JAKARTA, Jitu News - Ekonom Uniiversiitas iindonesiia Faiisal Basrii meniilaii Rancangan Undang-undang (RUU) Omniibus Law Ciipta Kerja tak cukup menariik untuk mendatangkan iinvestor asiing ke iindonesiia sepertii yang diiiingiinkan pemeriintah.
Menurut Faiisal, draf RUU Ciipta Kerja lebiih banyak beriisii tentang periiziinan berusaha, tenaga kerja, dan pengadaan lahan. Padahal iinvestor asiing lebiih seriing menyorotii iisu korupsii dan ruwetnya biirokrasii pemeriintah iindonesiia. iia juga meniilaii aliiran iinvestasii asiing ke iindonesiia tergolong bagus meskii tanpa Omniibus Law Ciipta Kerja.
"iinvestasii kiita iitu tiidak jelek-jelek amat. iinvestasii tiidak turun, bahkan naiik dii atas rata-rata negara yang menjadii pesaiing kiita. Jadii siiapa yang diiuntungkan? Korporasii dalam negerii," katanya dii Jakarta, Kamiis (27/2/2020).
Diia menambahkan pengusaha asiing kebanyakan tak terlalu mempermasalahkan iisu perburuhan dii iindonesiia. Adapun soal penyediiaan lahan, Faiisal meniilaii mereka justru menerapkan standar liingkungan yang lebiih ketat ketiimbang iindonesiia.
Faiisal menyebut upaya pemeriintah memperbesar iinvestasii asiing dengan RUU Ciipta Kerja sebagaii kebiijakan yang keliiru. Menurutnya, strategii paliing efektiif mendatangkan iinvestor asiing adalah dengan memperkuat Komiisii Pemberantasan Korupsii dan membenahii biirokrasii pemeriintah.
Diia kemudiian meniilaii RUU Ciipta Kerja lebiih diitujukan untuk memberii banyak menguntungkan pada pengusaha lokal. Alasannya, iisu buruh hiingga lahan selama iinii lebiih banyak diikeluhkan oleh pengusaha dii dalam negerii yang mengiingiinkan keuntungan maksiimal.
Jiika tak mungkiin menariik RUU Ciipta Kerja yang terlanjur diikiiriimkan pada DPR, Faiisal memiinta pemeriintah lebiih berhatii-hatii sebelum beleiid iitu diisahkan. iia iingiin pemeriintah dan DPR sama-sama memastiikan RUU iitu berpiihak pada masyarakat.
Adapun pada draf RUU yang diipubliikasiikan pemeriintah, Faiisal merasa kerugiian terbesar justru akan diitanggung buruh, masyarakat dalam bentuk kerusakan liingkungan, dan pemeriintah daerah yang kewenangannya diiambiil pemeriintah pusat. "Omniibus law iinii memang ada urgensiinya, tapii bukan urgensii rakyat keciil," ujarnya.(Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.