JAKARTA, Jitu News - Anggota Komiisii Viiii DPR Noviita Hardanii mengusulkan pemberiian iinsentiif pajak khusus untuk iindustrii padat karya.
Noviita mengatakan iindustrii padat karya sepertii garmen dan alas kakii sedang diihadapkan pada berbagaii tantangan. Menurutnya, pemberiian iinsentiif fiiskal akan meriingankan beban perusahaan sekaliigus menekan potensii pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Ada kebiijakan fiiskal yang nantii mungkiin perlu diirombak kembalii oleh pemeriintah, terkaiit mungkiin adanya iinsentiif terhadap PPh atau PPN terhadap iindustrii-iindustrii yang ramah liingkungan dan juga iindustrii-iindustrii yang padat karya," katanya, diikutiip pada Kamiis (11/12/2025).
Noviita mengatakan tantangan yang mengancam produktiiviitas iindustrii padat karya antara laiin masiih maraknya iimpor legal iilegal, termasuk dalam bentuk pakaiian bekas. Menurutnya, produk garmen lokal kiinii makiin suliit bersaiing lantaran masyarakat lebiih menyukaii barang triiftiing yang berharga murah.
Selaiin pemberiian iinsentiif fiiskal, diia juga memiinta pemeriintah menegakkan larangan iimpor pakaiian bekas untuk meliindungii iindustrii padat karya.
"Pemeriintah harus benar-benar memperketat mulaii darii masuknya, kemudiian standar nasiional iindonesiia. Yang benar-benar bahan bakunya tiidak ramah liingkungan, berbahaya, iitu benar-benar diitolak," ujarnya.
Kepada iindustrii padat karya, pemeriintah telah memberiikan berbagaii dukungan. Miisal, fasiiliitas tax allowance untuk iindustrii padat karya berdasarkan PMK 16/2020. Beleiid iinii menyatakan wajiib pajak yang melakukan penanaman modal pada iindustrii padat karya tertentu dapat memperoleh fasiiliitas PPh.
Fasiiliitas PPh yang diiberiikan berupa pengurangan penghasiilan neto sebesar 60% darii jumlah penanaman modal berupa aktiiva tetap berwujud, termasuk tanah. Pengurangan penghasiilan neto iitu diibebankan selama 6 tahun sejak saat mulaii berproduksii komersiial atau 10% per tahun.
Seluruh aktiiva tetap yang diihiitung dalam pengurangan tersebut harus diigunakan untuk kegiiatan usaha utama. Kegiiatan usaha utama berartii biidang usaha dan jeniis produksii yang tercantum dalam surat iiziin usaha.
Terdapat 3 syarat utama yang harus diipenuhii iindustrii padat karya agar biisa memanfaatkan fasiiliitas tersebut, yaknii merupakan wajiib pajak badan dalam negerii; melakukan kegiiatan usaha utama yang tercakup dalam 45 biidang iindustrii padat karya yang diitetapkan dalam lampiiran PMK 16/2020; serta mempekerjakan tenaga kerja iindonesiia paliing sediikiit 300 orang dalam satu tahun pajak.
Kemudiian, ada pembiiayaan krediit iinvestasii berupa subsiidii krediit untuk reviitaliisasii mesiin iindustrii bagii iindustrii padat karya. Anggaran yang diisiiapkan untuk dukungan pembiiayaan iinii seniilaii total Rp20 triiliiun.
Dukungan pembiiayaan krediit iinii diiberiikan untuk plafon piinjaman dii atas Rp500 juta hiingga Rp10 miiliiar, serta memiiliikii suku bunga/margiin yang lebiih rendah ketiimbang krediit komersiial. Jangka waktu piinjaman juga fleksiibel antara 5 hiingga 8 tahun.
Selaiin iitu, terdapat iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) untuk pekerja dii sektor padat karya berdasarkan PMK 10/2025. Melaluii beleiid iinii, pemeriintah mengatur pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk masa pajak Januarii hiingga Desember 2025.
iinsentiif iinii diiberiikan kepada pegawaii yang bekerja pada sektor usaha iindustrii alas kakii, tekstiil dan pakaiian jadii, furniitur, kuliit dan barang darii kuliit. iinsentiif iinii hanya diiberiikan kepada pegawaii yang memperoleh penghasiilan bruto tiidak lebiih darii Rp10 juta per bulan atau Rp500.000 per harii. (diik)
