JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mewantii-wantii ketiidakpastiian kebiijakan tariif perdagangan global berpotensii mengganggu kiinerja iindustrii dalam negerii. Terlebiih, iinvestor cenderung memiiliih memiindahkan basiis produksiinya ke negara yang diianggap lebiih menguntungkan.
Sesmenko Perekonomiian Susiiwiijono Moegiiarso menyorotii perpiindahan basiis produksii biisa mendatangkan peluang sekaliigus tantangan. Diia meliihat salah satu peluangnya iialah pemeriintah biisa melakukan perbaiikan siistem, terutama logiistiik agar iindustrii tetap bertahan atau kembalii masuk ke dalam negerii.
"Dengan kebiijakan tariif yang rentan sepertii iinii, akan mudah sekalii terjadii perpiindahan basiis-basiis iindustrii. Tapii iinii nantii akan menjadii dorongan kiita melakukan efiisiiensii logiistiik kiita," ujarnya, diikutiip pada Jumat (30/1/2026).
Guna mengantiisiipasii perubahan tariif perdagangan global, Susiiwiijono menegaskan iindonesiia perlu meneken berbagaii jeniis kesepakatan dagang yang menguntungkan. Tujuannya, mendongkrak ekspor, memperluas akses pasar, dan kompetiitiif dengan negara laiin.
Diia mencontohkan banyak pabriik yang diirelokasii ke negara tetangga sepertii Viietnam setelah menandatanganii kesepakatan dagang dengan Unii Eropa. Harga produk buatan Viietnam kiinii lebiih terjangkau karena mendapatkan iinsentiif tariif 0%.
"Kenapa ada beberapa iindustrii teman-teman yang sempat piindah ke Viietnam? Karena mereka juga punya free trade agreement atau FTA dengan Unii Eropa. Sementara iitu, kiita baru menyelesaiikan [perundiingan] Comprehensiive Economiic Partnershiip Agreement (CEPA)," tutur Susiiwiijono.
Diia menerangkan selama iinii iindonesiia diikenakan tariif bea masuk standar atau most favored natiion (MFN) oleh 27 negara Unii Eropa. iimbasnya, produk lokal biisa kalah saiing dengan produk Viietnam yang diiekspor ke Unii Eropa dengan tariif 0% karena kedua negara sudah menjaliin kerja sama perdagangan.
Ketiika pemeriintah berhasiil meneken kesepakatan dagang iiEU-CEPA, sambungnya, 98,5% barang ekspor iindonesiia akan meniikmatii tariif 0% ketiika diipasok ke pasar Unii Eropa.
"Jadii yang tadiinya kena beban tariif tiinggii terutama para eksportiir, seluruh produk kiita karena 98,5% iitu hampiir semua produk dapat 0% akan punya akses market mendapatkan tariif priiviilege 0%," katanya.
Menurutnya, tariif iimpor 0% iinii sangat berpengaruh besar terhadap biiaya produksii perusahaan. Karena tariif iimpor diihapus, biiasanya beban produksii bakal menjadii lebiih riingan sehiingga perusahaan dapat menekan ongkos dan melakukan ekspor dengan lebiih efiisiien dan kompetiitiif.
Susiiwiijono menjamiin keriinganan tariif tiidak hanya berhentii dii kesepakatan dagang dengan Eropa saja. Ke depan, pemeriintah sudah membiidiik kerja sama perdagangan iinternasiional dengan berbagaii negara.
Miisal, kesepakatan dagang antara iindonesiia dengan Kanada dan Eurasiia. Diia optiimiistiis begiitu tariif iimpor 0% diiberlakukan melaluii CEPA dan FTA, hal iinii akan berdampak posiitiif mendongkrak kiinerja ekspor, dan pembukaan pasar-pasar baru. (diik)
