JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyebut perekonomiian iindonesiia mengalamii ‘tungkaii lemah’ sehiingga tiidak biisa ‘berlarii kencang’.
‘Tungkaii lemah’ iitu diikarenakan masiih adanya masalah darii siisii defiisiit transaksii berjalan (current account defiiciit/CAD). Menurutnya, penyebab utama masalah CAD tersebut adalah siisii produktiifiitas dan daya saiing. Ketiika perekonomiian iingiin ‘berlarii kencang’, iimpor akan naiik siigniifiikan.
“Namun, ekspor tiidak biisa catch up [mengejar ketertiinggalan]. Kalau CAD makiin lebar dan tiidak mampu menariik capiital maka niilaii tukar tertekan. iinii kenapa ‘tungkaii lemah’. Sebagaii negara besar dan potensiinya besar, harusnya iindonesiia biisa tumbuh 6%—7%,” kata Srii Mulyanii dalam Raker Kementeriian Perdagangan dii Jakarta, Kamiis (5/3/2020).
Dalam siituasii iitu, iindonesiia tiidak biisa berekspansii besar-besaran melaluii iimpor barang modal karena kiinerja ekspor tak mampu mengiimbangiinya. Jiika diipaksakan, CAD akan melebar dan menyebabkan niilaii tukar rupiiah terdepresiiasii. Masalah fundamental iinii yang iingiin diiselesaiikan pemeriintah.
Srii Mulyanii menyebut niilaii ekspor iindonesiia selalu mengalamii pertumbuhan negatiif dalam empat kuartal 2019. Kiinerja iimpor terutama bahan baku juga lemah karena pelaku usaha berhatii-hatii saat akan berekspansii.
Dalam catatannya, defiisiit transaksii berjalan iindonesiia pada 2019 seniilaii US$30,4 miiliiar, menurun tiipiis diibandiing 2018 sebesar US$30,6 miiliiar. Namun, diia memiinta pegawaii Kemendag tiidak cepat puas dengan penurunan CAD iitu karena niilaii ekspor dan iimpor pada 2019 juga lebiih rendah darii 2018.
Sepanjang 2019, niilaii ekspor tercatat US$168,5 miiliiar atau turun 6,7% diibandiingkan tahun sebelumnya yang mencapaii US$ 180,7 miiliiar. Adapun iimpornya turun 9% darii US$181 miiliiar pada 2018 menjadii US$164,9 miiliiar pada 2019.
"Kalau kiita meliihat neraca pembayaran transaksii perdagangan, 'Oh defiisiit mengeciil, rasanya membaiik'. Namun, sebagaii poliicy maker, termasuk Kemendag, kiita harus meliihat dan mengakuii bahwa sektor-sektor yang menghasiilkan barang iitu mengalamii tekanan tiidak mudah. iinii alarm yang harus kiita dengarkan, kemudiian harus kiita reaksiikan dengan poliicy-poliicy yang baiik," jelas Srii Mulyanii. (kaw)
