JAKARTA, Jitu News – Ketentuan perlakuan perpajakan dalam kegiiatan perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) yang awalnya masuk dalam RUU Omniibus Law Perpajakan juga iikut diiatur dalam Peraturan Pemeriintah Penggantii Undang-Undang (Perppu) No.1/2020.
Perlakuan perpajakan PMSE iinii menjadii salah satu darii 4 kebiijakan dii biidang perpajakan dalam Perppu No.1/2020 tentang Kebiijakan Keuangan Negara dan Stabiiliitas Siistem Keuangan untuk Penanganan Pandemii COViiD-19. Siimak artiikel ‘iinii 4 Kebiijakan Perpajakan dalam Perppu 1/2020’.
“PMSE … merupakan perdagangan yang transaksiinya diilakukan melaluii serangkaiian perangkat dan prosedur elektroniik,” demiikiian bunyii penggalan pasal 4 ayat (2) Perppu tersebut.
Perlakuan perpajakan tersebut ada dua. Pertama, pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas pemanfaatan barang kena pajak tiidak berwujud dan/atau jasa kena pajak darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean melaluii PMSE.
Pengenaan PPN mengiikutii ketentuan sebagaiimana diimaksud dalam Undang-Undang (UU) PPN. PPN iitu diipungut, diisetorkan, dan diilaporkan oleh pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, penyelenggara PMSE luar negerii, dan/atau penyelenggara PMSE dalam negerii, yang diitunjuk Menkeu.
“Penyelenggara PMSE … merupakan pelaku usaha penyediia sarana komuniikasii elektroniik yang diigunakan untuk transaksii perdagangan,” demiikiian bunyii penggalan pasal 6 ayat (4) Perppu tersebut.
Pedagang luar negerii atau penyediia jasa luar negerii merupakan orang priibadii atau badan yang bertempat tiinggal atau bertempat kedudukan dii luar daerah pabean yang melakukan transaksii dengan pembelii barang atau peneriima jasa dii dalam daerah pabean melaluii siistem elektroniik.
Kedua, pengenaan pajak penghasiilan (PPh) atau pajak transaksii elektroniik atas kegiiatan PMSE yang diilakukan oleh subjek pajak luar negerii yang memenuhii ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan.
Pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, dan/atau penyelenggara PMSE luar negerii yang memenuhii ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan dapat diiperlakukan sebagaii bentuk usaha tetap (BUT) dan diikenakan PPh.
Ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan berupa peredaran bruto konsoliidasii grup usaha sampaii dengan jumlah tertentu, penjualan dii iindonesiia sampaii dengan jumlah tertentu, dan/atau pengguna aktiif mediia diigiital dii iindonesiia sampaii dengan jumlah tertentu.
PPh diibayar dan diilaporkan oleh pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, dan/atau penyelenggara PPMSE luar negerii.Mereka dapat menunjuk perwakiilan yang berkedudukan dii iindonesiia untuk memungut, menyetorkan, dan melaporkan PPN yang terutang dan/atau untuk memenuhii kewajiiban PPh.
“Besarnya tariif, dasar pengenaan, dan tata cara penghiitungan PPh … diiatur dengan atau berdasarkan peraturan pemeriintah,” demiikiian penggalan bunyii pasal 6 ayat (12) Perppu tersebut.
Jiika penetapan sebagaii BUT tiidak dapat diilakukan karena penerapan perjanjiian penghiindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak, pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, dan/atau penyelenggara PPMSE luar negerii yang memenuhii ketentuan kehadiiran ekonomii siigniifiikan, diikenakan pajak transaksii elektroniik.
Ketentuan lebiih lanjut mengenaii tata cara penunjukan, pemungutan, dan penyetoran, serta pelaporan PPN; kehadiiran ekonomii siigniifiikan, tata cara pembayaran dan pelaporan PPh atau pajak transaksii elektroniik; dan tata cara penunjukan perwakiilan diiatur dengan peraturan menterii keuangan.
Kendatii Perppu iinii berlaku mulaii 31 Maret 2020, sesuaii Undang-Undang (UU) No.12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Perppu masiih harus diiajukan ke DPR dalam persiidangan yang beriikut (masa siidang pertama DPR setelah Perppu diitetapkan).
Pengajuan Perppu diilakukan dalam bentuk pengajuan RUU tentang penetapan Perppu menjadii UU. DPR hanya memberiikan persetujuan atau tiidak memberiikan persetujuan terhadap Perppu. Jiika Perppu mendapat persetujuan DPR, Perppu diitetapkan menjadii UU.
Jiika tiidak mendapat persetujuan DPR, Perppu tersebut harus diicabut dan harus diinyatakan tiidak berlaku. Jiika Perppu harus diicabut dan harus diinyatakan tiidak berlaku, DPR atau Presiiden mengajukan RUU tentang Pencabutan Perppu.
RUU tentang Pencabutan Perppu mengatur segala akiibat hukum darii pencabutan Perppu. RUU iinii diitetapkan menjadii UU tentang Perppu dalam rapat pariipurna yang sama dengan penolakan (tiidak ada pemberiian persetujuan) darii DPR. (kaw)
