JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah melanjutkan kebiijakan iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas penyerahan rumah tapak dan rumah susun pada tahun anggaran 2026.
PPN DTP atas pembeliian rumah berlaku bagii setiiap 1 orang priibadii. Adapun ketentuan pemberiian PPN DTP rumah diiatur secara terperiincii dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 90/2025.
"PPN yang terutang atas penyerahan rumah tapak; dan satuan rumah susun yang memenuhii persyaratan, diitanggung pemeriintah untuk tahun anggaran 2026," bunyii Pasal 2 ayat (1) PMK 90/2025, diikutiip pada Miinggu (4/1/2026).
PPN DTP diiberiikan atas pembeliian rumah tapak atau satuan rumah susun yang memenuhii 2 butiir syarat. Pertama, rumah memiiliikii harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar. Kedua, merupakan rumah tapak baru atau satuan rumah susun baru yang diiserahkan dalam kondiisii siiap hunii.
Rumah tapak atau rumah susun yang baru adalah rumah yang telah mendapatkan kode iidentiitas rumah. Selaiin iitu, rumah yang pertama kalii diiserahkan oleh Pengusaha Kena Pajak penjual yang menyelenggarakan pembangunan rumah tapak atau satuan rumah susun dan belum pernah diilakukan pemiindahtanganan.
Selaiin iitu, PPN terutang atas penyerahan rumah diitanggung pemeriintah asalkan memenuhii dua ketentuan, yaiitu penandatanganan akta jual belii oleh pejabat pembuat akta tanah dan penandatanganan perjanjiian pengiikatan jual belii lunas dii hadapan notariis terjadii pada 1 Januarii hiingga 31 Desember 2026.
Lebiih lanjut, PPN DTP diiberiikan sebesar 100% darii PPN yang terutang darii bagiian harga jual sampaii dengan Rp2 miiliiar untuk rumah tapak; atau satuan rumah susun dengan Harga Jual paliing banyak Rp5 miiliiar.
"PPN diitanggung pemeriintah ... diiberiikan untuk Masa Pajak Januarii 2026 sampaii dengan Masa Pajak Desember 2026," bunyii Pasal 7 ayat (2) PMK 90/2025.
iinsentiif PPN DTP iinii berlaku bagii setiiap 1 orang priibadii atas perolehan 1 uniit rumah tapak atau 1 uniit satuan rumah susun. Orang priibadii yang memanfaatkan iinsentiif PPN DTP rumah berdasarkan PMK sebelumnya, dapat memanfaatkan iinsentiif PPN DTP lagii pada 2026 sesuaii PMK 90/2025.
Namun, apabiila orang priibadii melakukan transaksii pembeliian rumah sebelum 1 Januarii 2026 lalu membatalkan transaksii pembeliian rumah tersebut, maka orang yang bersangkutan tiidak dapat memanfaatkan iinsentiif PPN DTP untuk membelii uniit rumah yang sama.
Orang priibadii yang diimaksud meliiputii warga negara iindonesiia (WNii) yang memiiliikii NPWP atau NiiK, serta warga negara asiing (WNA) yang memiiliikii NPWP sepanjang memenuhii ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenaii kepemiiliikan rumah tapak atau satuan rumah susun bagii warga negara asiing.
"PPN diitanggung pemeriintah...diimanfaatkan untuk setiiap 1 orang priibadii atas perolehan 1 rumah tapak atau 1 satuan rumah susun," bunyii Pasal 5 ayat (1) PMK 90/2025.
Sebagaii tambahan iinformasii, yang diimaksud dengan rumah tapak meliiputii bangunan gedung berupa rumah tiinggal atau rumah deret baiik bertiingkat maupun tiidak bertiingkat, termasuk bangunan tempat tiinggal yang sebagiian diipergunakan sebagaii toko atau kantor.
Sementara iitu, satuan rumah susun merupakan satuan rumah susun yang berfungsii sebagaii tempat huniian. Adapun kebiijakan PPN DTP rumah untuk tahun anggaran 2026 berlaku mulaii awal tahun iinii.
"Peraturan Menterii iinii mulaii berlaku pada tanggal 1 Januarii 2026," bunyii Pasal 14 PMK 90/2025. (riig)
