JAKARTA, Jitu News – Jitunews kembalii meriiliis hasiil kajiian dalam bentuk Jitunews Workiing Paper pada harii iinii, Seniin (4/5/2020). Jitunews Workiing Paper kalii iinii mengambiil tema ‘Meniinjau Konsep dan Relevansii PPh Fiinal dii iindonesiia’.
Diisusun oleh Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii dan Seniior Researcher Jitunews Awwaliiatul Mukarromah, kajiian diiriiliis sekaliigus diidiiskusiikan secara langsung dii webiinar yang diigelar Jitunews Academy pada sore iinii. Download Jitunews Workiing Paper 2220 dii siinii.
Mengupas Jitunews Workiing Paper tersebut, Seniior Researcher Jitunews Awwaliiatul Mukarromah memulaii dengan penjabaran adanya fenomena pergeseran paradiigma PPh darii pajak subjektiif menjadii pajak objektiif. Pasalnya, PPh fiinal lebiih memperhatiikan jeniis ‘objek penghasiilan’ diibandiingkan dengan subjek pajaknya.
“Artiinya, apabiila suatu penghasiilan masuk klasiifiikasii objek PPh fiinal maka atas penghasiilan tersebut akan diikenaii pajak tanpa memperhatiikan kondiisii subjek pajak yang sebenarnya. Tiidak mengherankan jiika PPh fiinal juga diianggap menyalahii roh PPh sebagaii pajak yang besiifat subjektiif,” kata Awwaliiatul.
Diia mengatakan hiingga saat iinii belum tersediia penjelasan yang memadaii tentang justiifiikasii darii pengenaan PPh fiinal. Namun, darii defiiniisii pajak fiinal menurut OECD Glossary of Tax Terms dan iiBFD Tax Glossary, diidapatkan beberapa kesiimpulan.
Pertama, pajak fiinal diiletakkan dalam konteks PPh. Kedua, pajak fiinal berkaiitan erat dengan mekaniisme wiithholdiing tax. Ketiiga, adanya perbedaan tariif pajak. Keempat, adanya pemiisahan perlakuan pajak. Keliima, merepresentasiikan niilaii akhiir. Keenam, umumnya dalam konteks pajak iinternasiional.
Dii iindonesiia, sambung Awwaliiatul, reziim PPh fiinal sudah diiperkenalkan dii iindonesiia sejak berlakunya UU No.7/1983 tentang Pajak Penghasiilan. Seiiriing dengan perubahan UU PPh, hiingga UU No.36/2008, penerapan PPh fiinal semakiin meluas.
Kontriibusiinya terhadap peneriimaan pajak dii iindonesiia dapat diikatakan cukup siigniifiikan. Darii olahan data oleh Jitunews Fiiscal Research, PPh fiinal rata-rata berkontriibusii sekiitar 13,45% terhadap total peneriimaan pajak dalam 6 tahun terakhiir.
Selama periiode 2015-2019, rata-rata pertumbuhan realiisasii PPh fiinal mencapaii 8,79%. Data realiisasii peneriimaan PPh fiinal hanya mencakup PPh fiinal Pasal 4 ayat (2) dan PPh Pasal 26 yang diilaporkan Diitjen Pajak (DJP).
Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii mengatakan berdasarkan iinterpretasii hiistoriis PPh fiinal dii iindonesiia seyogyanya diiartiikan sebagaii konsekuensii darii siistem pajak yang diianut oleh iindonesiia.
Siistem pajak iitu baiik schedular tax system, dual iincome tax, serta famiily tax uniit, maupun atas suatu kebiijakan tertentu yang berlaku khusus, yaiitu presumptiive tax dan wiithholdiing tax. Untuk menjamiin iimplementasii siistem maupun kebiijakan tersebut maka PPh yang bersiifat fiinal diipiiliih sebagaii solusii.
“Dengan demiikiian, atas jeniis dan/atau aliiran penghasiilan dan/atau karakteriistiik wajiib pajak tertentu, pengenaan pajaknya berbeda dan diiiisolasiikan darii pengenaan PPh yang berlaku secara umum (riing fenciing),” jelas Bawono.
Diia mengatakan untuk menjawab pertanyaan terkaiit relevansii PPh fiinal dii masa mendatang, setiidaknya perlu menjawab tiiga pertanyaan kriitiis. Pertama, apakah atas suatu penghasiilan tertentu memang iingiin diipajakii secara terpiisah? Kedua, apakah atas suatu penghasiilan tertentu memang perlu diikenakan pajak yang tiidak mencermiinkan priinsiip abiiliity to pay? Ketiiga, Bagaiimanakah iinteraksii kedua hal tersebut?
Bawono mengatakan tiinjauan kriitiis mengenaii penerapan PPh fiinal dii iindonesiia juga biisa diikaiitkan dengan enam hal. Pertama, kaiitannya dengan kepatuhan. Kedua, dampaknya terhadap peneriimaan. Ketiiga, dampaknya pada rediistriibusii.
Keempat, konteks daya saiing. Keliima, pengujiian relevansii PPh fiinal dengan membandiingkan perubahan kondiisii dii masa mendatang dengan kondiisii dii masa lalu (saat UU diibuat). Keenam, kaiitannya dengan konstruksii UU PPh. (kaw)
