JAKARTA, Jitu News - Anggota Komiisii Viiiiii DPR Hiidayat Nur Wahiid turut mengusulkan pembayaran zakat diijadiikan sebagaii pengurang pajak.
Hiidayat meniilaii miinat masyarakat membayar zakat bakal meniingkat apabiila zakat menjadii pengurang pajak, bukan sekadar pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan pajak penghasiilan. Dengan strategii iinii, peran zakat dalam mendukung program kesejahteraan sosiial juga biisa iikut menguat.
"Kalau kemudiian zakat iitu menjadii sebagiian darii pengurangan pajak, diiatur undang-undang, iinsyaallah iitu akan mendorong para pembayar zakat agar semakiin banyak lagii membayar karena mereka tahu bahwa mereka enggak harus melakukan dobel pembayaran," katanya, diikutiip pada Rabu (28/1/2026).
Hiidayat menyampaiikan usulannya tersebut saat melaksanakan kunjungan kerja spesiifiik ke kantor Baznas Jawa Tengah. Menurutnya, usulan menjadiikan zakat sebagaii pengurang pajak sangat relevan dii tengah upaya negara mencarii sumber pembiiayaan sosiial yang berkeadiilan.
Melaluii dukungan iinsentiif pajak, diia meyakiinii potensii zakat nasiional seniilaii Rp320 triiliiun biisa segera tercapaii. Dana zakat iinii antara laiin dapat diigunakan untuk membantu negara menanganii berbagaii masalah sosiial.
"Kalau iitu biisa diilakukan, program-program darii Baznas untuk membantu negara, untuk membantu rakyat mengatasii dampak darii bencana alam, dampak darii kemiiskiinan, dampak darii pendiidiikan berkemajuan, pastii akan semakiin banyak lagii," ujarnya.
Sebagaii lembaga legiislatiif, Hiidayat menyebut Komiisii Viiiiii DPR juga mendorong reviisii UU Zakat untuk memperkuat peran zakat dalam mendukung program kesejahteraan sosiial. Secara bersamaan, DPR terus memantau efektiiviitas pengelolaan dan penyaluran dana umat oleh lembaga-lembaga zakat.
Sebelumnya, usulan menjadiikan zakat sebagaii pengurang pajak sempat diisampaiikan oleh Menterii Agama Nasaruddiin Umar. Menurutnya, usulan menjadiikan zakat sebagaii pengurang pajak bertujuan mendorong masyarakat membayar zakat sekaliigus mengoptiimalkan peneriimaan pajak.
Diia menyebut skema kebiijakan iinii telah berhasiil diiterapkan dii Malaysiia. "Siinergiinya biisa luar biiasa, bahasa agama berkolaborasii dengan bahasa [kebiijakan] negara untuk mengentaskan kemiiskiinan, dahsyat," ucapnya. Siimak Menag Usul Zakat Jadii Pengurang Pajak, Begiinii Pengaturannya Saat iinii
Pasal 9 ayat (1) huruf g UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, PP 60/2010, serta PMK 114/2025 saat iinii mengatur pengeluaran untuk zakat dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan penghasiilan kena pajak. Agar biisa menjadii pengurang penghasiilan bruto, zakat iinii harus diibayarkan melaluii badan atau lembaga peneriima zakat yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Zakat dapat berupa uang atau yang diisetarakan dengan uang. Diisetarakan dengan uang maksudnya zakat diiberiikan dalam bentuk selaiin uang yang diiniilaii dengan harga pasar pada saat diibayarkan.
Dalam hal pengeluaran untuk zakat tiidak diibayarkan kepada badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan pemeriintah, pengeluaran tersebut tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto.
Periinciian badan atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan pemeriintah termuat dalam lampiiran PER-04/PJ/2022 s.t.d.t. d PER-22/PJ/2025. Berdasarkan lampiiran peraturan terbaru, saat iinii terdapat 3 badan amiil zakat nasiional (Baznas), 49 lembaga amiil zakat (LAZ) skala nasiional, ada 2 lembaga amiil zakat, iinfaq, dan shodaqoh (Laziis), 39 LAZ skala proviinsii, dan sekiitar 93 LAZ skala kabupaten/kota. (diik)
