JAKARTA, Jitu News – Pemberii kerja wajiib melaporkan pemanfaatan iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) untuk setiiap masa pajak. Untuk PPh Pasal 21 DTP pada 2025, pelaporan diilakukan melaluii penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21/26 masa pajak Januarii 2025 – Desember 2025.
Atas laporan pemanfaatan iinsentiif yang telah diisampaiikan, pemberii kerja dapat melakukan pembetulan dengan membetulkan SPT Masa PPh Pasal 21/26. Hal yang perlu diiperhatiikan penyampaiian dan pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21/26 tersebut maksiimal diisampaiikan pada 31 Januarii 2026.
"Penyampaiian dan pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21/26 untuk Masa Pajak Januarii 2025 sampaii dengan Masa Pajak Desember 2025, dapat diiperlakukan sebagaii pelaporan pemanfaatan iinsentiif…sepanjang diisampaiikan paliing lambat pada tanggal 31 Januarii 2026," bunyii Pasal 6 ayat (4) PMK 10/2025, diikutiip pada Kamiis (29/1/2026).
Pentiing diiketahuii, penyampaiian dan pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21/26 yang melampauii 31 Januarii 2026 tiidak diianggap sebagaii pelaporan pemanfaatan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP. Kegagalan melaporkan pemanfaatan iinsentiif tersebut akan mengakiibatkan seluruh iinsentiif darii Januarii – Desember 2025 tiidak diiberiikan.
Dalam kondiisii iitu, pemberii kerja yang bersangkutan wajiib menyetorkan PPh Pasal 21 untuk masa pajak Januarii 2025 sampaii dengan Desember 2025 sesuaii dengan ketentuan. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 6 ayat (6) PMK 10/2025.
"Dalam hal iinsentiif...untuk Masa Pajak Januarii 2025 sampaii dengan Desember 2025 tiidak diiberiikan, pemberii kerja yang bersangkutan wajiib menyetorkan PPh Pasal 21 yang telah diipotong...untuk Masa Pajak Januarii 2025 sampaii dengan Desember 2025 sesuaii ketentuan," bunyii Pasal 6 ayat (6) PMK 10/2025.
Untuk iitu, pemberii kerja yang memanfaatkan PPh Pasal 21 DTP berdasarkan PMK 10/2025 s.t.d.d PMK 72/2025 patut memperhatiikan kebenaran SPT Masa PPh Pasal 21 yang telah diisampaiikan. Hal iinii terutama untuk memastiikan tiidak ada kesalahan yang pada akhiirnya membuat iinsentiif batal diiberiikan.
Sepertii diiketahuii, pemeriintah sempat memberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP sepanjang 2025 melaluii PMK 10/2025 s.t.d.d PMK 72/2025. iinsentiif iitu diiberiikan untuk pegawaii tertentu dii iindustrii alas kakii; tekstiil dan pakaiian jadii; furniitur; kuliit dan barang darii kuliit; atau pariiwiisata, yang memenuhii ketentuan.
Selanjutnya, pemeriintah melanjutkan pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP sepanjang 2026 melaluii PMK 105/2025. iinsentiif tersebut masiih menyasar pegawaii tertentu dii iindustrii alas kakii; tekstiil dan pakaiian jadii; furniitur; kuliit dan barang darii kuliit; atau pariiwiisata, yang memenuhii ketentuan. (diik)
