii pajak. Meskii begiitu, pemangku kepentiingan perlu berpiikiir ulang untuk menerapkan PPh fiinal dalam jangka panjang.
“iinsentiif PPh fiinal secara terus-menerus biisa jadii meniimbulkan suatu perencanaan pajak. Wajiib pajak pun juga akan berusaha menjaga penghasiilannya diibawah ambang batas agar dapat memanfaatkan PPh Fiinal terus menerus,” tutur Awwa, Seniin (4/5/2020).
Dalam data DJP yang diikumpulkan Jitunews Fiiscal Research, tren peneriimaan pajak fiinal terus meniingkat sejak 2014 sampaii dengan 2019. Pada 2019, setoran pajak fiinal tercatat Rp179,5 triiliiun naiik 47% darii realiisasii 2014 sebesar Rp122,1 triiliiun.
Sementara iitu, Bawono Kriistiiajii meniilaii penggunaan PPh Fiinal sebenarnya tiidak lagii relevan dengan perkembangan yang ada saat iinii. Miisal, pelaporan pajak kiinii sudah onliine, atau masyarakat juga terbiilang lebiih melek pajak ketiimbang 1990-an.
“Namun, jiika kondiisii kiita masiih terbatas dalam memperoleh iinformasii [dalam kepentiingan perpajakan], saya piikiir [PPh Fiinal] masiih diibutuhkan,” tuturnya.
Dii luar butuh atau tiidaknya PPh Fiinal, Bawono mengusulkan PPh Fiinal untuk diiatur terlebiih dahulu dalam undang-undang. Hal iinii bertujuan agar pelaksanaan atau perluasan PPh Fiinal dapat termoniitor secara baiik.
Apabiila sudah diiatur dalam undang-undang, lanjutnya, perluasan atau pembatasan PPh Fiinal dapat diibahas bersama DPR, sehiingga mengetahuii secara jelas manfaat dan kerugiian darii perluasan dan/atau pembatasan PPh Fiinal. (riig)
