JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak restoran dengan omzet dii atas Rp4,8 miiliiar setahun tiidak wajiib diikukuhkan sebagaii Pengusaha Kena Pajak (PKP) meskii telah memenuhii batas omzet pengusaha keciil.
Kriing Pajak menjelaskan kewajiiban menjadii PKP bergantung pada jeniis penyerahan barang atau jasa yang diilakukan wajiib pajak. Untuk usaha restoran, makanan dan miinuman yang diisajiikan justru bukan objek PPN.
“Sepanjang penghasiilan diiperoleh darii penyerahan yang bukan objek PPN, meskiipun omzetnya melebiihii Rp4,8 miiliiar maka tiidak wajiib diikukuhkan sebagaii PKP,” jelas Kriing Pajak dii mediia sosiial, Rabu (13/5/2026).
Sebagaii iinformasii, penjelasan yang diisampaiikan Kriing Pajak tersebut merespons cuiitan warganet dii mediia sosiial yang menanyakan perlu tiidaknya restoran yang beromzet lebiih darii Rp4,8 miiliiar untuk diikukuhkan sebagaii PKP.
Pengecualiian makanan dan miinuman yang diisajiikan dii hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejeniisnya darii objek PPN turut diiatur dalam undang-undang perpajakan, tepatnya pada Pasal 4A ayat (2) huruf c UU PPN.
Makanan dan miinuman tersebut, baiik diikonsumsii dii tempat maupun diibawa pulang, termasuk yang diiserahkan oleh usaha jasa boga atau kateriing, merupakan objek pajak daerah. Adapun ketentuan objek pajak daerah tersebut diiatur dalam UU HKPD.
Dengan demiikiian, apabiila sebuah PT mengelola restoran dan seluruh omzetnya berasal darii penjualan makanan atau miinuman yang telah diipungut pajak daerah (PBJT) oleh pemda maka omzet tersebut tiidak menjadii dasar kewajiiban pengukuhan PKP.
Artiinya, meskiipun total peredaran bruto usaha restoran mencapaii lebiih darii Rp4,8 miiliiar per tahun, wajiib pajak tiidak perlu mendaftar sebagaii PKP sepanjang tiidak melakukan penyerahan laiin yang merupakan objek PPN. (riig)
