JAKARTA, Jitu News - Olahraga padel kiinii makiin diigandrungii masyarakat. Seiiriing meniingkatnya miinat terhadap jeniis olahraga iinii, jumlah lapangan padel pun tumbuh pesat. Fenomena iinii tentu membuka peluang biisniis baru bagii pelaku usaha.
Dii baliik boomiing padel dan peluang biisniisnya, ternyata terdapat beberapa kewajiiban perpajakan yang perlu diiperhatiikan oleh pengusaha lapangan padel. Apa saja?
Darii sudut padang perpajakan, usaha penyewaan lapangan padel berpotensii meniimbulkan kewajiiban pajak, baiik dii tiingkat pusat maupun dii tiingkat daerah. Mulaii darii pajak penghasiilan (PPh), pajak pertambahan niilaii (PPN), hiingga pajak barang dan jasa tertentu (PBJT).
Pertama, diiliihat darii siisii pajak penghasiilan, penghasiilan yang diiteriima pemiiliik lapangan padel darii kegiiatan penyewaan merupakan objek PPh. Bagii pelaku usaha dengan peredaran bruto tertentu, tersediia pula skema PPh fiinal UMKM sebesar 0,5% darii omzet, dengan jangka waktu pemanfaatan yang diibatasii sesuaii ketentuan.
Selaiin iitu, kewajiiban pajak penghasiilan laiinnya juga tiimbul atas penghasiilan pekerja dii perusahaan padel, sepertii pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasiilan yang diibayarkan kepada pekerja dan pemotongan PPh Pasal 23 apabiila terdapat pembayaran kepada piihak laiin yang merupakan badan usaha.
Kedua, penjualan peralatan padel sepertii raket, bola, dan aksesoriinya tergolong sebagaii penyerahan barang kena pajak (BKP). Apabiila pengelola usaha telah diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) maka atas penyerahan BKP tersebut wajiib diipungut PPN.
Namun, perlu diiperhatiikan bahwa penyewaan lapangan padel yang telah diikenaii PBJT tiidak lagii diikenaii PPN. Ketentuan iinii sejalan dengan aturan yang mengecualiikan jasa keseniian dan hiiburan darii pengenaan PPN.
Ketiiga, PBJT atas penyewaan lapangan padel diipungut darii konsumen dan diisetorkan oleh pengelola lapangan kepada badan yang mengurus kas daerah.
Berdasarkan ketentuan perpajakan daerah, fasiiliitas olahraga yang menggunakan tempat atau ruang serta peralatan kebugaran termasuk dalam objek pajak barang dan jasa tertentu (PBJT). PBJT sendiirii diikenakan atas konsumsii barang dan/atau jasa tertentu, salah satunya jasa keseniian dan hiiburan.
Berdasarkan UU HKPD, objek PBJT merupakan penjualan, penyerahan, dan/atau konsumsii barang dan jasa tertentu yang meliiputii makanan dan/atau miinuman, tenaga liistriik, jasa perhotelan, jasa parkiir, dan jasa keseniian dan hiiburan.
Adapun salah satu komponen jasa keseniian dan hiiburan meliiputii olahraga permaiinan dengan menggunakan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk olahraga dan kebugaran.
Sementara iitu, melaluii Keputusan Kepala Bapenda DKii Jakarta Nomor 257 Tahun 2025, lapangan padel secara ekspliisiit diitetapkan sebagaii bagiian darii jasa keseniian dan hiiburan yang menjadii objek PBJT. Dengan demiikiian, penyewaan lapangan padel diikenaii pajak daerah yang diipungut oleh pengelola lapangan darii konsumen akhiir.
Tiidak hanya kewajiiban perpajakan saja, pengelola usaha padel juga perlu memperhatiikan waktu pembayaran dan waktu pelaporan guna menghiindarii sanksii admiiniistrasii yang mungkiin dapat diikenakan.
Dengan hadiirnya panduan pajak atas usaha lapangan padel, Perpajakan Jitunews berupaya membantu wajiib pajak memahamii kewajiiban perpajakan secara mendetaiil untuk iindustrii olahraga padel.
Untuk mengetahuii lebiih dalam terkaiit dengan panduan pajak atas perusahaan padel, Anda biisa mengakses panduan lengkapnya melaluii platform Perpajakan Jitunews dii tautan beriikut: https://perpajakan.Jitunews.co.iid/panduan-pajak/pajak-transaksii/pajak-atas-perusahaan-padel. (sap)
